Mencoba Meraba Makna Batin Ayat Kursi

“Allah. Tak ada pujaan kecuali Dia. Yang Selalu Hidup dan Jaga (Mengawasi/Melindungi/Memelihara). Tak menghinggapinya rasa kantuk (keterlenaan), tak juga tidur (ketaksadaran). Di bawah genggaman Wujud/Kuasa-Nya semua yang di lelangit (fisik dan ruhani) serta di bumi. (Begitu luhur dia sehingga) tak ada yang mampu membantu menghubungkan (kita, yang fakir) dengan-Nya kecuali sesiapa yang diberi izin/kemampuan untuk itu. Tak lolos dari pengetahuan-Nya apa saja yang dikemukakan atau disembunyikan oleh mereka (para makhluk-Nya). Dan tak ada yang bisa menguasai sedikit pun dari ilmu-Nya kecuali yang Dia kehendaki/beri kemampuan untuk itu. Sedemikian jembar kursi-kendali (kemahatahuan)-Nya (atas segala sesuatu) sehingga mencakupi lelangit dan bumi,. Dan tak membuatnya lelah pemeliharaan keduanya, sedang Dia Mahaluhur dan Maha Agung” (QS. Al-Baqarah [2]: 255).

Ayat ini bicara tentang Allah Yang Maha Transenden (Munazzah/Berbeda dan Terpisah dari ciptaan-Nya) dengan segala Kuasa, Pengetahuan, dan Pengendalian terus-menerusnya atas semua Ciptaan-Nya, tentu dengan merujuk kepada ciptaan-ciptaan-Nya. Lalu, meski seolah sepintas, Allah menyisipkan suatu hal penting di ayat ini. Yakni, tentang adanya perantara-perantara (Rasul-rasul dan Nabi-nabi, serta para awliya’)-Nya yang dekat dengan-Nya, memiliki makrifat tentang-Nya, dan dapat menampung imanensi (keintiman)-Nya dengan makhluk-Nya, berkat maqam ruhani mereka. Sehingga melalui mereka kita bisa berharap dapat mencapai (setidaknya maqam-maqam tanzzul)-Nya.

Menarik bahwa ayat tentang para pemberi syafaa’at itu diletakkan di tengah, sejajar dengan peran perantaraan-Nya. Lalu, seolah Allah Swt. tak ingin pembacanya salah paham dengan mengira bahwa Allah bisa dicapai sepenuhnya, menutup lagi dengan ayat-ayat yang menekankan sifat Transendensi-Nya. Jadi, pengungkapan sifat Imanensinya, dihimpit kanan-kiri/atas-bawah oleh ayat-ayat yang menegaskan Transendensi-Nya. Bahwa setinggi apa pun maqam ruhani seseorang, yang bisa diraihnya hanyalah tanazzul-Nya yang Imanen itu. Nabi Muhammad Saw. Sang Insan Kamil (al-Insan al-Kamil) pun paling jauh “hanya” bisa mencapai martabat tanazzul Ahadiyah-Nya. Sedang, Dzat-Nya selalu tinggal sebagai Ghaybul Ghuyub (Yang Gaib dari semua Yang Gaib), dan tak pernah tercapai manusia.

Baca Juga:  Hermeneutika Sufistik Al-Ghazali atas QS. Adz-Dzariyat 51:56

Ayat ini mencakup tentang Allah Swt. dan alam semesta selebihnya (maa siwa-Allah) dan (cara ber)-hubungan makhluk dengan-Nya. Inilah “koentji”. Mungkin itu sebabnya ia disebut ayat Al-Qur’an yang paling agung. Wa-Allah a’lam

0 Shares:
You May Also Like