Pentingnya Belajar Akhlak Menurut Imam Al-Ghazali

Membicarakan pemikiran Islam (filsafat Islam) tentu tidak akan lengkap jika tidak mencantumkan nama Al-Ghazali. Orang ini memang unik, memiliki kemampuan yang mumpuni di berbagai bidang pengetahuan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila banyak sebutan yang dialamatkan terhadapnya. Mulai dari teolog, fuqaha, filsuf, sufi, yang bergelar Hujjatul Islam. Banyaknya gelar yang dialamatkan terhadapnya mencerminkan bahwa, wawasan keilmuannya begitu luas dan dalam. Kita bisa melihat khazanah keilmuan Al-Ghazali dari karya-karyanya yang sangat banyak yang masih tersimpan rapi hingga sekarang.

Salah satunya kitab Ihya Ulumi al-Din. Sebuah kitab yang ditulis untuk memulihkan keseimbangan dan keselarasan, antara dimensi eksoterik dan esoterik Islam. Kitab ini merupakan perpaduan dari beberapa disiplin ilmu, di antaranya fikih, tasawuf, dan filsafat. Kitab lain yang juga terkenal adalah Maqasid al-Falasifah yang berisi ringkasan ilmu-ilmu filsafat, dijelaskan juga ilmu-ilmu mantiq atau logika, fisika, dan ilmu kalam.

Imam Al-Ghazali atau lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali At-Thusi (w. 505/1111). Ia adalah seorang ulama yang hidup pada saat pemikiran keagamaan di dunia Islam mengalami perkembangan dan keberagaman. Lahirnya pemikiran  dan gagasan dari Al-Ghazali memberi warna dan corak intelektualitas di dunia Islam.

Di satu pihak ia dikenal sebagai Hujjatul Islam, disanjung karena telah berhasil mempertahankan ajaran Islam dari berbagai pengaruh, dengan argumentasi yang jitu dalam menghadapi berbagai golongan filsuf yang mendewakan rasio (akal). Di samping dipuja, ia di cap sebagai biang kerok kemunduran Islam, karena dianggap anti filsafat. Terlepas dari penilaian yang berbeda-beda, kenyataannya pemikiran Al-Ghazali banyak diikuti masyarakat Islam. Karya-karyanya tak berhenti dibicarakan, terutama Ihya’ ‘Ulumi al-Din yang berisi filsafat etika (akhlak) dan tasawuf, yang banyak dipelajari oleh umat Islam maupun para orientalis. Pemikirannya tidak hanya mencakup ilmu agama atau masalah keislaman saja, tetapi juga meliputi ilmu-ilmu pengetahuan umum.

 

Baca Juga:  Takdir dan Konsep Kebebasan Manusia (Bagian 2)

Pentingnya Moral (Akhlak) Menurut Al-Ghazali

Dalam kitabnya, Mizan Al-Amal, akhlak merupakan bahan pemikiran, bahan utama. Kebanyakan karya-karya Al-Ghazali bersifat etis moralitas yang menjamin kebahagiaan sempurna. Teori etika yang dikembangkannya bersifat religus dan sufi. Hal itu terlihat jelas, penamaan Al-Ghazali terhadap ilmu pada karya-karya akhirnya, setelah dia menjadi sufi, tidak lagi mempergunakan Ilm akhlak, tetapi dengan ilmu jalan akhirat (ilm thariqul akhirat) atau jalan yang dilalui para nabi dan leluhur saleh (al-shalih). Ia juga menamakannya dengan  ilmu agama praktis (ilm al-muamalah).

Ada tiga teori penting mengenai tujuan mempelajari akhlak, yaitu: (a) Mempelajari akhlak sekedar sebagai studi murni teoritis, yang berusaha memahami ciri kesusilaan (moralitas), tetapi tanpa maksud mempengaruhi perilaku orang yang mempelajarinya. (b) Mempelajari akhlak sehingga akan meningkatkan sikap dan perilaku sehari-hari. (c) Karena akhlak adalah salah satu faktor subyek teoritis yang berkenaan dengan usaha menemukan kebenaran tentang hal-hal moral, maka dalam penyelidikan akhlak harus terdapat kritik yang terus-menerus mengenai standar moralitas yang ada, sehingga akhlak menjadi suatu subyek praktis, seakan-akan tanpa maunya sendiri.

Al-Ghazali setuju dengan teori kedua. Dia menyakatakan bahwa studi tentang ilmu al-mu’amalah dimaksudkan guna latihan kebiasaan. Tujuan latihan adalah untuk meningkatkan jiwa agar kebahagiaan dapat dicapai di akhirat. Tanpa kajian ilmu ini, kebaikan tak dapat dicari dan keburukan tak dapat dihindari dengan sempurna. Prinsip-prinsip moral dipelajari dengan maksud menerapkan semuanya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Ghazali menegaskan bahwa pengetahuan yang tidak diamalkan, tidak lebih baik daripada kebodohan. Berdasarkan pendapatnya ini, dapat dikatakan bahwa akhlak yang dikembangkan Al-Ghazali bercorak teologis, sebab ia menilai amal mengacu pada akibatnya.

