Ilmu Mantik di Dunia Islam (2): Proses Penerjemahan Mantik Aristoteles

Salah satu sosok yang paling penting dalam penerjemahan karya-karya Aristoteles ke dunia Islam pada abad ke-9 masehi adalah Hunayn ibn Ishaq (809-877) (al-Jabiri, 1997). Ia mendapat pendidikan kedokteran di Baghdad, kemudian melakukan rihlah ilmiah ke negeri-negeri Bizantium, mempelajari bahasa Yunani di sana, kemudian kembali ke Syam dengan membawa naskah kitab-kitab penting (Watt, 1963). Pada masa itu, masa ketika raja al-Manshur berkuasa, ilmu astrologi (nujum), kedokteran (thibb), dan ilmu ukur (handasah) menjadi cabang ilmu yang paling banyak disadur. Meski begitu sang raja juga tercatat sebagai yang pertama meminta agar Organon Aristoteles diterjemahkan dan memang berhasil diselesaikan pada masanya.

Pada masa Abbasiyah, terutama sejak masa al-Ma’mun hingga akhir abad ke-10 masehi muncul penerjemah-penerjemah unggul. Nicholas Rescher (1964), dalam buku The Development of Arabic Logic menyebut bahwa setidaknya ada lebih dari 20 penerjemah (mutarjim) yang unggul ketika itu. Di antaranya adalah: Muhammad ibn al-Muqaffa’ (750-815), Yahya ibn al-Bitrik (770-830), al-Barmaqi (780-840), Ibn Na’imah (780-840), Hunayn ibn Ishaq (809-877), Ishaq ibn Hunayn (845-910), Qustha ibn Luqa’ (820-912), dan Tsabit ibn Qurra’ (834-901) (Rescher, 1964).

Berkat periode penerjemahan yang berlangsung lebih dari satu abad ini, kitab-kitab utama diterjemahkan berulang kali, dilakukan juga proses revisi (tashhih), dituliskan syarah (komentar pendek), dan hasyiyah (komentar panjang) atas kitab-kitab yang diterjemahkan, dan akhirnya membuat mantik Yunani masuk secara sistematis dan terstruktur ke dalam dunia Islam. Pada kitab-kitab yang pertama diterjemahkan di dunia Islam, kebanyakan istilah-istilah Yunani masih dipertahankan, seperti istilah katiguryas, analitik al-ula, topika, sofistika, retorika, poetika, barminyas, abodiktika, ustukus, hayula, dan lain-lain. Setelah cukup lama digunakan dalam kitab-kitab mantik, barulah istilah-istilah tersebut ditemukan padanannya dalam bahasa Arab dan diperbarui. Dengan begitu muncullah istilah seperti ma’qulat, safsata, khithabah, syi’ir dan lain-lain (Ulken, 1942).

Baca Juga:  Derita itu Bahagia?

Dengan demikian mantik Aristoteles tahap demi tahap berhasil masuk ke dunia Islam. Salah satu bukti penting juga adalah penerjemahan Kitab al-Burhan atau Posterior Analytics, yang berhasil dilakukan hanya pada abad keempat hijriyah, dan dilakukan oleh rekan al-Farabi, seorang ahli mantik masyhur bernama Abu Bisyr Matta ibn Yunus (w. 328 H) (al-Jabiri, 1997).

Di samping kitab-kitab Aristoteles, pada masa-masa antara al-Manshur dan al-Ma’mun beberapa kitab Plato (429-348 SM) juga turut diterjemahkan. Kebanyakan kitab-kitab diterjemahkan tidak langsung dari bahasa Yunani melainkan melalui media bahasa Suryani dan Persia (Bayraktar, 1997).

Ada alasan unik mengapa kitab Aristoteles Physic dan Metaphysic tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani dan tidak diajarkan di akademi-akademi Nestorian. Alasannya adalah karena isinya sangat berlawanan dengan teologi Kekristenan dan juga Yahudi. Akademi dan gereja Nestorian di Syam hanya mengizinkan penerjemahan dan pengajaran atas tiga kitab pertama dalam Organon Aristoteles, Categories, Interpretation, dan Prior Analytics, dan juga Isagoge milik Porphyry. Sebelum tahun 800 masehi kitab-kitab ini dikenal sebagai “empat kitab” dalam bahasa Suryani. Dengan begitu tidak mengherankan apabila pada masa-masa awal Islam Aristoteles lebih dikenal sebagai seorang tokoh mantik. Pikiran-pikiran metafisikanya belum lagi dikenal (Bayraktar, 1997).

