Tentang Sedekah Mengundang Cinta Tuhan

Oleh: Darmawan

Ketua Program Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Seluruh ritus ibadah umat Muslim itu memiliki ruh/spirit sosial kemasyarakatan.  Bahkan dalam ritus ibadah individual—seperti shalat sendirian dan beragam shalat sunnah lainnya—memiliki dimensi sosial. Hal ini bisa dilihat, dalam ritus shalat—baik berjama’ah atau sendirian—diwajibkan membaca ihdina ash-shirathal mushtaqim (bimbinglah kami ke jalan lebar yang lurus). Sangat menakjubkan bukan, dalam ibadah individual seorang Muslim diwajibkan untuk ingat kepada sesama dengan mendoakan kerabat dan handai tolan di mana pun berada. Kalau demikian, apalagi ibadah yang memiliki jalinan langsung antara sesama (hablum min al-nass) seperti zakat, qurban, infaq, sedekah dsb! 

Berbicara sedekah kunci utamanya ialah pada ketulusan dan keikhlasan. Dulu di zaman Nabi, ada seorang sahabat yang enggan memberikan bantuan kepada orang-orang yang selama ini telah ia bantu. Ia menghentikan bantuannya dengan alasan, mereka enggan memeluk Islam. Melihat perlakukan sahabat Nabi, rupanya Nabi ada kecenderungan untuk menyetujui atas perbuatan para sahabatnya itu. Akan tetapi Tuhan ‘menegur’ Nabi sebagaimana firman-Nya:

“Bukanlah kewajibanmu (Nabi Muhammad saw.) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah yang menganugerahkan petunjuk (kepada) siapa yang dikehendaki-Nya (berdasarkan kesiapan jiwa untuk menerima petunjuk). Dan apa saja (harta) yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya untuk diri kamu (sendiri). Dan janganlah kamu menafkahkan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah swt. Dan apa saja (harta) yang baik yang kamu nafkahkan, (niscaya) kamu akan diberi (pahalanya) dengan cukup, sedangkan kamu (sedikit pun) tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah [2]: 272).

Setidaknya ada tiga poin yang ditekankan dalam ayat tersebut: Pertama, bukan wewenang kita untuk menjadikan mereka memperoleh hidayah (Islam). Wewenang itu mutlak ada di kekuasaan Allah swt. Kedua, kita diperintahkan oleh Allah untuk terus menerus berderma/bersedekah/membantu sesama, karena sedekah yang kita keluarkan itu manfaatnya akan dirasakan bagi diri kita masing-masing. Ketiga, prinsip bersedekah dalam Islam itu bukan melihat identitas agama, suku, dan ras melainkan berasas pada dasar kemanusiaan. Artinya bantulah siapa saja yang berhak dibantu karena dengan itu kita sedang meneladani akhlak Allah yaitu Dialah Yang Maha Rahman yakni yang rahmat-Nya menyelimuti seluruh makhluk-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi juga disebutkan, ” Seluruh manusia itu adalah keluarga Allah swt. Dan yang paling baik dari manusia ialah dialah yang paling baik terhadap keluarga Allah swt.”

Bersedekah mengajarkan kita untuk mencintai/merahmati mahluk Allah swt. dan jika kita telah mencintai makhluk Allah maka dalam hadis disebutkan Allah akan mencintai kita. Dan jika kita merawat keluarga Allah (manusia dan seluruh ciptaan-Nya) tentu kita akan dirawat dan dijaga langsung oleh Allah swt.

Baca Juga:  Syirik

Namun, perihal bersedekah itu tidaklah mudah, mengingat manusia pada umumnya ketika memiliki suatu kekayaan atau barang apapun apalagi yang benar-benar kita cintai, maka kita akan selalu menjaganya agar barang tersebut tidak hilang ataupun berkurang, inilah sifat dasar manusia yaitu melekat kepada kepemilikan. Nah, Allah dalam firman-Nya menjadikan sedekah itu ialah metode (manhaj) untuk menakhlukkan egosentris yang bertahta di dalam kerajaan diri kita. Artinya, kekayaan dan harta yang selama ini kita cintai, malah Allah anjurkan untuk berbagi kepada sesama. Kata Allah dalam Al-Qur’an;

“Kamu sekali-sekali tidak akan meraih kebajikan (kebaktian kepada Allah yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu sukai” (QS. Ali Imran [3]: 92)

Ayat di atas menekankan, bahwa kita akan termasuk orang-orang yang melakukan kebaktian jika kita telah mampu mendermakan sebagian harta yang kita cintai. Kita dilatih oleh Allah agar membiasakan diri untuk membantu sesama dengan sebaik-baik bantuan. Dan puncaknya ialah kita disiapkan dan dilatih oleh Allah agar mengihiasi diri dengan sifat itsar—sifat puncak sosial bermasyarakat yang dimiliki oleh para Nabi, para sahabat dan para wali—yakni membiasakan diri untuk berlaku mendahulukan kepentingan orang lain sebelum diri sendiri. Sebagaimana Allah berfirman:

“Dan (Allah swt. memuji) orang-orang (Anshar) yang telah mantap bermukim di kota (Madinah) dan (mantap dan tulus pula) keimanan (dalam hati mereka) sebelum (kedatangan) mereka (kaum Muhajirin). Mereka (selalu) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak mendapatkan keinginan (untuk memperoleh) dari apa yang telah diberikan (oleh Nabi Muhammad saw.) dan mereka mengutamakan (para Muhajirin) atas diri mereka (sendiri), sekalipun mereka mempunyai keperluan mendesak; dan barang siapa dipelihara (oleh Allah swt.) dari sifat kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Baca Juga:  Hikmah Muta'aliyah dan Kontribusinya untuk Paradigma Beragama

 

15 Shares:
You May Also Like
Read More

Kemarahan Suci?

Oleh: Haidar Bagir Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Lama saya berpikir, kenapa ketika sedang berbicara tentang…