MANUSIA DAN KEMUNGKINAN ULTIMNYA DALAM AL-QUR’AN

Apa dan siapakah manusia? Apakah kemungkinan ultim manusia? Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang diajukan oleh manusia sejak dulu hingga sekarang, juga menjadi pertanyaan yang menarik untuk dipecahkan. Berbagai pandangan dan spekulatif tentang manusia muncul, mulai dari zaman filsuf Yunani klasik, seperti Plato, Aristoteles dan para filsuf setelahnya. Aristoteles misalnya, mendefenisikan manusia sebagai animal rational, atau hewan yang berpikir.

Lalu, pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa kemungkinan ultim dari manusia yang paling utama adalah meraih kebahagiaan (P.A. Van der Weij, 2017: 44-45). Namun, berbagai pandangan atau defenisi tentang manusia ini, sepertinya masih belum memuaskan. Sehingga, kesimpulan dari pandangan-pandangan tersebut seolah bersifat kontingen, dan masih terus berkembang di masa-masa selanjutnya.

Tidak hanya dalam tradisi filsafat Barat, pandangan tentang manusia ini pun lahir dan dikembangkan dalam tradisi filsafat Islam. Sejumlah filsuf Muslim, seperti al-Kindi, Ibn Khaldun hingga filsuf yang juga adalah teolog dan sufi, yaitu al-Ghazali yang turut meramaikan khazanah filsafat Islam, dalam kaitannya dengan pembahasan tentang manusia meskipun dikemas dalam bingkai sufisme. Al-Insānu ayawân al-nāiq, demikian al-Ghazali mendefinisikan manusia, dengan berbagai argumennya.

Dalam agama Islam, pembahasan mengenai manusia dapat ditemukan dalam teks-teks suci Islam itu sendiri. Al-Qur’an yang merupakan teks suci agama Islam, secara umum tidak hanya mengandung kisah-kisah historis, melainkan juga mengandung berbagai macam konsep. Konsep tersebut baik yang bersifat abstrak maupun konkret (Kuntowijoyo, 2007: 12). Dalam hal ini, konsep tentang manusia juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an dan dimunculkan dengan berbagai macam term, seperti basyar, nās, insān dan banī Ādam atau żurriyyah Ādam.

Tidak hanya sebatas itu, Al-Qur’an juga memuat tentang kemungkinan ultim dari makhluk yang bernama manusia ini. Maka dalam tulisan ini, penulis berupaya menyajikan konsep manusia dan kemungkinan ultimnya yang dilihat melalui ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kita berupaya memahami “manusia” dalam perspektif Al-Qur’an, banyak kita temukan di dalamnya yang menyebutkan manusia dengan berbagai macam term. Berbagai macam term yang digunakan untuk menunjuk kepada “manusia”.

Baca Juga:  Menyoal Tren Gaya Hidup Masa Kini: Minimalist Lifestyle ala Jepang atau Zuhud ala Sufi?

Di antaranya, yaitu basyar, nas atau insan dan bani Adam atau zurriyyah Adam. Kata basyar merupakan bentuk jamak dari kata basyarah yang memiliki arti permukaan kulit kepala, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Ibnu Barzah sebagaimana dikutip oleh Musa Asy’arie mengartikannya sebagai kulit luar (Musa Asy’arie, 1992: 20). Manusia disebut sebagai basyar, karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang yang lain.

Kata ini disebutkan dalam Al-Qur’an dalam bentuk mufrad sebanyak 36 kali, dan sekali dalam bentuk muannā untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya, serta persamaannya dengan manusia seluruhnya, baik laki-laki maupun perempuan (Quraish Shihab, 2013: 367-368). Persamaan tersebut berupa menunjukkan kenyataan bahwa seluruh manusia menempati ruang dan waktu serta terikat dengan hukum alam.

Contohnya seperti, manusia membutuhkan makanan dan minuman agar tetap mampu bertahan hidup. Oleh sebab itu, Nabi Muḥammad diperintahkan untuk menyampaikan bahwa ia pun adalah manusia sebagaimana manusia pada umumnya, namun yang menjadi pembeda adalah kenyataan bahwa ia diberikan wahyu oleh Allah, sebagaimana dapat dilihat dalam QS. Al-Kahfi [18]: 110. Kata insān yang memiliki bentuk jamak al-nās merupakan kata yang juga digunakan untuk menunjuk manusia.

