Thariqah Ajaran Agama yang Paling Subtil Bagi Sayyed Hossein Nasr

Oleh: Raha Bistara

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Thariqah atau jalan spiritual yang lebih familiar dikenal dalam diskursus tasawuf atau sufisme/dimensi batin (esoteris) Islam yang memiliki dasar di dalam Al-Qur’an dan Sunah Nabi, sama halnya dengan syariah. Sebagai jalan, pasti dilalui oleh semua salik guna mencapai pintu-pintu Tuhan. Secara keilmuan, thariqah dapat dibedakan dari akidah dan syariah tetapi dalam pengaplikasiannya thariqah tidak dapat dipisahkan dari kedua aspek tersebut karena keduannya ada kaitan satu dengan yang lain.

Thariqah adalah aspek Islam yang paling subtil dan paling sulit dimengerti, walaupun efeknya sangat terlihat dalam berbagai manifestasi masyarakat dan peradaban Islam. Sebagai jantung dari agama Islam, thariqah juga disamakan dengan jantung manusia yang mengatur seluruh organisme agama Islam, meskipun ia tidak terlihat dan menjadi sumber batin. Thariqah inilah yang menjadi kunci kesempurnaan amaliah ajaran Islam.

Sayyed Hossein Nasr salah seorang filsuf Muslim terkemuka ahli dalam bidang filsafat, tasawuf, teknologi, dan ilmu-ilmu tradisional Islam serta namanya tercatat dalam serial The Living Philosopher. Di samping sebagai cendekiawan Muslim, ia juga sebagai penulis produktif di Barat yang menyajikan nilai-nilai Islam tradisional (Jane, 1995: 230).

Sewaktu masih dalam strata satu (S1) Nasr, merasa resah dengan keadaan fisika sekuler yang disajikan dalam dunia Barat. Ia merasa sains yang ada di Barat tidak ada unsur spiritualitas. Maka dari itu, ketertarikannya dengan spiritualisme mendorongnya untuk mengubah jurusan tatkala mengambil kandidat doktoral. Ia sengaja mengambil jurusan sejarah sains karena ingin menggali sejarah sains Islam dalam rangka solusi alternatif terhadap sains Barat modern sekular.

Ketika hampir memasuki usia pertengahan dua puluhan. Ia menerbitkan dua buku yang begitu berpengaruh, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, edisi revisi dari tesis doktoralnya di Harvard, dan Science and Civilization in Islam yang mengguncang kajian sejarah dan filsafat sains, karena menegaskan bahwa sifat-sifat sains dalam peradaban Islam secara fundamental berbeda dengan sains dalam peradaban modern.

Baca Juga:  Jangan Putus Harapan dan Teruslah Berdoa

Seperti yang sudah kita ketahui bersama thariqah merupakan salah satu aspek dari ajaran agama Islam disamping syariah dan aqidah. Ibadah seseorang tidak sempurna ketika hanya menjalankan salah satu aspek saja, karena di dalam syariah misalnya ada hal-hal yang harus dilakukan dengan thariqah, begitu juga sebaliknya di dalam thariqah terjalin hal-hal yang diterangkan dalam syariah.

Para sufi tradisonal terutama yang berafiliasi dengan golongan Syadziliyah menggunakan lambang lingkaran untuk menggambarkan hubungan antara kedua dimensi dasar Islam ini. Sepanjang sejarahnya tidak semua masyarakat Muslim mau mengakui thariqah sebagai ajaran Islam bahkan ada juga tidak sedikit yang secara tegas menolak thariqah demi syariah semata-mata (Sayyed Hossein Nasr, 1966:122).

