Sama Seperti Kita, Al-Ghazali Pernah Depresi, Terpuruk, Lalu Bangkit

Secara umum, mereka yang membaca Al-Ghazali akan masuk ke dalam sebuah ruangan yang berisi ornamen, hiasan dan pelbagai perabotan filsafat dan tasawuf. Tulisan-tulisan Al-Ghazali, jika dilihat pada level permukaan yang paling luar, dipenuhi berbagai konsep filosofis dan metafora tasawuf, yang seolah-olah untuk memahaminya, kita sendiri harus berubah terlebih dahulu menjadi seorang filsuf atau sufi. Kita lalu mengira bahwa Al-Ghazali hanya ingin berbicara kepada sesama filsuf atau sufi.

Ini kemudian membuat ide-ide Al-Ghazali terhalangi dari kita. Salah satu sikap yang keliru dari kita adalah memandang warisan pemikiran para filsuf besar klasik sebagai sebuah monumen yang sudah mati, atau sebagai sebuah event yang terkurung dalam makna-makna literal dari huruf, kata, kalimat, dan paragraf yang mengelilinginya. Kita lupa satu hal, yaitu bahwa Al-Ghazali dulu juga hidup, seperti kita hidup sekarang. Kita lupa bahwa ia menulis untuk menjawab masalah-masalah mendasar bagi setiap orang. Kita lupa bahwa Al-Ghazali adalah milik semua orang.

Relevansi Al-Ghazali bagi Manusia Modern

Tak ayal, respon kita sebagai manusia-manusia modern ketika disodorkan Al-Ghazali, Ibn Sina, atau Al-Farabi, adalah menganggap bahwa mereka sudah ketinggalan zaman. Kita tidak mampu membayangkan sosok Al-Ghazali yang abadi dalam tulisan-tulisannya. Jika demikian sikap kita, kita melakukan satu hal yang merugikan diri dan peradaban kita sendiri hari ini.

Isaac Newton pernah mengaku bahwa ia hanya seorang ilmuwan kecil yang berdiri di atas pundak para raksasa. Pengetahuan yang ia capai adalah kelanjutan dari para fisikawan dan filsuf sebelum dirinya. Kemudian, ia pun menjadi raksasa berikutnya. Mengapa kita tidak berbesar hati mengakui bahwa Al-Ghazali adalah seorang raksasa sebelum kita, dan mengapa kita tidak meminjam pundaknya untuk berdiri menggapai pengetahuan yang baru?

Dalam artikel ini, saya ingin mengajak Anda untuk masuk ke dalam satu ruangan lain yang disediakan oleh Al-Ghazali di dalam otobiografinya, Al-Munqidz min al-Dhalal. Buku ini ia tulis setelah bangkit dari depresi, dan berhasil menemukan kebahagiaan yang dicari. Para pembaca otobiografi ini, secara personifikasi, seolah-olah bertamu kepada Al-Ghazali dan memintanya menjelaskan apa itu hakikat hidup manusia di dunia, dan di mana letak kebahagiaan sejatinya.

Melihat betapa mendalamnya pesan dari buku ini, kita bisa merasakan bagaimana Al-Ghazali berhadapan dengan orang-orang yang pernah mengalami depresi dan keterpurukan dalam hidupnya, seperti kita ini. Lagi pula, jika Al-Ghazali memang benar-benar seorang filsuf dan psikolog, sudah pasti ia mengerti bahwa ada banyak orang-orang patah hati, sedih, dan depresi, yang akan menghampirinya.

Yang sering tidak disadari oleh para pembaca modern adalah bahwa Al-Ghazali merupakan manusia yang penuh rasa cinta, empati, dan peduli. Kita sering lupa, bahwa para penulis adalah manusia biasa dengan emosi, bukan kecerdasan buatan yang dingin tanpa perasaan. Pertama, tentu saja, Al-Ghazali amat mencintai dirinya dan kehidupannya. Itulah mengapa ia berjuang sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan material, psikologis, sekaligus intelektual yang ia perlukan.

