Tambahkanlah Kekafiranku! : Pembahasan tentang Konsep Kafir

Pasti banyak di antara kita berpikir bahwa itu ucapan seorang ateis garis keras. Tapi, jika termasuk yang berpikir demikian, kita akan kecele. Itu ternyata (potongan) ucapan seorang sufi besar. Namanya al-Hallaj. Al-Hallaj? Bukankah dia orang yang dihukum mati dengan dipenggal karena memang telah kafir dengan menyebut dirinya Tuhan? Betul dia berseru: “Ana al-Haq” (Akulah Sang Kebenaran). Ya, betul. Al-Hallaj yang itu (meski bukan tak ada yang mengatakan itu al-Hallaj lain, bukan Husayn Abu Manshur al-Hallaj, seorang sufi yang saleh). Tapi, kalau pun itu ucapan al-Hallaj yang sufi saleh itu, bagi banyak ulama lain tak ada yang salah dengan ucapan itu. Bahkan, bukan cuma Rumi atau sufi-sufi “mabuk”, Imam Ghazali pun membelanya (dalam Ihya’) . Tapi bukan tentang itulah tulisan ini dibuat. Melainkan tentang makna istilah kafir.

Saat ini, bagi telinga yang mendengarnya, istilah kafir hanya berarti vonis mematikan, penuh kebencian, yang hanya pantas berendeng dengan kalimat ‘halal darahnya”. Begitulah suasana beragama yang keras di masa ini telah membentuk pemaknaan terhadap kata ini. Saya khawatir, dalam beragama sekarang ini kita telah bersikap anakronistik dalam memahami konsep-konsepnya. Khususnya konsep kafir ini Akibatnya, ketika kita membaca bahan-bahan atau teks-teks keagamaan tentang kafir ini kita hanya bisa membangun suatu sikap penuh kebencian dan kekerasan itu. Padahal, meski benar bahwa kata kafir dapat bermakna pembangkangan kepada fitrah keimanan kepada Tuhan, konsep ini memiliki spektrum/gradasi makna dari yang sangat buruk dan negatif hingga baik dan positif.

Makna yang sangat buruk sudah saya sebutkan di atas: pembangkangan kepada fitrah ketuhanan, yang diikuti dengan kezaliman kepada diri dan orang lain. Tapi ada juga kata kufr yang berarti penyangkalan kepada kebaikan secara insidental, yang bukan lawan kata dari keimanan. Dengan kata lain, orang bisa kafir dalam hal-hal tertentu tanpa kehilangan keimanan sepenuhnya. Hadis Nabi ini mengungkapkan kekafiran jenis ini:

Baca Juga:  BERTEMU AL-GHAZALI DI BASEMENT SEBUAH TOKO BUKU DI HARVARD SQUARE (BAGIAN 3)

“Tak berzina seorang pezina pada waktu dia berzina (kecuali pada saat dia berzina itu dia), dalam keadaan (kehilangan) iman, Tak mencuri seorang pencuri pada waktu dia mencuri (kecuali pada saat dia mencuri itu dia), dalam keadaan (kehilangan) iman… dst.”

Ada juga makna kufr yang berarti kebakhilan akibat tidak mensyukuri nikmat karunia Allah dengan tak menggunakannya di jalan-Nya. Kuffar dalam Al-Qur’an juga dipakai menunjuk petani, yang biasa menutupi tanah tempatnya menanam benih. Nah, ada juga kata kafir yang bermakna positif.  Itulah penggunaan kata ini oleh Al-Hallaj. Dalam syairnya Al-Hallaj mengatakan:

“Oh, Tuhanku, Pembimbing orang yang bingung.

Tambah kebingunganku.

Jika aku kafir, tambahlah kekafiranku”

Di tempat lain dia berkata:

“Aku mengafiri agama Tuhan, sedang kekafiran bagiku itu wajib.

