Menjadi Manusia Autentik

Manusia semestinya menyadari bahwa eksistensi dirinya berada di posisi tengah-tengah antara malaikat dan hewan. Fitrah akal dan nafsu merupakan karakteristik manusia sebagai makhluk yang diberikan pilihan oleh Tuhan untuk memilih dan mempertanggungjawabkan segala pilihannya. Meskipun, secara hakiki telah dimaklumi khalayak luas berdasar kendali iman dalam pola keberagamaan yang khas, bahwa segala sesuatu yang terjadi atas dasar kuasa Tuhan, dengan argumentasi bahwa tidak ada pergerakan setitik debu pun yang terlepas dari kendali kuasa-Nya. Oleh sebab itu, penting untuk menggali lebih jauh opsi-opsi kesadaran yang idealnya diaplikasikan, khususnya dalam wilayah berpikir sehat dengan tujuan meninjau kembali sejauh mana akal dan nafsu telah difungsikan.

Secara umum, malaikat dan hewan adalah gambaran dari makhluk Tuhan yang berbeda fokus keistimewaan fitrahnya. Malaikat dikhususkan fitrahnya pada ditundukkannya akal mereka kepada Allah tanpa difitrahkan nafsu kepadanya, sedangkan hewan diberikan keistimewaan berupa nafsu yang cenderung mendayakan insting atau naluri tanpa difitrahkan akal kepadanya. Adapun manusia berada di antara keduanya, bukan di antara yang tidak memiliki kaitan sama sekali, melainkan di antara keduanya yang saling terkait, artinya manusia memiliki potensi derajatnya dapat melebihi dari malaikat dan memiliki potensi derajatnya lebih rendah daripada hewan. Posisi manusia ialah posisi yang diberikan pilihan; baik dengan pemaksimalan fungsi nalar maupun kontrol nafsu.

Untuk itu, mendalami peran akal dan nafsu dalam diri manusia merupakan sikap yang perlu dilakukan untuk menghadirkan beberapa kegelisahan yang umum dan ‘mungkin’ ramai dibincangkan. Adapun wujud dari kegelisahan pada intinya ialah bentuk pencarian yang berjalan atau berproses, sehingga tidak dapat dilepaskan dari persoalan-persoalan fundemental yang sangat penting untuk diketahui dan dibutuhkan jawabannya. Wujud persoalan-persoalan tersebut tidak lain ialah berupa kemasan pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan sekaligus membingungkan dan tentunya membutuhkan jawaban yang tepat.

Baca Juga:  9 Jalan Cinta Haidar Bagir

Berkaitan dengan hal tersebut, untuk menemukan jawaban yang tepat, maka proses penalaran logis adalah upaya yang tepat yang dapat dilakukan oleh manusia. Penalaran logis boleh juga disebut sebagai pemaksimalan fungsi akal se-sehat mungkin; mampu menerima kebenaran logis dan menolak ketidaklogisan argumen dengan dalil yang ditemukannya. Dengan demikian, tentunya sudah jelas bahwasanya mencari jawaban adalah ciri khas manusia sebagai makhluk yang selalu bertanya.

Pada dasarnya, seandainya manusia ditempatkan di dalam hutan sendirian bersama pohon-pohon rindang dan beberapa hewan, maka yang ia butuhkan ialah pelindung dirinya (secara naluri), tentu ia akan mencari sesuatu yang dapat melindunginya dengan bertanya terus kepada dirinya atas apa saja yang dapat melindungi dirinya dari kesunyian, meskipun sebenarnya ia bingung dan tidak paham apa yang harus dilakukannya. Akan tetapi, hal tersebut ia ulang terus-menerus hingga dirinya menemukan jawaban yang dapat menenangkannya. Adapun, jawaban yang ia temukan boleh jadi hanya sebatas anggapan sementara yang belum teruji, akibatnya sangat lemah diperhitungkan potensi kebenaran yang dituju. Akhirnya, jawaban sementara tersebut ‘mungkin’ dapat menyelamatkan dirinya dari kebingungan atau sebaliknya, dapat membahayakan dirinya sebab keliru menjawab.

Dari hal tersebut, memperlihatkan bahwa manusia dengan fitrah akal dan nafsunya semestinya dapat menuntun dirinya untuk melahirkan beberapa pertanyaan-pertanyaan baru yang ‘baginya’ belum terselesaikan atau telah dalam proses terselesaikan, namun belum tuntas, dengan tujuan menuju ketenangan yang menjawab kegelisahan, sehingga mau tidak mau, bertanya adalah ciri khas manusia sebagai makhluk yang berada diposisi tengah antara malaikat dan hewan dalam fitrahnya, yakni diberikan potensi akal dan nafsu. Oleh sebabnya, hadirnya pertanyaan yang menggelisahkan merupakan bukti autentik betapa sempurnanya manusia dan betapa lemahnya potensi manusia yang terus mencari jawaban.

Baca Juga:  Aku, Anda dan Kita: Buah Letupan Cinta-Nya
0 Shares:
You May Also Like