Yang kedua, ia amat mencintai orang lain, atau lebih tepatnya, ia mencintai kemanusiaan. Meskipun sang filsuf bukan seorang hartawan dan miliuner yang bisa menyumbangkan emas dan perak untuk kaum miskin, namun, dia telah menyumbangkan hal yang paling penting di dunia, yang bisa dimiliki oleh seseorang. Dia menyumbangkan hidupnya sendiri untuk pencerahan orang lain, terutama bagi jutaan generasi yang datang setelah dirinya.

Baca Juga:  Hidup Sederhana itu Sebagian dari Iman, Kata Nabi!

Yang ketiga, Al-Ghazali amat mencintai Tuhan. Cinta ini membuatnya mampu menulis kitab-kitab yang penuh argumentasi berkualitas untuk menjelaskan dan mempertahankan eksistensi Tuhan. Di saat yang sama, pada periode krusial dari hidupnya, cinta ini membuat Al-Ghazali rela meninggalkan kemewahan dunia yang sudah dinikmatinya, menuju hidup yang rendah hati dan bersahaja demi Tuhan.

From Zero to Hero

Al-Ghazali adalah seorang yang pernah merasakan pahitnya tenggelam dalam depresi berkepanjangan. Solusi bagi depresi, melankolia, kecemasan, dan keraguan total yang ia punya, hanya bisa dipecahkan setelah sepuluh hingga sebelas tahun dirinya mengembara.

Rasa sedih yang mendalam yang Al-Ghazali alami bukanlah rasa sedih rendahan, yang umumnya orang-orang seringkali rasakan. Ia sedih dan gundah bukan karena kehilangan nama baik, jabatan, atau gaji miliaran. Sebaliknya, justru ia meninggalkan itu semua untuk meraih kembali kebahagiaannya. Ia sedih dan depresi karena tak merasakan kedekatan dengan Tuhan, sekalipun pada masanya, ia sudah didakwa sebagai manusia yang paling pintar soal ilmu-ilmu ketuhanan.

Jika Anda membaca Al-Munqidz, Anda akan mengerti satu hal, yaitu Al-Ghazali begitu paham bahwa sepanjang hidup, kita semua akan selalu didera kesedihan yang sering berujung pada depresi, dan tidak jarang, bunuh diri. Semua kita pernah mengalami “momen jatuh” dan keterpurukan. Jika ada hal yang benar-benar nyata di dunia ini, itu adalah penderitaan kita; baik penderitaan yang disebabkan oleh musibah kesehatan, kecelakaan, bencana alam; atau pemecatan, pelecehan, penghinaan, hingga patah hati, dan putus asa.

Al-Ghazali mengalaminya juga, bahkan mungkin jauh lebih dahsyat dari kita. Ia lahir dan tumbuh dalam sebuah keluarga yang miskin, di mana ayahnya hanya seorang tukang jahit. Ayahnya meninggal ketika ia dan adiknya (atau mungkin kakaknya), Ahmad, masih dalam usia sekolah dasar. Mereka berdua lalu hidup bersama teman sang ayah, dan ketika sudah mencapai usia remaja, mereka dikirim untuk sekolah ke ibu kota provinsi. Alasan mengapa dua bersaudara ini dikirim ke negeri yang jauh adalah karena pengasuh mereka sudah tak lagi mampu menghidupi mereka berdua.

Dua anak muda ini pun pergi, mencari hidup yang baru, dan mencari sekolah untuk bisa hidup secara bermartabat. Tak ada yang sia-sia dalam usaha yang dilandasi niat baik. Ternyata dua anak ini berotak cemerlang. Al-Ghazali sedikit lebih menonjol karena kemampuannya dalam berdebat, dan memenangkan debat. Sementara sang adik adalah seorang introvert yang lebih senang beribadah. Mereka berdua berhasil lulus dari madrasah, dan akhirnya bisa hidup secara layak di ibu kota. Cita-cita ayah mereka supaya anak-anaknya kelak menjadi ilmuwan, kini menjadi kenyataan.

