Tiga Lapis Makna: Tafsir Keburukan dan Kebaikan

Pagi hari ini merenungi surah An-Nisa ayat 79, yang sudah sering didengar karena banyak menjadi bahan ceramah dan diskusi. Namun, setelah direnungkan lebih dalam, ternyata makna batin ayat ini demikian dalam dan berlapis. Setiap ayat dalam Al-Qur’an selalu mempunyai makna lahir dan makna batin yang lebih dalam.

“Kebaikan apa pun yang ada padamu, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang ada padamu, itu dari dirimu sendiri…” (QS. An-Nisa [4]: 79).

Paling tidak ada 3 lapis makna yang bisa ditafsirkan dari ayat ini: Pertama, adalah makna lahir yang tidak terlalu sulit untuk dipahami, yaitu memang secara rasional sudah jelas dari ayat ini, bahwa kebaikan pasti datang dari Allah Yang Maha Baik, dan keburukan pasti datang dari manusia yang penuh dengan kelemahan dan kelalaian.

Kedua, adalah makna lapis kedua, yaitu makna batin yang memerlukan sedikit renungan untuk menyadari dan memahaminya. Setiap perbuatan yang kita lakukan, baik perbuatan buruk maupun perbuatan baik, mempunyai dampak jangka panjang yang tidak akan langsung hilang. Walapun Tuhan sudah mengampuni perbuatan buruk yang kita lakukan, atau memberikan pahala pada perbuatan baik kita. Dampak perbuatan buruk ini merupakan sunnatullah.

Ada dua hal yang berbeda antara pemberian ampunan atau pahala di satu sisi, dengan dampak dari perbuatan yang dilakukan di sisi lain. Seseorang yang berbuat buruk, bila bertaubat akan diampuni oleh Tuhan, karena Tuhan Maha Pengampun. Namun, bukan berarti orang tersebut bebas dari dampak akibat perbuatannya tersebut. Setiap perbuatan buruk yang kita lakukan akan membuka jalan dan mempermudah timbulnya perbuatan buruk selanjutnya, membuat rentetan keburukan lain di kemudian hari secara beruntun, bila tidak segera diputus rantainya.

Baca Juga:  9 Nasihat Kehidupan Imam Syafi'i

Perbuatan kita saat ini dipengaruhi oleh perbuatan kita sebelumnya, dan perbuatan kita sebelumnya dipengaruhi oleh perbuatan sebelumnya lagi, demikian seterusnya. Dampak ini akan makin menipis secara berangsur sedikit demi sedikit, bila kita menyadari perbuatan kita dan bertaubat terus menerus. Namun, hal ini memerlukan waktu, karena dampak dari perbuatan buruk kita tidak langsung hilang saat itu juga. Perbuatan kita juga dipengaruhi oleh proses kimia, bioelektrik, hormonal, enzim, reseptor, neurotransmitor, dan lainnya, yang bekerja dalam tubuh kita dan yang bereaksi akibat perbuatan kita sebelumnya juga.

Demikian kompleks dan tak terbatasnya sunnatullah ini. Bahkan perbuatan kita tersebut, tidak hanya berdampak pada diri kita saja, namun bisa berdampak pada orang yang paling kita cintai, keluarga kita, kerabat kita, teman kita, masyarakat di sekitar kita, lingkungan dan seluruh unsur di alam ini. Sunnatullah ini adalah pancaran kehendak Tuhan yang mengisi seluruh celah di alam. Tak ada tempat yang tidak diisi dengan kehendak Tuhan ini. Sunnatullah ini bukan saja terjalin antara Tuhan dan alam semesta tapi juga di antara segenap unsur dalam alam semesta. Setiap unsur di alam bisa saling mempengaruhi dan saling berdampak.

Ayat di atas mempunyai makna bahwa semua keburukan yang kita lakukan adalah akibat dari diri kita sendiri, yang mungkin dilakukan sebelumnya di masa lalu, jadi jangan menyalahkan keadaan, lingkungan, dan yang lain, apalagi menyalahkan Tuhan. Sebagai contoh sederhana, misalnya kita mengetahui ada orang yang sangat membutuhkan bantuan, di lubuk hati kita ingin membantu, namun entah mengapa kita tidak segera bergerak untuk membantu. Kita sudah medapat “hidayah” untuk melakukan kebaikan, namun tidak memperoleh “taufik” untuk bergerak melaksanakannya. Hal ini bisa merupakan salah satu dampak dari perbuatan buruk kita sebelumnya, yang menghalangi datangnya taufik tersebut.

