Thariqah Bani ‘Alawi: Dari Hadramaut ke Nusantara

Oleh: Habib Husin Nabil

Pengajar di Nuralwala dan Pengasuh Majelis Rebo Malem

Di artikel sebelumnya, saya telah menulis Sejarah Thariqah Bani ‘Alawi. Kali ini, saya mencoba tuk menelisik tentang penyebaran dan perkembangannya. Perlu diketahui, Allah swt. menghendaki keturunan Nabi Muhammad saw. itu melimpah ruah di muka bumi sampai akhir zaman, seperti yang disebutkan dalam Alquran

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ

Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan (kepada)-mu (Nabi Muhammad saw.) al-kautsar. (QS. Al-Kautsar [108]: 1)

Sebagian ahli tafsir meriwayatkan terkait sebab turunnya surat Al-Kautsar itu karena ada seorang kafir yang menghinan Rasulullah saw. dengan sebutan abtar  yaitu orang yang mandul (tidak memiliki keturunan) karena dua anak laki-laki Rasulullah saw. wafat di waktu kecil, sehingga yang tersisa adalah anak perempuannya. Nah, kemudian dia (orang kafir) menghina Rasulullah saw. dengan sebutan rajulun abtar. Maka dijawab oleh Allah swt. di akhir surat Al-Kautsar;

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ

Sesungguhnya pembencimulah yang terputus (dari keturunan dan kebajikan). (QS. Al-Kautsar [108]: 3). Yakni mereka yang menuduhmu mandul itu wahai Muhammad saw., mereka sendiri yang mandul.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait makna al-kaustar, sedikitnya ada tiga pendapat yaitu: Pertama, menafsirkannya sebagai telaga Kautsar. Kedua, berpendapat al-kautsar adalah telaga Haud yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Ketiga, mengatakan al-kautsar  dari kata al-katsiir, muntahal jumu’ yaitu bukan sekedar banyak tapi melimpah. Lalu, apa yang dimaksud melimpah? Kalau kita melihat konteks turunnya ayat ini (asbabul nuzul)-nya berkaitan dengan Nabi dituduh dan dihina sebagai seorang yang mandul. Ketika melihat kekasih-Nya diperlakukan demikian, Allah dengan tegas mengatakan, “Kami memberikan kepada kamu dengan jumlah yang melimpah”. Maka, jumlah yang melimpah itu berkaitan dengan keturunannya.  

Baca Juga:  HIKMAH MEMILIKI RASA TAKUT (KHAWF) KEPADA ALLAH

Keturunan Nabi Muhammad saw. terus berlanjut dengan melimpah ruah. Itu pula yang disebut Rasulullah saw. di dalam sebuah riwayat; “Fathimah itu belahan dari diriku, dijadikan aku bahagia siapa yang membuatnya bahagia dan menjadikan aku sedih siapa yang menjadikannya sedih”.

Kemudian Nabi mengatakan; “Sesungguhnya nasab dan hubungan yang terjadi karena pernikahan, periparan akan terputus di Hari Kiamat, kecuali nasabku, dan hubungan pernikahan yang terjadi denganku, dan periparan denganku”

Dari keterangan hadis dan ayat di atas, kita bisa mengetahui bahwa Allah swt. memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad saw. dengan keturunannya yang melimpah dan yang baik di muka bumi ini. Di antara keturunannya ialah Bani ‘Alawi—yang muncul dari bumi Hadramaut lalu mereka hijrah ke berbagai belahan bumi ini termasuk sampai ke Asia. Bani ‘Alawi memiliki ketersambungan dengan Nabi melalui jalur nasab Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein.

Sebagian besar di antara mereka banyak melakukan perjalanan dari Hadramaut menuju ke India, Gujarat, Malabar dan negeri-negeri lainnya. Mereka kebanyakan melakukan perdagangan sambil berdakwah—menyampaikan risalah cinta datuknya—di jalan Allah swt., maka pada saat itu keturunan Bani ‘Alawi ini menyebar ke Gujarat dan Hindia. Kemudian dari India mereka menuju ke Sumatra—Aceh, Palembang—masuk dari pesisir pantai bersama kaum Gujarat, hingga masuk ke negeri Nusantara secara luas.