Bersama dengan al-Ma’mun gerakan penerjemahan filsafat memasuki masa yang baru. Pertama-tama al-Ma’mun menuliskan aturan resmi kerajaan mengenai kegiatan penerjemahan ini. Kemudian raja juga membangun pusat penerjemahan dan penelitian di Baghdad pada tahun 830 yang dinamai Bait al-Hikmah. Di dalamnya turut dibangun sebuah perpustakaan besar yang menampung kitab-kitab berbahasa Yunani yang sengaja didatangkan dari Bizantium. Direktur pertama Bait al-Hikmah adalah guru dan mentor Hunayn ibn Ishaq yang bernama Yahya ibn Masawayh (790-857). Setelah wafatnya Ibn Masawayh, Hunayn melanjutkan tugas tersebut, dan menyukseskan program penerjemahan kitab-kitab yang dimulai oleh gurunya itu (Bayraktar, 1997).

Baca Juga:  Manusia, Agama, & Ketenangan

Sebelum al-Ma’mun kegiatan-kegiatan penerjemahan dan penelitian dilakukan tanpa sistem dan infrastruktur yang kuat. Baru ketika al-Ma’mun menjabat semua menjadi lebih terjamin dan terjaga dengan membangun pusat penelitian dan perpustakaan besar Bait al-Hikmah (Watt, 1963). Dengan begitu Yahya ibn Masawayh, Hunayn ibn Ishaq, Hajjaj ibn Mathar, Yahya ibn al-Bitrik, dan mutarjim lainnya dapat lebih baik mengatur pekerjaan-pekerjaan mereka.

Ada banyak sebab mengapa kegiatan penerjemahan mantik Aristoteles ini dilakukan. Sebagian disebabkan oleh kondisi-kondisi darurat, sebagian yang lain oleh inisiatif individu. Di bawah ini dapat kita tuliskan beberapa sebab tersebut:

  1. Kaum Muslim selalu membawa sikap kesetaraan dan kebebasan berpikir ke negeri mana pun mereka pergi. Kebebasan berpikir ini membuat siapa pun dapat mengutarakan pikiran, apapun agamanya, dan membuka kesempatan bertukar pendapat antar mereka semua. Keadaan ini menjadi sebab dibolehkannya membaca berbagai macam kitab, dan dengan demikian memberi jalan bagi pengajaran ilmu mantik.
  2. Orang-orang Kristen, Yahudi, Zoroastrian, dan keyakinan-keyakinan lainnya yang hidup di negeri-negeri Muslim berusaha mempertahankan argumentasi teologis mereka dengan meminjam mantik Yunani. Konteks demikian membuat sarjana-sarjana Muslim (al-alimun) turut memikirkan cara untuk mempertahankan ajaran Islam dan menetapkan dalil-dalilnya. Konteks yang sama pun menyebabkan para alim ini mempelajari mantik Yunani. Mantik diakui oleh mereka semua karena kekuatan ilmiah dan alamiahnya dalam menjelaskan sesuatu.
  3. Secara khusus para alim dari disiplin ilmu Kalam menjadikan mantik sebagai metode berpikir dan penjelasan dalam usahanya melindungi akidah Islam dari kritik-kritik teologis kalangan internal maupun eksternal.
  4. Ketertarikan kepada mantik secara ontologis diilhami oleh wahyu Al-Qur’an itu sendiri. Kitab suci ini banyak berbincang kepada manusia perihal ajakan untuk melakukan pemikiran, ta’aqqul, tafakkur, tadabbur, tafaqquh, tadzakkur, dan lain-lain, yang dipahami sebagai perintah untuk menggunakan akal pikiran dan berpikir secara rasional (Emiroglu, 1990).
Baca Juga:  Islam Agama Cinta, Muhammad Nabi Cinta

Sebagaimana dapat dilihat bahwa ada banyak sebab mengapa umat Islam sangat tertarik kepada mantik. Setelah periode penerjamahan akbar ini, mantik memasuki tahap baru perkembangannya, yang ditandai dengan kegiatan-kegiatan ilmiah seputar mantik dan filsafat Yunani oleh seorang Muslim yang saleh, alim dan pekerja keras, sang filsuf Muslim pertama; al-Kindi (796-866).

Bersambung ke bagian 3.

0 Shares:
You May Also Like