Baca Juga:  TERBARU! Terjemah Matsnawi Rumi

Seorang pejabat yang mendapat godaan uang korupsi yang besar, hati nuraninya melarangnya untuk melakukannya, namun entah mengapa dia tetap melakukan. Hal ini bisa juga akibat dari perbuatan buruknya di masa lalu, yang membuka jalan dan mempermudah timbulnya perbuatan buruk selanjutnya. Banyak sekali fenomena seperti itu terjadi dalam kehidupan kita.

Bagi kita yang awam, yang hanya menggunakan mata lahiriah, seringkali tidak bisa melihat dampak perbuatan kita tersebut, namun para wali, yang menggunakan mata batiniah dapat melihatnya. Para wali yang sudah tersingkap hijabnya itu, sangat takut dan sangat menjaga agar tidak terkena dampak tersebut. Mereka tidak mengharapkan pahala atau surga, dan mereka tidak takut neraka, tapi mereka sangat takut akan dampak perbuatan mereka yang bisa menyebabkan kedekatan mereka kepada Tuhan menjadi berkurang. Ini adalah ciri orang mukmin yang disebutkan dalam surah Al-Mukminun ayat 3:

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia.”

Ketiga, adalah makna batin yang lebih dalam lagi, yang agak sulit dipahami, dan memerlukan perenungan yang lebih dalam serta hati yang terbuka. Sebagai awam, kita hanya menyadari dan merasakan adanya kehidupan di dunia ini saja. Padahal kehidupan ruh kita ini melalui suatu perjalanan, dari berbagai alam, dimulai dari alam ruh, alam janin, alam dunia, dan alam akhirat. Ketika janin sedang berada di rahim ibu, yang dirasakan seolah olah kehidupan yang ada hanyalah di rahim ibu itu saja. Sampai saatnya janin keluar dari rahim ibu, baru dia tahu ada kehidupan lain setelah kehidupan di rahim ibu. Demikian pula setelah lahir ke dunia, kita tidak tahu bahwa akan ada alam setelah alam dunia, bila tidak dikaruniai Tuhan untuk mengetahuinya. Terlebih lagi di alam ruh, yang saat itu kita masih belum merupakan sesuatu yang bisa disebut.

Baca Juga:  Jejak Sufi Perempuan (2): Fatimah al-Naisaburiyyah, Guru Dzun Nun al-Misri

“Bukankah pernah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan: 1).

Tuhan Yang Maha Kasih telah mengangkat kita dan memberi anugerah wujud serta nikmat kesempurnaan dan keindahan. Dalam surah Al-A’raf ayat 172 disebutkan bahwa di alam ruh ini semua ruh manusia diminta bersaksi tentang keagungan dan kebenaran hakiki Tuhan. Manusia juga bersaksi bahwa mereka telah memilih isti’dad (potensi)-nya masing-masing, yang unik dan berbeda untuk setiap manusia. Namun, semua tajalli Tuhan pastilah indah, baik, dan benar, karena Tuhan Maha Indah, Maha Baik, dan Maha Benar.

Manusia menjadi berwujud karena adanya Wujud Tuhan yang ber-tajalli (bermanifestasi) sesuai dengan wadahnya. Ketika itu ruh manusia sudah bersaksi bahwa mereka memilih sesuai dengan wadah dan isti’dad-nya masing masing.

Ini adalah makna batin lapis ketiga dari surah An-Nisa ayat 79, bahwa ruh manusia sebenarnya telah diberikan pilihan sesuai isti’dad dan wadahnya. Jangan berprasangka apalagi menyalahkan Tuhan dalam kehidupan kita. Kebaikan apa pun yang ada padamu, adalah dari sisi Tuhan, dan keburukan apa pun yang ada padamu, itu dari dirimu sendiri. Wa-Allahualam

15 Shares:
You May Also Like