Al-Ghazali melanjutkan studinya di bawah seorang guru besar Universitas Nizhamiyyah di kota Nisapur, bernama Al-Juwayni. Sang guru ingin anak muda ini melanjutkannya kelak, dalam mengajar, sebagai seorang guru besar. Dan, semua berjalan sesuai rencana. Yang mungkin tidak akan pernah dibayangkan oleh Al-Juwayni yang akhirnya wafat adalah bahwa Al-Ghazali akan menjadi senjata paling ampuh untuk menegakkan kemenangan mazhab pemikiran Sunni-Asy’ariyah di atas mazhab-mazhab lainnya di sepanjang kerajaan Abbasiyah waktu itu.

Baca Juga:  The Art of Good Living

Sementara itu, di ibu kota kerajaan, Baghdad, perdana menteri dan politikus ulung bernama Nizham al-Mulk, mendengar tentang reputasi Al-Ghazali, dan seketika langsung menyukainya. Ia merasa bahwa Al-Ghazali adalah jawaban yang ia butuhkan untuk menyusun sebuah ortodoksi Islam yang kekal sepanjang zaman. Ia memanggil Al-Ghazali untuk menetap di Baghdad, untuk berada di sisi sang perdana menteri, sekaligus memimpin Universitas Nizhamiyah di sana.

Semua harapan itu dipenuhi dengan tuntas oleh Al-Ghazali. Filsuf muda ini terkenal tegar dan sedikit ambisius dalam karirnya. Ia benar-benar beranjak dari lapisan paling bawah suatu masyarakat, menuju lapisan paling atas yang berkuasa. Banyak hati yang disakiti oleh Al-Ghazali sepanjang ia memenuhi tugas-tugasnya. Rasa cemburu para ulama dan pejabat yang dengki adalah lalat-lalat yang setiap hari berbising di telinganya. Al-Ghazali tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah status istimewa dirinya di sisi perdana menteri, status mulianya di universitas, dan ribuan jamaah di seantero Baghdad yang mengidolakannya.

Namun, takdir membawanya pada keadaan yang lain. Hati sarjana muda ini ternyata terlalu suci untuk dibiarkan terus berada dalam gemuruh politik dan rasa iri dengki kolega-koleganya. Ia terlalu baik untuk merasakan itu semua. Ia tak punya keinginan menjadi pangeran dan idola semua orang. Hati kecilnya memberontak. Al-Ghazali baru tiga tahun menjabat sebagai guru besar Univeristas Nizhamiyyah Baghdad ketika ia akhirnya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan semua prestasi yang sudah ia raih.

Diuji dengan Depresi dan Kesedihan Mendalam

Usianya sekitar 36 tahun waktu itu; usia yang sangat muda bagi orang yang sangat berpengaruh secara intelektual dan politik di negaranya. Kita tak banyak tahu apa sebenarnya yang menjadi alasan Al-Ghazali mundur dari lingkungan istana dan universitas yang membesarkan namanya. Dalam otobiografinya, Al-Munqidz, ia hanya bilang kepada kita, “Berbulan-bulan hatiku tidak tenang, aku harus memilih antara hidup dengan semua kemewahan dunia ini, atau kembali kepada Tuhan”.

Ia juga bercerita kepada kita tentang lidahnya yang tak lagi bisa bicara, nafsu makannya yang sudah hilang, dan tidur setiap malam yang selalu menghasilkan mimpi buruk. Tak ada lagi rasa damai. Inilah depresi hebat yang ia alami.

Seperti yang Anda tahu, pada hakikatnya, depresi adalah penyebab utama dari semua penyakit mental yang ada di dunia, sebagaimana yang diakui sendiri oleh World Health Organization (WHO). Depresi hebat yang dialami Al-Ghazali bukan sekadar perasaan sedih yang bisa lewat seiring waktu berjalan. Ia mengalami apa yang hari ini kita sebut depresi klinis. Al-Ghazali berjuang menghadapi gangguan mental dan medis sekaligus. Dan, penyakit ini tidak bisa hilang hanya karena si penderita menghendakinya.

Para ahli medis modern menemukan bahwa depresi klinis bisa bertahan selama dua minggu, dan secara signifikan mengganggu kemampuan kita dalam bekerja, bermain, dan mencintai. Al-Ghazali mengalami berkali-kali lipat dari itu semua. Ia menderita depresi akut selama enam bulan. Bayangkan, selama setengah tahun menderita depresi.

