Seni Agar Allah Jatuh Cinta ala Sufi (Bagian 2)

Imam Ibnu Rajab menyebutkan bahwa ada dua macam para wali yang mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini berdasarkan hadis kudsi yang telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya (https://baca.nuralwala.id/seni-agar-allah-jatuh-cinta-ala-sufi-bagian-1/).

Pertama, para wali yang mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melaksanakan ibadah fardu, baik berupa melakukan kewajiban-kewajiban maupun meninggalkan larangan-larangan.

Kedua, para wali yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah sunah setelah melaksanakan ibadah fardu. Dengan demikian, jalan yang harus digunakan oleh setiap sâlik adalah jalan yang disyariatkan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Sebab, tidak ada jalan yang bisa mengantarkan dan mendekatkan seseorang kepada Allah serta meraih derajat kewalian dan cinta-Nya selain jalan yang disyariatkan-Nya melalui Rasulullah saw. (Jâmi‘ al-‘Ulûm wa al-ikam, 2008: 775).

Oleh karena itu, menurut Imam Ibnu Rajab, derajat para wali juga terdiri dua jenis. Pertama, derajat al-muqtaidîn aṣḥâb al-yamîn (orang-orang yang lurus dari kalangan golongan kanan). Mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah fardu.

Kedua, derajat as-sâbiqîn al-muqarrabîn (orang-orang yang terdahulu yang mendekatkan diri kepada Allah). Mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunah secara bersungguh-sungguh. Hal ini mereka lakukan setelah mengerjakan ibadah-ibadah fardu. Selain itu, mereka meninggalkan semua perkara makruh dalam rangka berhati-hati (hlm. 775-776).

Perbuatan-perbuatan tersebut pada gilirannya akan membuat Allah jatuh cinta. Ketika Allah mencintai seseorang, maka Dia akan Menganugerahkan cinta-Nya, ketaatan, menyibukkan diri dengan zikir, dan khidmah (pengabdian) kepada-Nya. Oleh karena itu, beberapa hal tersebut menjadikan seseorang dekat dengan Allah. Selain itu, dia juga memiliki kedudukan dan kehormatan di sisi-Nya. Orang yang sudah mencapai derajat ini, maka dia tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali terhadap hal-hal yang mendekatkan dirinya kepada kekasihnya (hlm. 776-777 & 779).

Pembagian dua jenis derajat para wali tersebut sejalan dengan keterangan Al-Qur’an. Dalam hal ini, surat Fâṭir (35): 32 menyebutkan tiga jenis umat Islam, yaitu:

Baca Juga:  Meniti Jalan Hidup Nabi: Syarat Mereguk Cinta Ilahi

Pertama, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri (fa minhum âlimun li nafsihî). Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan haram dan meninggalkan kewajiban-kewajiban.

Kedua, di antara mereka ada yang pertengahan (wa minhum muqtaid). Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan kewajiban-kewajiban, meninggalkan perbuatan-perbuatan haram, meninggalkan sebagian perbuatan mubah, dan mengerjakan sebagian perbuatan makruh.

Ketiga, di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah (wa minhum sâbiqun bi al-khairât bi iżnillâh). Mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan wajib, sunah, dan mubah dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram dan makruh (Markaz Tafsîr li ad-Dirâsât al-Qur’âniyyah, Al-Mukhtaar fî Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm, 1436 H.: 438).

Menyatukan Ibadah Lahir dan Ibadah Batin

Sayyidina Umar bin Khattab ra. menyebutkan bahwa perbuatan yang paling utama adalah mengerjakan ibadah-ibadah fardu, menjauhkan diri dari perkara-perkara haram, dan memiliki niat yang tulus dalam mengerjakan ibadah kepada Allah. Hal senada juga disampaikan oleh Sayyidina Umar bin Abdil Aziz ra., yaitu ibadah yang paling utama adalah mengerjakan perkara-perkara fardu dan menjauhi perkara-perkara haram (hlm. 775). Makanya, menurut Syekh Muḥammad Nawawî al-Jâwî, perkara agama yang sangat inti dan urgen bagi setip Muslim adalah empat, yaitu: memiliki akidah yang benar, niat yang tulus, menepati janji, dan menjauhi maksiat (Qar al-Gaiś fî Syar Masâ’il Abî al-Laiś, hlm. 12).

Syekh Nawawî al-Jâwî menyebutkan bahwa ibadah dalam Islam ada dua macam: Pertama, ibadah lahir (al-‘ibâdât al-badaniyyah aâhirah), seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Kedua, ibadah batin (al-‘ibâdât al-badaniyyah al-qalbiyyah), seperti iman, makrifat, tafakur, tawakal, sabar, raja’ (berharap kepada Allah), rida dengan kada dan kadar, cinta kepada Allah, tobat, dan membersihkan diri dari sifat-sifat buruk seperti tamak dan sejenisnya (Syar Kâsyifah as-Sajâ, hlm. 5-6).

