PERNAH DENGAR NAMA FEYERABEND, BUKAN?

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Paul Karl Feyerabend (1924-1994) adalah seorang ahli filsafat sains kelahiran Austria, dan profesor filsafat di Universitas California, Berkeley. Salah satu karyanya yang paling terkemuka adalah Against Method (terbit pada tahun 1975). Feyerabend terkenal karena pandangan anarkisnya tentang sains dan penolakannya terhadap keberadaan aturan metodologis universal dalam pengetahuan.

Dia terkenal mengatakan bahwa, karena tidak ada metode ilmiah yang fixed, maka yang terbaik adalah memiliki sikap “apa pun oke” (anything goes) dalam hal metodologi ini. Feyerabend merasa bahwa sains mulai sebagai gerakan yang membebaskan, tetapi seiring berjalannya waktu ia menjadi semakin dogmatis dan kaku. Oleh karena itu, makin lama ia semakin menjadi ideologi.

Feyerabend membuat perbandingan antara satu paradigma ilmiah yang dominan atas paradigma yang lain, dan mendapati bahwa dominasi itu diraih dengan cara yang sama dengan bagaimana mitos diadaptasi dan diapropriasi si masa lampau. Feyerabend berpendapat, sejalan dengan Imre Lakatos, bahwa klaim objektif sains dari pseudosains hampir-hampir tidak  dapat dibedakan.

Feyerabend juga mencatat bahwa keberhasilan sains tidak semata-mata karena metodenya sendiri, tetapi juga karena telah mengambil pengetahuan dari sumber-sumber yang tidak ilmiah. Pada gilirannya gagasan bahwa tidak ada pengetahuan di luar sains adalah ‘dongeng peri’ yang hanya diyakini oleh para dogmatis yang mendistorsi sejarah demi kenyamanan lembaga-lembaga ilmiah. Misalnya, Copernicus sangat dipengaruhi oleh Pythagoras, yang pandangannya tentang dunia sebelumnya telah ditolak sebagai mistis dan irasional. Tulisan hermetik juga memainkan peran penting dalam karya Copernicus dan Newton. Kenyataannya ada pengetahuan astronomi yang sudah dirumuskan secara akurat sejak Zaman Batu,  Penemuan pra-modern seperti rotasi tanaman, tanaman hibrida, penemuan kimia dan pencapaian arsitektur yang belum dipahami—seperti piramida—adalah contoh-contoh yang mematahkan anggapan bahwa sains adalah satu-satunya cara untuk mencapai pengetahuan. Masih ada beberapa pandangan lain Feyerabend yang mengorak kemapanan klaim-klaim pongah sains.

Baca Juga:  Yusuf Al-Qaradhawi: Upaya Meluruskan Dikotomi antara Agama dan Politik

Tapi kan banyak yang mengritik pandangan Feyerabend? Betul. Tapi, bukankah kritik hanyalah kritik? Sebagaimana kritik bisa benar atau salah, yang dikritik juga bisa benar bisa salah.

Baik, kata Anda. Tapi kan sains modern juga punya metode verifikasi—yang disebut sebagai context of justification di samping context of discovery-nya? Bisa saja sains mengambil dari mitos atau sumber-sumber mistis dan hermetik, tapi sains berhasil menjustifikasi kebenaran teori yang ditemukan itu secara ilmiah. Kalau itu pembelaan Anda terhadap sains, tahukah Anda bahwa filsafat, bahkan agama juga punya metode verifikasinya yang tak kalah rasional (koheren secara logis)— yang tak lain juga merupakan salah satu pilar metoda saintifik—meski barangkali tidak empiris? Di luar itu, khususnya agama dan bahkan kebenaran-kebenaran mistis, punya caranya sendiri dalam berupaya membuktikan kebenaran-kebenaran teorinya melalui berbagai cara lain. Pernah baca The Varieties of Religious Experience-nya William James, misalnya? Agama, dan juga kebenaran-kebenaran mistik pun juga meng-employ daya imajinasi, sebagai salah satu daya yang juga dipakai dalam penemuan-penemuan sains. Tidak tahu soal ini? Baca tulisan saya setelah ini.

0 Shares:
You May Also Like