Kata ini dikelompokkan dalam kata yang mengandung pengertian mużakkar, namun kadang-kadang digolongkan dalam bentuk muanna yang bermakna ā’ifah atau kelompok masyarakat. Kata ini disebutkan sebanyak 65 kali dalam Al-Qur’an (Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, 2007: 115-116). Kata insān memiliki tiga bentuk asal kata: anasa; nasiya; dan al-uns. Kata bani Adam atau zurriyyah Adam, sebutan lain dalam Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia adalah banī Ādam atau żurriyyah Ādam yang berarti anak cucu atau keturunan Adam.

Baca Juga:  Filsafat Ilmu: Asal Mula Pengetahuan Manusia

Istilah ini memiliki makna yang lebih umum dan mencakup pengertian basyar dan insān. Kata banī Ādam disebut sebanyak delapan kali dalam al-Qur’an, sedangkan żurriyyah Ādam disebut hanya sekali. Dari penjelasan tersebut, kita memandang kemungkinan ultim manusia dalam Al-Qur’an. Kita sampai pada bagian inti dari tulisan ini, yaitu mengetahui apakah kemungkinan ultim bagi manusia sebagai mana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Kata ultim merupakan turunan dari kata latin ultimus yang berarti “terakhir” dalam konteks pembahasan ini, kata “terakhir” tidak diterjemahkan menunjuk kepada waktu, melainkan dalam arti yang lebih mendalam dari pada waktu (Fazlur Rahman, 2017:26). Kemungkinan ultim dapat diartikan sebagai keberadaan manusia. Membicarakan tentang makna terdalam dari keberadaan manusia berarti membicarakan tentang sesuatu yang sangat vital yang menentukan eksistensi dirinya.

Untuk mengetahui pandangan mengenai kemungkinan ultim manusia, tentu dibutuhkan sandaran yang dapat membawa ke arah pemahaman yang lebih mendasar dan berada pada tingkat yang lebih tinggi dari pada sebatas hasil pemikiran manusia. Sandaran tersebut dapat dilihat melalui wahyu Ilahi yang tertuang dalam teks-teks suci agama. Sandaran wahyu dibutuhkan sebab keterbatasan pemikiran yang dimiliki oleh manusia tentang dirinya.

Selain itu, juga ditambah lagi dengan kenyataan bahwa manusia lahir dari suatu proses yang berada di luar kekuasaannya. Sehingga, pengetahuan yang paling memadai tentang dirinya bersumber dari Penciptanya, yakni Tuhan. Maka berdasarkan hal itu, bila dilacak melalui ayat-ayat Al-Qur’an, pandangan tentang kemungkinan ultim manusia dapat ditemukan dalam agama Islam (Sahabuddin, 2002: 151-154).

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa manusia tidaklah diciptakan oleh Allah dengan sia-sia. Dengan kata lain, ia diciptakan dengan maksud tertentu. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Mu’minūn [23]: 115: Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?. Ayat ini mengandung pengertian bahwa manusia memikul tugas atau misi tertentu selama keberadaannya di dunia.

Baca Juga:  KONSEP THUMA’NINAH SEBAGAI UPAYA MENGELOLA KECEMASAN PADA PANDEMI COVID-19

Tugas atau misi tersebut pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan oleh manusia pada saat ia dikembalikan kepada Sang Penciptanya, yaitu Allah swt.[]

Daftar Bacaan:
Al-Baqi, Muḥammad Fu’ad Abd. Al-Mu‘jam Al-Mufahras li Alfā Al-Qur’ān Al- Karīm. Kairo: Dār al-Hadīṡ. 2007.
Asy’arie, Musa. Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Alqur’an. Yogyakarta: LESFI. 1992.
Kuntowijoyo. Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2007.
Rahman, Fazlur. Tema-tema Pokok Al-Qur’an terj. Ervan Nurtawab dan Ahmad Baiquni. Bandung: Mizan. 2017.
Sahabuddin. Nur Muammad: Pintu Menuju Allah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 2002.
Shihab, Quraish. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan. 2013.
Weij, P. A. Van der. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, terj. K. Bertens. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2017.

0 Shares:
You May Also Like