Baca Juga:  Agama dan Sains di Tengah Wabah

Menurut Syekh Nawawi al-Jâwî, ibadah batin adalah lebih utama daripada ibadah lahir seperti salat. Adapun ibadah batin yang paling utama adalah iman. Sementara ibadah lahir yang paling utama adalah salat; kedua, puasa; ketiga, haji; dan keempat, zakat. Oleh karena itu, salat fardu merupakan ibadah fardu yang paling utama, dan salat sunah merupakan ibadah sunah yang paling utama. Dan setiap Muslim tidak boleh meninggalkan salat fardu selama masih berakal (hlm. 5-6).

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Menurutnya, paling utamanya kewajiban lahir yang bisa mendekatkan diri kepada Allah adalah salat. Selain itu, kewajiban lahir yang bisa mendekatkan diri kepada Allah adalah menegakkan keadilan, baik dalam skala besar (seperti adilnya seorang pemimpin kepada rakyatnya) maupun dalam sekala kecil (seperti adilnya seorang kepala rumah tangga kepada keluarga dan anak-anaknya) (Jâmi‘ al-‘Ulûm, hlm. 776).

Sementara salah satu ibadah sunah yang paling utama yang bisa mendekatkan diri kepada Allah adalah memperbanyak baca Al-Qur’an dan mendengarkan (bacaan) al-Qur’an seraya memahami dan merenungkan makna-maknanya. Selain itu, beberapa ibadah sunah lain yang bisa mendekatkan diri kepada Allah adalah: memperbanyak zikir yang sejalan antara hati dengan lisan, mencintai para wali dan kekasih Allah karena-Nya, dan memusuhi musuh-musuh Allah karena-Nya (hlm. 780-782).

Menurut Imam Ibnu Rajab, zikir secara mutlak meliputi: salat, tasbih (subanallâh), takbir (allâhu akbar), tahlil (lâ ilâha illallâh), membaca al-Qur’an, belajar Al-Qur’an, mengajarkan Al-Qur’an, dan ilmu yang bermanfaat. Sebagian mazhab Ḥanbalî lebih mengutamakan membaca Al-Qur’an setelah salat Subuh dan Asar daripada membaca tasbih. Namun, ada juga pendapat yang lebih mengutamakan berzikir daripada membaca Al-Qur’an setelah salat fardu, terutama zikir-zikir yang diajarkan oleh Rasulullah saw. (hlm. 942).

Memikat Allah dengan Ibadah Sunah

Baca Juga:  Islam Agama Cinta

Menurut Syekh Nawawî al-Jâwî, mendekati Allah dengan mengerjakan ibadah sunah (setelah mengerjakan ibadah fardu) memiliki kedudukan yang sangat utama di sisi Allah karena ia dikerjakan semata-mata khidmah (melayani dan mengabdi) kepada Allah. Berbeda dengan fardu, di mana terkadang dilaksanakan karena takut kepada siksa Allah. Khidmah (pengabdian) seorang hamba ini pada gilirannya akan membuat Tuannya (Allah) jatuh cinta. Dan kecintaan Allah kepada hamba-Nya ini merupakan tujuan pamungkas semua orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan cara khidmah kepada-Nya (Syar Marâqiyy al-‘Ubûdiyyah, hlm. 9).

Oleh karena itu, khidmah dengan ibadah sunah ini ditujukan kepada orang yang melaksanakan fardu, bukan orang yang meninggalkan fardu. Sebab, orang yang menyibukkan diri dengan ibadah sunah hingga meninggalkan ibadah fardu, maka dia sungguh telah tertipu. Adapun orang yang menyibukkan diri dengan ibadah fardu hingga meninggal ibadah sunah, maka dia dimaafkan (tidak apa-apa) (hlm. 9).

Akan tetapi, orang yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah fardu dan ibadah sunah sekaligus, maka Allah akan mendekatinya dan mengangkat derajatnya; dari derajat iman ke derajat ihsan. Dengan demikian, dia menyembah Allah dengan kehadiran, kekhusyuan, dan kerinduan kepada-Nya, sehingga dia bisa menyaksikan Allah dengan mata batinnya. Maka, dia seakan-akan melihat Allah (hlm. 9).

Dalam kondisi seperti itulah, hatinya dipenuhi dengan makrifat dan cinta kepada-Nya. Rasa cintanya kepada Allah ini akan terus bertambah hingga tidak ada satu pun yang tersisa dalam hatinya selain kecintaan kepada-Nya. Maka, dia akan menampilkan perilaku-perilaku yang sejalan dengan kehendak hatinya–yang sudah dipenuhi rasa cinta kepada Allah. Kondisi ini dikenal dengan istilah “tidak ada satu pun yang tersisa dalam hatinya selain Allah”. Artinya, tidak ada satu pun yang tersisa dalam hatinya selain makrifat, kecintaan, dan zikir (ingat) kepada Allah Yang Maha Cinta (hlm. 9). Bersambung….

Wallâhu A‘lam wa A‘lâ wa Akam…

9 Shares:
You May Also Like