MERAIH HUSNUL-KHATIMAH DAN KEMENANGAN DALAM HISAB ITU TIDAK SULIT

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Tak sedikit di antara kita yang takut mati. Dan ini bukanlah hal yang buruk. Allah swt. sendiri selalu memperingatkan kita akan kematian dan kekuatannya untuk memutus seluruh peluang berbuat baik bagi manusia. Dan bahwa hendaknya kita meraih husnul-khatimah (akhir/kematian yang baik), serta kemenangan dalam hisab-Nya atas diri kita di Hari Kiamat kelak. Agar jangan sampai, saat kita mati, dalam keadaan belum cukup mengumpulkan bekal pahala, apalagi dalam keadaan kita berkubang dalam amal-amal buruk kita. Sehingga, pada akhirnya, saat dihisab, timbangan kebaikan kita dapat lebih berat dibanding timbangan keburukan kita. Sehingga jika demikian halnya, tak urung siksa neraka menunggu kita. Wal-‘iyaadzu bil-Laah…

Tapi, ketakutan kita itu hendaknya tidak membuat kita putus asa dan kehilangan harapan akan rahmat (kasih-sayang) Allah swt. Allah berfirman: “Sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87)

Kenyataannya bukan saja Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, Dia adalah Yang Maha Dermawan. Dia sangat berhati-hati dalam mengganjar dosa orang-orang, dan sangat “boros” dalam memberi pahala. Lebih dari itu, keburukan orang pun oleh Allah bisa dikonversi menjadi kebaikan. Di bawah ini penjelasannya.

Pertama, Allah mengganjar amal-amal baik kita sepuluh kali lipat, dan membalas keburukan kita hanya dengan yang setimpal dengannya: “Siapa yang berbuat amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang melakukan perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-An’am [6]: 160).

Baca Juga:  Memaknai Adam dan Surga dalam Novel Filsafat Dunia Cecilia

Kedua, meski kita banyak melakukan keburukan sebelumnya, asal kita taubat, Allah mengampuni semua dosa kita.  “Katakanlah (wahai Muhammad saw. firman-Ku ini), wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri-diri mereka janganlah kalian berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya, sesungguhnya Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Ketiga, bukan hanya itu. Jika orang-orang yang berdosa ini telah menumpuk dosa sebelumnya, maka jika mereka bertaubat dan beramal saleh, Allah akan mengubah tumpukan dosanya menjadi kebaikan: “Dan barang siapa yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. Al-Furqan [25]: 71).

Sementara, amal-amal baik mereka akan tetap lestari: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan saleh yang lestari (al-baqiyat ash-shalihat) adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk diharapkan” (QS al-Kahfi [18]: 46).

Selain itu, Nabi mengajarkan adanya amal-amal jariah yang pahalanya terus bersambung sampai kapan pun meski pelakunya sudah mati. Kata Nabi saw.:

“Jika manusia mati, maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali tiga: (1) sedekah jariah (yang manfaatnya berlanjut, bergulir sampai kapan pun), (2) ilmu yang bermanfaat (bagi orang lain sampai kapan pun), (3) anak salih yang selalu mendoakan orang tuanya” (HR. Imam Muslim).

Apa artinya?

Artinya, selama ketiga amal itu—yakni, selama anak (cucu) kita masih mendoakan kita, ilmu kita masih memberikan manfaat, dan sedekah kita manfaatnya berketerusan—kita akan terus menumpuk pahala, sampai kiamat. Betapa dermawannya Allah swt. dan, jika demikian, betapa banyak pahala kita yang akan tertumpuk saat kita kelak dibangkitkan di Hari Kiamat dan dihisab oleh Allah swt.?

Baca Juga:  Agama Hijau

Mungkin akan ada yang bilang bahwa, selain amal jariah, ada juga keburukan jariah. Yakni amal buruk kita yang kerugian yang ditimbulkannya berketerusan meski kita telah mati. Sehingga, dosa kita pun menjadi berketerusan juga. Kalau pun hal ini benar, maka mari kita ingat kembali ayat yang saya kutip di atas:

“Siapa yang berbuat amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang melakukan perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am [6]: 160).

Artinya, tetap saja tumpukan amalan kebaikan jariah kita akan jauh lebih besar dari keburukan jariah kita. Amalan kebaikan jariah kita akan bertambah secara deret ukur—berkoefisien 10, sedang amal keburukan jariah kita akan bertambah secara deret hitung biasa.

Sehingga, dengan kedermawanan Allah swt itu, sesungguhnya tak sulit bagi kita untuk menjadikan timbangan amal kita lebih berat dari timbangan amal buruk kita.

Semoga Allah swt. mengaruniai kita kekuatan bertaubat setelah dosa-dosa kita dan kekuatan beramal saleh setelah amal-amal buruk kita, sehingga kita bisa meraih husnul-khatimah dan kemenangan dalam hisab-Nya atas diri kita di Hari Kiamat nanti. WalLaahul Musta’aan


Nuralwala.id Portal ini, dan berbagai akun media sosial Nuralwala lainnya, berada di bawah naungan Yayasan Nuralwala--sebuah yayasan Islam yang sepenuhnya bersifat non-profit. Untuk kelangsungan program-programnya, saat ini Nuralwala mengandalkan donasi perorangan yang amat terbatas. Jika Anda ingin berkontribusi dalam kelangsungan dan pengembangan kegiatan yayasan ini, Nuralwala menerima infak terbaik Anda dengan donasi ke:


BANK BRI SYARIAH : 1013807759 An. Azam Bahtiar