Meski bagi banyak Muslim (kekafiran) itu buruk”

Aneh dan kurang ajar? Belum tentu. Dengan syair itu sesungguhnya al-Hallaj ingin mengatakan satu dari dua kemungkinan ini:

Bahwa dia ingin (menutupi) keimanannya kepada Allah di depan publik. Sampai-sampai dia mengatakan ucapan yang membuatnya dibunuh itu. Untuk apa? Bisa jadi dia ingin sepenuhnya menjadikan keimanannya sepenuhnya ikhlas (murni) kepada Allah dan tak perlu keridaan (pembenaran oleh) publik. Sampai-sampai dia berseru:

“Uqtuluunii yaa tsiqatii, inna fi qatliy hayaatiy” (Bunuhlah aku wahai sobatku. Sesungguhnya pada keterbunuhanku terletak hidupku). (Lebih jauh tentang al-Hallaj, baca sketsa saya, “Al-Hallaj. Si Perindu Tiada Banding”) Kemungkinan lain adalah, al-Hallaj ingin menyatakan bahwa dia tak boleh merasa mengetahui Allah dengan paripurna, karena Allah ada di balik kemampuan manusia untuk memahami—sehebat apa pun manusia itu. Allah harus setidaknya sampai batas tertentu selalu dikafiri (dipercayai sebagai tertutup/gaib bagi manusia). Mirip dengan gagasan hayrah (kebingungan) Ibn ‘Arabi atau ityas (keputusasaan) Syaikh Khwaja Abdullah Anshari)—dalam berupaya memahami makrifat ketuhanan, yang memang mustahil dipahami manusia dengan paripurna.

Baca Juga:  THE POWER OF MUHAMMAD SAW

Dengan mengutip syair al-Hallaj, saya bukannya mau membenarkan al-Hallaj—kita boleh setuju atau tidak dengan al-Hallaj—tapi sekadar menambah wawasan kita tentang kayanya makna penggunaan atau konotasi kata “kafir” ini.

Nah, jika kita menyadari spektrum makna kata atau konsep “kafir” ini, maka kita akan bisa melihat maknanya secara proporsional. Lalu, memahami atau menafsirkan bahan-bahan dan teks-teks keagamaan mengenai soal ini dengan lebih pas.

Kita misalnya bisa lebih memahami apa yang dimaksud kafir ketika al-Ghazali mengafirkan para filsuf dalam Tahafut al-Falasifah. Bahwa para filsuf itu telah kafir, setidaknya menurut Imam Ghazali, (khusus) pada saat/pada momen instan mereka mempercayai 3 hal itu (kekadiman alam, Allah tak tahu yang partikular, dan penolakan kepada kebangkitan jasmani). Bahkan juga ketika Ibn Taymiyah mengafirkan beberapa kelompok Muslim. Karena, baik Ghazali maupun Ibn Taymiyah—dan banyak ulama lain—mempersyaratkan kondisi-kondisi yang amat berat/sulit untuk orang mengafirkan orang lain. (Baca, bab “Benarkah non-Muslim Identik dengan Kafir?,” dalam buku saya “Islam Tuhan, Islam Manusia“).

Bahwa kekafiran ada yang memang membutuhkan sikap keras tanpa kompromi sama sekali, tapi ada juga yang—meski bisa jadi tetap mengandung keburukan— keburukannya tak sebesar itu. Dengan cara ini kita akan bisa melihat siapa pun yang menurut kita memiliki ciri-ciri sebagai kafir dengan sikap yang memungkinkan kita tetap berhati-hati, berendah hati, dan memiliki dorongan pada diri kita—sebenci apa pun kita pada kekafiran itu sendiri—untuk membantu orang tersebut agar bebas dari kekafiran. Agar si kafir—menurut kita itu—bisa menyadari dan bertaubat dari kekafirannya. Dan bukan malah membenci si kafir.

9 Shares:
You May Also Like