Beberapa di antara mereka berfungsi untuk menjaga dan mempertahankan syariah secara mutlak, sedangkan di lain pihak mereka juga menerima bahkan menjalankan thariqah. Bagi kaum sufi, syariah adalah landasan thariqah, sedangkan thariqah adalah jalan menuju hakikat (Haidar Bagir, 2019: 87). Sejalan dengan itu, kaum sufi juga menekankan perlunya kita menahan diri dari nafsu-nafsu duniawi demi mendekatkan diri kepada Allah, di antara sufi itu ialah Al-Qusyairi, Al-Kalabadzi, Al-Hujwiri bahkan sampai Ibn ‘Arabi sufi yang pemikirannya sulit dipahami.

Di lain pihak, ada orang-orang yang mencoba untuk merusak keseimbangan dengan memberi penekanan yang berlebih terhadap thariqah saja, seoalah-olah thariqah dapat bertahan tanpa adanya pemahaman syariah. Sesungguhnya gerakan ini muncul karena adanya eksoterisasi dimensi batin tanpa bantuan syariah. Islam di dalam totalitasnya telah mampu menjaga keseimbangan eksoteris dan esoteris atau tafsir dan ta’wil, sejauh hubungan dengan penafsiran Al-Qur’an (Sayyed Hossein Nasr, 1966:123).

Sebagian besar ortodoksi dalam masyarakat Muslim telah mampu menjaga terpisahanya antara syariah dengan thariqah dan terasingannya thariqah dari syariah yang merusak keseimbangan masyarakat Islam. Vitalitas keagamaan dan spiritual Islam timbul dari kehadiran dua dimensi selama berabad-abad yang secara bersama-sama telah membentuk tradisi keagamaan integral, yang mampu menciptakan masyarakat religius dan norma kehidupan batin.

Baca Juga:  Kosmopolitanisme: Perbincangan Bersama Julia Kristeva

Tidak ada bukti yang lebih jelas tentang hubungan batin antara thariqah dan syariah selain fakta bahwa diberbagai pelosok dunia Islam khusunya Afrika dan Asia Tenggara, Islam mula tersebar melalui contoh pribadi para sufi dan berdirinya thariqah. Kemudian sesudah itu baru syariah tersebar dan Islam diterima secara luas. Peranan thariqah sebagai dimensi batin syariah juga diakui oleh otoritas dan pendiri aliran hukum yang menekankan pentingnya peranan thariqah dalam pemurnian etika Muslim.

Tidak bisa dipungkiri bahwa thariqah adalah ajaran agama sebagai pelengkap dari dimensi yang lain. Tanpa thariqah beragama tidak lengkap karena thariqah sebagai jantung dari agama itu sendiri yang mengontrol semua elemen yang ada di dalam agama Islam. Orang beragama tanpa melaksakan dimensi ini beragama mereka tidak lengkap ada sesuatu yang kurang, sesuatu ini (thariqah) yang memberikan sisi-sisi positif dalam kehidupan beragama setiap individu.

Karena sisi spriritual yang dimiliki oleh setiap individu Muslim merupakan suatu fitrah yang harus dijaga keseimbangannya dengan baik. Ketika keseimbangan itu tidak dijalankan dengan baik dan benar, maka dalam tubuh seorang Muslim terdapat ketimpangan di dalam diri individu. Karena manusia bisa mengetahui dirinya secara sempurna ketika ia berada di pusat spiritualitasnya. Begitu juga dalam kelompok sosial masyarakat dibutuhkan kesadaran spiritual di dalammya untuk menjaga strukturalisasi masyarakat supaya berjalan dengan baik.

Untuk itu, dalam menyajikan dimensi esoteris dalam Islam kepada setiap individu Muslim harus bersifat tradisional dan ortodoksi Muslim menurut pandangan kaum sufi. Selain itu pada saat waktu yang bersamaan dia harus mudah dipahami oleh manusia-manusia modern yang lebih bersifat antroposentris dan individualis sesuai dengan kebutuhan mereka agar itu semua bisa dipraktikan.

Baca Juga:  Gaya Pemikiran Filsafat Ibn Miskawaih

4 Shares:
You May Also Like