Corak etika ini mengajarkan, bahwa manusia mempunyai tujuan yang agung, yaitu kebahagiaan di akhirat, dan bahwa amal itu baik kalau menghasilkan pengaruh pada jiwa yang membuatnya menjurus ketujuan tersebut, dan dikatakan amal itu buruk, kalau menghalangi jiwa mencapai tujuan. Masalah kebahagiaan menurut Al-Ghazali, kebahagiaan ukhrawi (al-sa’adah al-ukhrawiyah), bisa diperoleh jika persiapan dengan mengendalikan sifat-sifat manusia dan bukan dengan membuangnya. Kelakuan manusia dianggap baik, jika itu membantu bagi kebahagiaan akhiratnya.

Baca Juga:  Makanan Asli Manusia Bukan Makanan Hewan

Karena itu, ilmu dan amal merupakan syarat pokok memperoleh kebahagiaan ukhrawi. Barang siapa yang gagal mendapatkannya, maka ia adalah lebih hina dari hayawan yang rendah, karena hewan adalah makhluk yang akan musnah, sedangkan orang-orang yang gagal tersebut akan menderita dan sengsara. Kebahagiaan ukhrawi mempunyai empat ciri khas, yakni berkelanjutan tanpa akhir, kegembiraan yang tanpa duka-cita, pengetahuan tanpa kebodohan, dan kecukupan (ghina) yang tak membutuhkan apa-apa lagi guna kepuasan yang sempurna.

Tentu saja, kebahagiaan yang dimaksud sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, adalah surga. Sedangkan tempat kesengsaraan adalah neraka. Nasib setiap orang akan ditentukan pada Hari Kebangkitan. Pada Hari Kebangkitan, jiwa itu dikembalikan lagi ke jasad, orang yang bangkit itu demikian akan mempunyai badan dan jiwa, dan akan hidup abadi dalam bentuk yang seperti semula.

Kebahagiaan di surga ada dua tingkat, yang rendah dan yang tinggi. Yang rendah terdiri dari kesenangan indrawi mengenai makanan dan minuman, pergaulan dengan bidadari, pakaian indah, istanah dan seterusnya. Tingkat ini pantas bagi orang yang baik kelas rendah yang disebut sebagai orang saleh (abrar al-shalihun), yang takwa kepada Allah (muttaqun) dan orang-orang benar (ashhab al-yamin). Kesenangan indrawi akan memuaskan sekali bagi mereka, karena untuk kenikmatan seperti itulah mereka membekali diri dalam hidup ini.

Kebahagiaan yang lebih tinggi ialah berada dekat Allah, dan senantiasa menatap wajah yang Sang Maha Agung. Kenikmatan (ru’ya) dan pertemuan (al-liqa) dengan dia merupakan kebahagiaan tertinggi, puncak kesejahteraan dan kebahagiaan Allah yang terbaik. Tidak ada surga yang lebih nikmat daripada memandang keindahan Ilahi. Kesenangan indrawi seumpama, adalah kesukaan yang dinikmati hewan makan rumput di padang. Sedangkan kesenangan yang disebut terakhir, adalah kesenangan spiritual yang disebut dalam Hadits Bukhari, No: 4407:

Baca Juga:  ONTO-EPISTEMOLOGI OBJEK SAINS: Acuan Ibn Sina dan Karl Popper (Bagian Satu)


حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ذُخْرًا بَلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَرَأَ أَبُو هُرَيْرَةَ قُرَّاتِ أَعْيُنٍ

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Nashr. Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Al-A’masy. Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi saw., Allah swt. berfirman: “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dibenak manusia. “Sebagai simpanan, biarkan apa yang diperlihatkan Allah pada kalian.” Lalu beliau membaca ayat: “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (As-Sajdah: 17). Abu Mu’awiyah berkata: dari Al-A’masy dari Abu ShalihAbu Hurairah membaca dengan lafazh ‘Qurraat A’yun.

Kebahagian tertinggi bagi manusia adalah mencapai apa yang diperoleh sama seperti Nabi, orang suci (para auliya’), ahli makrifah (‘arif), yang paling jujur (shiddiqun), yang mendekatinya (muqarrabun), yang mencintainya (muhibbun), dan yang ikhlas (mukhlishun). Tiap tingkat kebahagiaan dibagi lagi menjadi anak tingkat atau anak derajat kebahagiaan yang tak terbilang jumlahnya. Anak derajat terendah dari tingakat yang tertentu, bersinggungan dengan anak derajat tertinggi dari tingkat yang langsung di bawahnya.

0 Shares:
You May Also Like