Terlalu Banyak Narasi Perang dalam Sejarah Islam

“Mbak, jurusan Sejarah Peradaban Islam ya?” “Iya.” “Oo berarti belajar tentang perang-perangan gitu ya.. Perang Badar, Uhud, Khandaq dst…”

Saya agak tercengang. Sebuah kebetulan, tiga kali saya mengalami obrolan di atas, dengan tiga orang berbeda—teman sebaya, teman ibu, dan adik kelas jarak tiga tahun dari saya. Artinya, sepantaran, lebih tua, dan lebih muda. Bagaimana bisa generasi yang berlainan, saat mengingat Sejarah Islam, pikirannya selalu tertuju pada kata perang?

Sobat, apa yang paling kalian ingat tentang sejarah Nabi Muhammad? Sederet perangkah—Badar, Uhud, Khandaq? Agaknya kita telah akrab dengan sampul buku Sejarah Islam bergambar seorang penunggang kuda yang mengacungkan sebilah pedang, atau berlembar-lembar kisah peperangan. Inilah yang perlu dikulik, mengapa sejarah Islam sering berkesan tentang peristiwa perang?

Barangkali hal ini karena historiografi Islam dalam buku-buku sekolah atau umum yang menyuguhkan porsi tidak seimbang, yakni terlalu banyak narasi peperangan, khususnya riwayat hidup Nabi Muhammad. Atau visualisasi yang kebanyakan menampilkan adegan perang. Menurut Irfan Amalee, Cofounder Peacegen, sejarah Islam terlalu sibuk berbicara suksesi khilafah, yakni politik, yang terkadang berdarah-darah, bukan sejarah sosial atau peradaban.

Oke, peperangan adalah salah satu peristiwa di zaman Nabi. Sebuah fakta sejarah. Namun, dari 8000 hari kenabian, hanya 800 hari untuk peperangan, itu pun dengan aturan-aturan yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan tetap menjaga ekosistem—tidak memotong tetumbuhan, tidak menyerang warga sipil, tidak merusak rumah ibadah termasuk di dalamnya gereja, dan rumah ibadah agama lain.

Hidup Nabi tak hanya dikontribusikan dalam dunia militer, beliau adalah pemimpin negara, niagawan, seorang ayah, suami, dan tentunya pendidik. Beliau lebih dikenal oleh masyarakat saat itu dengan khuluqul adzim (akhlak yang agung), rahmatan lil ‘alamin, dan sebutan-sebutan indah karena akhlaknya.

Baca Juga:  BUAT APA PUASA?!

Narasi Perang Memicu Terorisme

Masih banyak beberapa orang yang menganggap perang adalah ajaran Islam atau cara-cara kekerasan lainnya dengan dalih ayat-ayat perang yang digunakan tidak sesuai konteks. Terkadang kekerasan yang melampaui batas dianggap sebagai ketegasan. Banyak juga yang masih kesulitan membedakan konteks budaya perang saat itu dan ajaran Islam.

Terlalu banyak narasi peperangan di bacaan dan pengajian juga-lah—menurut salah seorang mantan napidana terorisme (kami rahasiakan identitasnya) dalam materi Voice of Moderation oleh Indika Foundation—memicu hawa panas dalam dirinya dan kawan-kawannya untuk berperang. Kurangnya narasi damai dalam agama dan berpikir kritis, serta semangat beragama yang ekstrim, juga mendorong mereka melakukan kejahatan terorisme.

Kalau kita telisik, dalam Islam, peperangan hanya boleh terjadi bila benar-benar musuh telah atau akan menyerang, yang melanggar perjanjian, dan yang mengganggu stabilitas. Maka dimaklumi untuk balik menyerang, karena dalam peperangan itu bertujuan menciptakan kehidupan yang harus dijaga, ada kebenaran yang harus ditegakkan, dan ada perdamaian yang harus dibela. Sekali lagi, dengan ketentuan aturan yang mengikat.

Jika musuh mengutarakan perdamaian atau menyerah, maka kita wajib mengantarnya (menjamin keselematannya) menuju tempat tinggalnya. Pesan Allah dalam surah al-Anfal; 61, “Jikalah mereka condong pada perdamaian, maka condonglah padanya, dan tawakkal-lah pada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Dalam hal lain, dikatakan pula, bahwa orang-orang mukmin mempunyai sifat tak suka berperang, hal itu digambarkan Al-Qur’an dalam surat al-Baqarah: 216, “Telah diwajibkan kalian berperang, padahal kalian membencinya. Dan boleh jadi, hal yang kalian benci adalah baik untuk kalian. Dan boleh jadi, hal yang kalian sukai adalah buruk untuk kalian.”

Pada waktu diwajibkannya peperangan pun, muslimin tak semuanya diwajibkan ikut berperang, sebagian dianjurkan untuk “liyatafaqqahu fi ad-din, memperteguh ilmu agama” (tengok surah At-Taubah: 122) hal itu dikarenakan untuk memelihara keilmuan dan membangun peradaban Wallahu a’lam

0 Shares:
You May Also Like