Keutamaan Meminta Maaf

“Orang yang pernah melakukan kezaliman (pelanggaran terhadap hak) saudaranya dalam hal apapun, maka (hendaknya bersegera) hari ini juga meminta perbuatannya tersebut dihalalkan (dimaafkan) oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang (yang bersalah dan tidak meminta maaf) tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi”
(HR. Bukhari no. 2449).

Selama ini banyak sekali ceramah dan tulisan tentang keutamaan memberi maaf. Dan, memang benar, memaafkan adalah di antara akhlak Islam yang paling utama. Tapi, tak sebanyak itu orang berbicara tentang keutamaan meminta maaf. Padahal, meminta maaf, di samping ini juga akhlak yang amat mulia, memiliki beberapa hikmah lain. Yakni:

Pertama, memperbaiki silaturrahim atau berdamai dengan orang lain yang kita pernah (benar-benar atau bahkan secara keliru dianggap pernah) berbuat salah kepadanya dan, kedua, berdamai dengan diri sendiri. Yang pertama sudah ditegaskan oleh hadis yang dikutip di awal tulisan ini. Hadis itu menunjukkan betapa pentingnya meminta maaf. Pertama, bahwa kesalahan kepada manusia hanya bisa terhapus dengan tindakan meminta maaf kepada yang dizalimi. Kedua, hadis tersebut sampai sejauh memberikan “ancaman” kerugian yang luar biasa bagi orang yang terlambat meminta maaf—baik jika dia meninggal dunia atau orang yang seharusnya dia minta maafnya mendahului kita—dalam bentuk didiskonnya amal-amal baik yang pernah dia lakukan atau ditambahkannya amal-amal buruk orang yang pernah dia zalimi kepada tumpukan amal buruknya. Betapa ruginya.

Kedua, jika kita tidak meminta maaf, kita bisa dihukumi melakukan kesalahan memutuskan silaturrahim. Kenapa? Karena, meski Nabi tetap menganjurkan orang yang dizalimi meminta maaf, tapi adalah orang yang berbuat zalimlah yang lebih mungkin dihukumi memutus silaturrahim. Padahal Al-Qur’an mengancam dengan keras tindakan memutuskan silaturrahim ini:

Baca Juga:  Alquran dan Lingkungan

“Orang-orang yang merusakkan janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yakni, silaturrahim), dan mengadakan kerusakan di bumi. Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka jahanam)” (QS. Ar-Ra’d [13]: 25)

Nabi saw. pun tak kurang menegaskan hal ini dengan sabdanya:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahim)” (HR. Bukhari).

Inilah nilai penting kedua tindakan meminta maaf ini. Bahkan pun jika kita merasa tidak bersalah dan hanya menjadi korban dugaan atau salah paham, meminta maaf akan menjadikan kita termasuk orang-orang yang dihukumi sebagai menyambung silaturrahim. Nabi saw. bersabda:

“Bukanlah penyambung silaturahmi adalah yang hanya menyambungnya jikalau orang lain bersikap baik kepadanya, akan tetapi penyambung silaturahmi adalah yang tetap menyambungnya meskipun silaturahminya diputuskan (oleh orang tersebut)” (HR. Bukhari).

Ketiga, perbuatan salah yang kita lakukan kepada orang lain akan menjadi beban yang terus memberatkan hati kita jika kita belum dimaafkan. Kita pun akan terus memiliki perasaan bersalah (guilty feeling) yang menggelayuti hati kita. Maka, apa salahnya kita meminta maaf? Bukankah Rasulullah saw. sudah menghukumi kita sebagai penyambung silaturrahim jika kita berinisiatif menyambungnya? Artinya, bahwa meminta maaf, sebaliknya dari menghinakan, adalah tindakan yang amat mulia. Sedemikian mulianya sehingga terbukanya pintu surga dan keterbebasan dari neraka sebagai ganjarannya? Apalagi, dengan meminta maaf—dan, dengan demikian, menyambung silaturrahim—pada puncaknya beban berat yang selama ini menggelayuti hati kita akan lepas sekaligus akan menambah rizki, dan kesejahteraan psikologis kita sehingga bisa memanjangkan umur kita?

Terkait dengan ini Nabi saw. bersabda:

“Siapa saja yang senang diberi lebih banyak rezeki dan umur panjang, maka dia harus menjalin hubungan baik (silaturrahim) dengan orangtua dan saudaranya” (HR. Bukhari).

Baca Juga:  Validitas Hadis-Hadis dalam Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn Perspektif Tasawuf

Maka, apalagi yang masih menghalangi kita dari meminta maaf?

Mari, bersegeralah kita meminta maaf, dan membiasakan meminta maaf, khususnya bagi orang-orang dekat kita, yang kita berpeluang paling besar dalam menzalimi (melanggar hak) mereka: orang-orangtua kita, kerabat dan saudara-saudara kita, pasangan-pasangan hidup kita, sahabat-sahabat kita, kolega-kolega—khususnya bawahan-bawahan—kita di kantor, bahkan anak-anak kita. Termasuk, tentu saja, kepada siapa pun yang kita pernah bermuamalah dengannya dan berpeluang menzalimi mereka.

Mudah-mudahan Allah memberi kita petunjuk dan kekuatan agar kita bisa menjadi orang yang mudah meminta maaf.

1 Shares:
You May Also Like
Read More

The Art of Good Living

Pertanyaan untuk apa kita hidup? Lalu, bagaimana menjalaninya? Hal demikian adalah sesuatu pertanyaan yang lumrah bagi manusia sebagai…