Baca Juga:  Harmonisasi Tuhan, Alam dan Manusia: Catatan Bedah Buku The Tao of Islam karya Sachiko Murata

Suasana hatinya menjadi muram, tidak tertarik lagi untuk menulis dan mengajar, tak peduli pada kebutuhan makan, merasa hidupnya tidak berguna, merasa hidupnya penuh salah dan dosa, tak mampu lagi menguasai pikirannya untuk berkonsentrasi, dan seiring tubuhnya yang menciut, ia kehilangan begitu banyak energi. Kita tak tahu, apakah ia juga sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya atau tidak—sebuah gejala yang umumnya dirasakan semua penderita depresi klinis ini.

Ia tidak bodoh, oleh karenanya ia juga diobati oleh para tabib istana. Tak ada obat dan klinik yang bisa menyembuhkan tubuh sang filsuf yang semakin kurus dan kering. Seperti halnya kita di hari ini, yang sering mencoba mengatasi depresi dengan obat-obatan antidepresan, Al-Ghazali juga diterapi dan dimedikasi secara serupa. Namun depresi bukanlah sebuah masalah biologis semata. Al-Ghazali begitu depresi karena menganggap semua pengetahuan yang sudah ia raih tidaklah berarti, dan tidak bisa dijamin kebenarannya. Ia juga depresi akibat rasa benci orang-orang sekelilingnya yang mengincar posisi mulia professor muda ini di istana.

Semua orang merasa khawatir kepadanya, terutama sang adik, Ahmad. Ahmad adalah seorang sufi. Ia berpembawaan tenang, bersahaja, dan ia sangat mencintai Al-Ghazali. Al-Ghazali sendiri, meski terlambat, akhirnya memahami bahwa semua orang yang mengelilinginya di istana dan universitas adalah penjilat. Tak ada yang benar-benar ingin dirinya sembuh, kecuali Ahmad, adiknya.

Ahmad tahu bahwa sang kakak adalah manusia paling cerdas saat itu, dan yang ia butuhkan untuk pengobatan bukanlah bahan-bahan kimia, jabatan tinggi, atau pun tambahan gaji. Kakaknya menderita secara psikologis dan spiritual. Ia pun meminta sang kakak untuk mengembara;pergi meninggalkan lingkungan kerja yang dipenuhi kolega yang dengki padanya. Ahmad menyarankan supaya Al-Ghazali mencari kedekatan dengan Tuhannya, karena hanya Tuhan yang dapat memberinya pengetahuan dan persahabatan sejati, yang bisa mengembalikan kedamaian di dalam hatinya.

Penutup

Apakah ia berhasil mendekatkan diri dengan Tuhan? Apakah Al-Ghazali akhirnya menemukan apa yang ia cari? Tentu saja, ya. Selama sepuluh hingga sebelas tahun ia mengembara dan menyembunyikan diri di Damaskus, Makkah, Madinah, dan Jerusalem. Inilah periode di mana ia sembuh dari depresinya. Inilah masa ketika ia bisa merasakan kembali sentuhan lembut dan hangat dari cinta Tuhan. Sebagaimana ia katakan dalam Kimya-i Sa’adat, sentuhan emosi bernama cinta adalah antidepresan utama, yang alami, dan yang sejati, untuk melepaskan diri kita dari penderitaan mental ini.

Al-Ghazali hidup kembali, bangkit dari rasa depresi yang hebat, dan dengan tenang melangkahkan kaki untuk pulang ke tanah airnya. Sempat ia sebentar mampir dan mengajar lagi di Baghdad, namun ia sudah terlalu mulia untuk berlama-lama berada di lingkungan yang penuh intrik, rasa cemburu, dan kelicikan dari politikus yang memanfaatkan agama, atau dari agamawan yang ikut-ikutan berpolitik. Ia tahu, bahwa sumber depresinya bukanlah gejolak kimiawi di otaknya, melainkan lingkungan yang menyebarkan bau busuk kecemburuan, kebencian, kompetisi, dan kemunafikan. Al-Ghazali pun pulang ke kampung, dan mengajar penduduk setempat tentang jalan menuju kebahagiaan.

45 Shares:
You May Also Like