Saluran Cerna yang Menakjubkan

Sungguh nikmat masih diberi kesempatan di pagi hari minum kopi sambil makan roti bakar. Hal itu bisa terjadi karena karunia-Nya yang tiada tara, yang patut kita syukuri, berupa saluran cerna kita.

Saluran cerna merupakan organ terbesar dalam tubuh kita, yang mempunyai berbagai fungsi yang menakjubkan antara lain; sebagai benteng penghubung dengan dunia luar, fungsi digesti dan absorpsi makanan, fungsi kekebalan tubuh, fungsi sekresi, fungsi endokrin, fungsi saraf sebagai otak kedua kita, mikroflora dengan adanya triliunan bakteri yang ada di usus, dan fungsi lain.

Luas permukaan saluran cerna, mulai dari mulut sampai anus, bila dibentangkan, lebih kurang sebesar lapangan tenis. Hal ini karena adanya bermilyar lipatan atau jonjot di permukaan dalam saluran cerna. Setiap saat permukaan saluran cerna yang luas itu kontak dengan milyaran benda asing yang berupa makanan, minuman, virus, bakteri, jamur, alergen, dan antigen.

Dapat dibayangkan, bila saluran cerna tidak punya sistem yang menakjubkan, yang bisa membedakan mana yang berguna dan mana yang harus ditolak. Maka akan muncul berbagai macam penyakit. Misalnya infeksi, bila yang tertelan dan diserap oleh usus adalah virus, bakteri, jamur, dan parasit. Atau penyakit alergi (asma, eksim, biduran, dan yang lain), bila yang masuk adalah alergen. Atau risiko penyakit autoimun, bila yang sering tertelan dan diserap adalah antigen.

Namun, yang menakjubkan usus kita secara cerdas, dapat mengenal satu persatu benda asing tersebut, mana yang berguna bagi tubuh dan diserap, dan mana yang tidak berguna dan ditolak. Usus kita setiap saat bertasbih dengan kecerdasannya, dalam prosesnya, tidak pernah salah dan secara menakjubkan memilih sendiri zat yang berguna seperti makanan yang akan dicernanya. Bila kita makan protein akan keluar enzim pencerna protein, bila makan karbohidrat ada enzim pencerna karbohidrat, demikian pula bila makan lemak akan disekresi enzim pemecah lemak. Semuanya berjalan sendiri secara sangat efektif, cepat, otomatis, dan hampir tidak pernah salah.

Baca Juga:  Metafora Ibn 'Arabi tentang Status Agama-Agama Pra-Islam

Dalam usus kita terdapat kotoran atau feses yang dianggap menjijikkan, hina, dan melambangkan kerendahan. Namun, sebenarnya kotoran itu adalah sesuatu yang sangat menakjubkan juga. Dalam kotoran itu terdapat triliunan bakteri yang berguna bagi tubuh kita, bahkan merupakan suatu sistem organ tersendiri, yang tanpa bakteri itu kita tidak bisa hidup. Mereka merupakan makhluk cerdas yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh kita, nutrisi kita, kesehatan badan kita, penghubung antara usus dan otak yang mempengaruhi emosi dan perilaku kita, serta banyak peran lain yang masih diteliti.

Kotoran manusia itu, walaupun tampak ‘hina’ dan ‘rendah’ merupakan suatu obat tersendiri yang sangat bermanfaat. Ilmu kedokteran modern telah menemukan metoda ‘transplantasi feses’ (memindahkan feses yang sehat kepada pasien yang sakit), untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang dulunya hampir mustahil untuk disembuhkan.

Dalam  surah Al-Baqarah ayat 26 disebutkan …atau perumpamaan sesuatu yang (bahkan) lebih hina (rendah) daripada itu. Adapun orang-orang yang telah meraih iman, mereka tahu bahwa (perumpamaan) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka…”

Ada lagi hal yang menakjubkan yang digambarkan dalam Al-Qur’an tentang kotoran ini. “… Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (yang berupa) air susu murni di antara kotoran dan darah… “ (QS. An-Nahl [16]: 66).

Sangat puitis dan kontroversial, belum pernah ada yang menggambarkan air susu (ASI) seperti itu. Pada umumnya susu digambarkan sebagai putih, bersih, lambang kecantikan, kecermelangan, kemakmuran, bukan kotoran dan darah. Kotoran dan darah mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Darah merupakan nutrisi murni bagi seluruh organ tubuh, sedangkan kotoran adalah sisa yang tidak mengandung nutrisi. Darah merupakan zat yang steril, tidak mengandung bakteri, sedangkan kotoran penuh dengan bakteri. Darah melambangkan keagungan, ketinggian, sedangkan kotoran melambangkan kehinaan dan kerendahan.

Baca Juga:  Makna Sila Pertama dalam Pancasila Menurut Mohammad Hatta

Gambaran air susu sebagai zat di antara ‘kotoran’ dan ‘darah’ telah ditafsirkan oleh para ahli tafsir selama berabad-abad. Al-Qur’an melampaui zamannya, baik masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Saat ini, temuan ilmiah kedokteran sangat menyokong pernyataan tentang air susu berada di antara ‘kotoran’ dan ‘darah’.

Pertama, kandungan nutrisi ASI merupakan perantara antara ‘nutrisi murni’ yaitu darah dan nutrisi yang ada dalam kotoran (yang dulu hanya dianggap sebagai sisa), seperti asam asetat, asam butirat, asam amino, vitamin, dan berbagai zat hasil fermentasi oleh bakteri dalam usus

Kedua, temuan terakhir yang menyangkal teori lama bahwa ASI adalah steril dan tidak mengandung bakteri. Ternyata dalam ASI tedapat bakteri yang berasal dari usus yang secara ajaib melewati darah dan bermigrasi ke dalam kelenjar air susu ibu. Sehingga ASI mengandung nutrisi yang lengkap seperti dalam darah, bahkan lebih lengkap, sekaligus mengandung bakteri yang berguna, seperti dalam kotoran. Wa-Allahu’alam

13 Shares:
You May Also Like