IMAN KEPADA YANG GAIB SEBAGAI KRITERIA TAKWA

Oleh: Bil Hamdi

Mahasiswa Filsafat Islam STFI Sadra

Allah berfirman dalam Alquran,“Itulah al-Kitab (Alquran) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2] : 2). Ayat ini menegaskan bahwa Alquran adalah kebenaran mutlak padanya tidak ada keraguan. Sebagai Muslim, kita harus mempercayai dengan penuh keimanan bahwa Alquran adalah kitab pedoman yang jika kita berpegang teguh kepadanya, niscaya selamatlah hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Ayat di atas juga menjelaskan bahwa Alquran akan menjadi petunjuk bagi orang yang bertakwa. Siapakah yang disebut sebagai orang yang bertakwa dalam ayat tersebut? Pertanyaan itu kemudian  dijawab oleh ayat berikutnya,“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang melaksanakan shalat secara berkesinambungan dan yang menafkahkan sebagian (rezeki) yang Kami anugerahkan kepada mereka”(QS. Al-Baqarah [2] : 3). Kriteria pertama orang bertakwa yang disebut dalam ayat ini, yaitu orang yang beriman kepada hal yang gaib. Lantas, mengapa sesuatu yang gaib begitu penting untuk kita imani sehingga menjadi salah satu ciri orang yang bertakwa?

Quraish Shihab dalam Ensiklopedi Alquran menjelaskan bahwa kata gaib secara terminologis berarti sesuatu yang tidak bisa dijangkau manusia, kecuali bila diinformasikan oleh Allah dan Rasul, atau sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Kendatipun hal-hal yang gaib itu belum diketahui, akan tetapi kita tetap dituntut untuk beriman.

Begitu penting mengimani hal yang gaib sampai kata ghaib­ (غيب) di dalam bentuk mufrad (tunggal) diulang sebanyak 49 kali di dalam Alquran, kemudian di dalam bentuk jamak (plural) ghuyub(غيوب)  diulang empat kali, dan di dalam bentuk isim fa’il ghaibin (غائبين) diulang tiga kali (selengkapnya lihat kitab Fathurrahman lit Tullab Alquran hal. 335-336). Pengulangan kata yang terjadi ini, tentu semakin menguatkan perannya dalam agama, bahwa seseorang yang beragama tak akan dianggap bertakwa tanpa mengimani hal-hal yang gaib.

Baca Juga:  Falsafah Politik al-Mawardi: Paradigma Simbiotik Agama dan Negara

Allah berfirman dalam Alquran “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya itu. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91] : 8-10). Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah menanamkan dalam diri manusia itu dua potensi sekaligus, yakni potensi kejahatan dan kebaikan. Dua potensi ini, jika menjadi aktual, maka akan membentuk kepribadian seseorang. Jika kejahatan lebih mendominasi jiwanya, maka kepribadian yang terbentuk adalah manusia yang beringas dan tidak beradab. Sebaliknya, ketika potensi kebaikan (takwa) yang mendominasi jiwa seseorang, maka dia akan tampil sebagai manusia yang memiliki akhlak terpuji.

Orang yang menyucikan jiwanya adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang membiarkan diri jatuh dalam keburukan dan kemaksiatan, serta membiarkan potensi fujur (keburukan) berkuasa dalam dirinya adalah orang yang merugi. Sebenarnya secara fitrah, manusia telah mengetahui perbedaan baik dan buruk, semisal kita tentu memilih air susu ketimbang air comberan, akan tetapi mengapa kita dalam praktik kehidupan cenderung lupa dan jatuh dalam kemaksiatan yakni memilih dosa ketimbang pahala, yang artinya kita telah memilih meminum air comberan dan mengabaikan air susu.

