SEKELUMIT TENTANG TASAWUF FILOSOFIS

Pertama, saya akan mulai dengan pertanyaan: Apakah yang bersifat filosofis dari tasawuf filosofis? Filsafat disebut filsafat terutama dari segi metodenya, atau bisa juga subject matter (materi subyek)-nya. Dari segi metode, ada perbedaan antara filsafat dan tasawuf. Metode filsafat adalah logis-demonstrasional (burhani), sedangkan metode tasawuf adalah spiritual-eksperiensial (dzawqi). Maka, jika ada persamaannya, tentu ini adalah dalam hal subject matter-nya.

Di antara subject matter filsafat adalah masalah ketuhanan dan metafisika. Kadang sebagai suatu kesatuan, ini disebut sebagai al-ilahiyat. Dalam kedua hal yang menjadi irisan inilah biasanya tasawuf filosofis dilihat.

Sedang terhadap tasawuf yang lain (non-filosofis), perbedaan bisa terjadi dalam hal penekanan akan subject matter-nya, maupun level materi pembahasannya.

Dalam konteks ini, lebih tepat saya kira jika kita bagi tasawuf ke dalam ilmu hakikat dan ilmu mu’amalat (tasawuf). Istilah mu’amalat, terkait tasawuf ini, dipakai Imam al-Ghazali untuk menggambarkan jenis tasawuf yang dibahasnya dalam Ihya’. Yakni lebih ke pemahaman teoretis dan praktis terkait suluk. Sedang ilmu hakikat inilah yang lebih dekat kepada tasawuf filosofis.

Ada lagi pembagian oleh Mehdi Ha’iri Yazdi, yang melihat tasawuf sebagai terbagi tiga:

  1. Pengalaman tasawuf, yang tak terperikan
  2. Bahasa tasawuf, inilah yang disebut ‘irfan. Namun, bukannya logis, bahasa ‘irfan biasa disebut sebagai analogis. Yakni menggunakan simbol, metafor, maupun variasi makna kata dalam suatu medan semantik yang sama.
  3. Wacana tasawuf (meta-tasawuf). Inilah deskripsi tasawuf dengan bahasa biasa.

Yang tak boleh dilupakan, sesungguhnya, adalah bahwa dalam hal perbedaan antara tasawuf filosofis dan tasawuf praktis atau akhlaki adalah bahwa pembahasan tasawuf filosofis oleh seorang sufi atau teoretisi/filosof tasawuf tak kemudian menafikan tasawuf akhlaki. Sebaliknya juga seorang sufi akhlaki bukan berarti sama sekali menafikan teori atau filsafat tasawuf. Jika kita lihat Ibn ‘Arabi, misalnya, pemikiran Syaikh Agung yang amat sophisticated ini bukannya tak menyentuh suluk (mu’amalat tasawuf) dan akhlak. Tak ada seorang pun pengkaji Ibn ‘Arabi yang akan gagal melihat sentralnya suluk dan akhlak di dalam pemikiran-pemikiran beliau. Sebaliknya, meski dikenal terutama dengan Ihya’, yang membahas mu’amalat tasawuf, kita kenal Imam Al-Ghazali juga menulis tentang tasawuf filosofis, sebagaimana tampak misalnya dalam karya beliau yang berjudul Misykat al-Anwar. Dalam pembahasan kaum sufi akhlaki yang lain pada umumnya pun, filsafat tasawuf juga tampil, meski seringkali lebih implisit.

Baca Juga:  Mencintamu adalah Kezaliman: Tafsir QS. Yunus [10]: 13 Perspektif Imam Al-Qusyairi

Yang perlu dipahami sifat filosofis dalam tasawuf filosofis bukanlah manifestasi kekenesan para sufi filosofis, melainkan lahir dari kesadaran para sufi yang terlibat di dalamnya akan perlunya pencerahan dalam hal aspek keruhanian agama, secara ontologis-metafisis, di samping epistemologis, psikologis, dan praktis. Sebagaimana dalam disiplin ilmu hikmah Islam pada umumnya, yang menyangkut hikmah teoretis (nazhari) dan praktis (‘amali), pemahaman ontologis ini diperlukan sebagai dasar bagi pengembangan aspek epistemologis, psikologis, dan praktik tasawuf.

0 Shares:
You May Also Like