Mereka menyebarkan dakwah Islam dengna akhlak dan mengedepankan budi luhur, hingga menarik simpati masyarakat setempat untuk memeluk Islam. Metode dakwah yang mereka lakukan akhirnya agama yang dianut masyarakat Indonesia yang tadinya Hindu Budha perlahan-lahan mulai berubah menjadi Islam. Perubahan itu tidak terjadi dengan kekerasan, intimidasi, apalagi dengan perang, tapi perubahan itu terjadi dengan akhlak. Dan inilah esensi dari Islam yaitu keluhuran budi pekerti (akhlak mulia).

Baca Juga:  Ajaran Thariqah Bani 'Alawi

Bagaimana saya katakan perubahan itu terjadi dengan akhlak? Sebab mereka dari India, dari Arab masuk ke bumi Indonesia dalam keadaan tidak menguasai bahasa penduduk setempat. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana orang-orang Indonesia bisa mencintai mereka, bisa memeluk ajaran yang mereka bawa? Tentu, karena akhlak yang mereka kedepankan di atas segala-galanya. Tutur kata yang lembut, perhatian dan membantu orang yang lemah, sehingga menjadikan bangsa Indonesia—yang saat itu hatinya memang bersih, jernih, mencintai kebaikan menyambut mereka—merasakan cocok dengan apa yang mereka bawa.

Itu pula asal-usul Wali Songo yang dikenal dengan sebutan Adhamat Khan, yaitu Abdullah Khan ibn Abdul Malik ibn Alwi ibn Muhammad Shahib Mirbat. Sayyid Alwi itu kakak adik dengan Ali Khali Qasam, di masa itu mereka berpisah kemudian menuju India, dari India kemudian menuju ke Indonesia. Jadi, Wali Songo itu asal-usulnya kembali kepada Bani ‘Alawi, maka ajaran yang dibawa oleh mereka ke Indonesia ini sama persis dengan ajaran yang dijalankan oleh Bani ‘Alawi yang berada di bumi Hadramaut. Tidak ada perbedaan sama sekali karena sumbernya sama, mereka juga mengedepankan kesantunan, akhlak dan tutur kata yang halus. Maka kita lihat Islam di Indonesia ini mengakar, walaupun dijajah Belanda tiga setengah abad.

Kalau kita lihat dengan kecamata logika, tiga setengah abad itu mungkin 50% atau 70% orang Indonesia itu sudah pasti berubah agamanya. Akan tetapi, nyatanya ketika Belanda berhasil dikeluar dari bumi Indonesia, masyarakat Indonesia tetap berpegang teguh pada ajaran Islam. Kenapa demikian? Sebab ajaran Islam masuk ke bumi Nusantara ini tidak dengan pedang, tapi diterima oleh masyarakat Nusantara dengan hati terbuka. Mereka masuk Islam bukan karena terpaksa, tapi mereka masuk Islam karena membuka hatinya, membuka pikirannya untuk memilih Islam sebagai agamanya. Ini tentu berbeda dengan Spanyol, ketika itu Islam masuk dengan agresi militer, sehingga saat kekuatan politik Islam waktu itu lemah—orang-orang non-Muslim itu kembali menguasai orang Islam—masyarakat kembali lagi ke agama asalnya yang bukan Islam.

Baca Juga:  Imam Ali di Mata Syaikh Akbar Ibn al-'Arabi

Saya kira yang bisa kita ambil hikmah dari pembahasan ini ialah kita harus memiliki akhlak yang mulia dalam berdakwah atau berinteraksi sosial dengan siapa-pun juga sebagaimana yang dicontohkan oleh para Wali Songo, akhlak mereka adalah akhlak Bani ‘Alawi dan akhlak ulama Indonesia adalah akhlak Bani ‘Alawi,  mereka semua membaur satu dengan yang lain, sehingga terjagalah bumi Indonesia ini dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Keterangan: Tulisan ini berasal dari pengembangan hasil transkip video serial kajian Part-2 Perkembangan Thariqah Bani ‘Alawi yang disampaikan oleh Habib Husin Nabil di kanal Youtube Nuralwala.

 


Nuralwala.id Portal ini, dan berbagai akun media sosial Nuralwala lainnya, berada di bawah naungan Yayasan Nuralwala--sebuah yayasan Islam yang sepenuhnya bersifat non-profit. Untuk kelangsungan program-programnya, saat ini Nuralwala mengandalkan donasi perorangan yang amat terbatas. Jika Anda ingin berkontribusi dalam kelangsungan dan pengembangan kegiatan yayasan ini, Nuralwala menerima infak terbaik Anda dengan donasi ke:


BANK BRI SYARIAH : 1013807759 An. Azam Bahtiar