Semua sumber dari keburukan itu adalah kurangnya keimanan kita kepada yang gaib. Bahkan kita menyaksikan sebagian pandangan yang menafikan hal-hal metafisik atau gaib. Mereka berkata, “Realitas adalah hal yang bisa diindrai dan dibuktikan secara empiris, maka segala yang tidak dijangkau oleh pancaindra bukanlah realitas, dengan kata lain, tidak ada”. Perlu ditegaskan istilah gaib tidaklah sama dengan ‘adam yang berarti tidak ada. Kata ‘adam lawannya adalah wujud (ada), sedangkan gaib lawannya adalah hadir. Sehingga ketika sesuatu itu tidak hadir, bukan berarti dia tidak ada, karena boleh jadi dia gaib (tidak dijangkau indra). Imam Al-Qusyairi An-Naisaburi dalam Ar-Risalatul Qusyairiyah juga menjadikan term ghaibah sebagai lawan hudhur (lihat dalam Risalah Qusyairiyah terj. Umar Faruq hlm. 80).

Baca Juga:  Corona: Kutukan atau Berkah?

Lebih lanjut lagi, menurut Quraish Shihab, ketika sesuatu itu tidak mampu dijangkau akal,  bukan berarti sesuatu itu tidak masuk akal, karena boleh jadi akal kita tidak mampu menampung pengetahuan yang demikian dahsyat. Hal ini diistilahkan dengan supra-rasional. Beliau memberi contoh seorang yang buta dari kecil, orang yang demikian tentu belum bernah melihat matahari namun, ia percaya karena mendengar cerita-cerita dari orang lain yang pernah melihatnya. Demikianlah keadaan iman kepada yang gaib, kita tetap dituntut percaya akan wujudnya karena Rasul telah memberitakan kepada kita tentang adanya dunia yang metafisik.

Surga, neraka, jin, malaikat, iblis dan Hari Akhir adalah hal-hal gaib yang sama sekali tidak mampu diindra, bahkan pada tingkatan tertinggi Tuhan merupakan Ghaib al-Ghuyub, puncak daripada segala yang gaib. Dia pula yang mengetahui rahasia dibalik semua yang gaib “Dan di sisi-Nya kunci-kunci gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia…” (QS. Al-An’am [6] : 59). Jangankan indra, bahkan akal sekalipun takkan berdaya ketika menjelaskan Dzat-Nya.

Mengimani adanya surga, akan membuat seseorang berusaha meningkatkan ibadah, karena membayangkan indahnya kehidupan akhirat, sehingga tumbuh rasa semangat dan gairah untuk terus menjadi pribadi yang semakin baik. Sebaliknya, orang yang mengimani adanya neraka, akan berusaha sekuat tenaga menghindari perbuatan maksiat, karena tahu begitu pedih dan kerasnya siksa neraka.

Pada tahap tertinggi ialah beriman kepada Ghaib al-Ghuyub, yakni meyakini bahwa Allah merupakan Tuhan sekalian alam, Pencipta, Pengatur, Pemelihara, dan satu-satunya yang patut disembah. Keyakinan akan hal ini akan mengantarkan seseorang memperoleh ketenangan lahir dan batin, juga kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga, mereka akan diganjar dengan balasan paling sempurna, Allah berfirman dalam Alquran “ (Ada) wajah-wajah pada hari (Akhirat) itu yang berseri-seri. (Itulah wajah orang-orang yang tidak lengah akan kehidupan Akhirat dan mempersiapkan diri menghadapinya). Kepada Tuhan Pemeliharanya (mereka) melihat” (QS. Al-Qiyamah [75] : 22-23). Orang Mukmin yang dimaksud merupakan orang yang beriman yang menegaskan keimanannya dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan.

Baca Juga:  Kebenaran Bermuka Ganda?

Keimanan pada yang gaib memiliki dampak positif yang luar biasa untuk kehidupan seseorang. Dengannya, kehidupan akan lebih terarah dan berhati-hati karena menyadari bahwa setiap perbuatan yang dilakukan senantiasa diawasi oleh Yang Maha Gaib. Puncaknya, seseorang akan mampu menghadirkan Yang Maha Gaib itu dalam hidupnya, hingga seolah-olah dia melihat Allah dalam setiap ibadahnya, atau jika belum mampu, maka ia yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah sedang melihatnya.

1 Shares:
You May Also Like
Read More

Derita itu Bahagia?

Bil Hamdi Mahasiswa Filsafat Islam STFI Sadra Manusia akan menemui beragam peristiwa dalam perjalanan hidupnya. Kebahagiaan, penderitaan, tawa…