KALAU PUN TUHAN BELUM BISA DIBUKTIKAN SEBAGAI PASTI ADA, SETIDAKNYA KITA TAK BISA MENGATAKAN BAHWA DIA PASTI TIDAK ADA

Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa, sebesar dan sedahsyat apa pun makhluk yang bernama manusia ini, dia hanya besar dan dahsyat relatif terhadap batas-batas alam pemikirannya saja? Karena bukankah, betapa pun juga dia hanya bisa mengukur dirinya dengan dirinya juga? Bahwa sebetulnya tetap saja dia punya tempurung pemikirannya sendiri, betapa pun (relatif) besar tempurung pemikirannya itu? Sementara jika dibandingkan dengan alam semesta, apalagi dengan sesuatu yang mungkin berada di balik dan menjadi sumber alam semesta itu—sebut saja Tuhan, atau Pencipta, Sebab Awal, atau apa saja yang kita mau—bahwa kita manusia sesungguhnya kecil dan sederhana saja? Memang bisa saja orang bilang bahwa keberadaan sesuatu di balik alam semesta ini tak bisa dibuktikan. Tapi, bukankah tak bisa dibuktikannya sesuatu—oleh kita, manusia, yang sedang kita persoalkan batas-batas pemikirannya ini—bukan juga berarti ia pasti tidak ada?

Nah, sekarang mari kita andaikan bahwa manusia ini sebetulnya hanya besar dalam batas-batas pemikirannya sendiri, tapi kecil dan terbatas terhadap alam semesta dan sesuatu—Tuhan—yang bisa jadi berada di baliknya? Konsekuensinya, pertama, seaneh apa pun keyakinan kepada adanya Tuhan dengan segala sifatnya, tetap saja kemungkinan itu tidak bisa kita sisikan. Kenapa? Bukankah hal itu bisa saja terasa aneh hanya karena keterbatasan dan ketidakmampuan kita untuk memikirkannya? Bahwa kalau saja inteligensia manusia itu lebih besar dari yang pada kenyataannya dia miliki sekarang, bisa jadi keberadaan Tuhan itu bisa dijelaskan secara inteligen, alias tidak aneh?

Kedua, masih karena sebab atas batasan-batasan yang sama, kegiatan menyembah Tuhan bisa saja tidak aneh sama sekali. Termasuk bersembahyang kepada-Nya. Karena, jangan-jangan manusia bersembahyang itu—yakni tunduk dan merunduk itu—hanya bagian dari keniscayaan mengikuti ritme alami kehidupan yang memang harus bergerak serasi—dalam hal apa pun, fisik, psikologis, maupun spiritual—dengan alam seluruhnya yang juga tunduk dan merunduk, kepada apa yang berada di balik alam itu. Bukankah, seperti dikatakan oleh Imam Sya’rani, manusia itu sesungguhnya bersembahyang sejalan dengan sembahyangnya semua unsur alam semesta selebihnya?  (Baca buku, Buat Apa Shalat?! Bab shalat menurut Imam Sya’rani). Hanya bedanya, kecuali manusia, unsur alam semesta selebihnya bersembahyang kepada Tuhan secara niscaya tanpa bisa memilih kemungkinan selainnya? Sementara manusia, yang dikaruniai karsa bebas, bisa memilih bersembahyang kepada-Nya atau tidak bersembahyang kepadanya? Bahwa sesungguhnya, demi kebahagiannya dan keselarasan hidupnya dia memang harus bersembahyang? Yang jika tidak, bisa-bisa justru dia menderita akibat keterasingan dan ketersisiannya dari kekeluargaannya dengan alam dan Tuhan yang berada di balik semua ini?

Baca Juga:  Mengulik Nasionalisme dalam Islam (1)

Memang, apa yang saya tulis ini bukan pembuktian tentang adanya Tuhan dan sejenisnya, tapi—seperti renungan-renungan saya sebelumnya—hanyalah jalan-jalan pemikiran untuk membawa kita ke suatu arah penjelasan tentang hidup dan hakikatnya. Semoga bermanfaat.

7 Shares:
You May Also Like