Bersembunyi dalam Rahasia Tuhan

Pada suatu kajian di kelas, seorang guru dengan nada cinta yang lembut memberikan nasihat perlahan-lahan kepada kami. Saya dengan seksama medengarkan nasihat baik itu. Dengan penuh ketenangan, telinga dan hati saya menerima petuah cinta yang teruntai dari seorang pencinta yang sesungguhnya. Demi kata, dengan sendiri nasihat itu merasuk dalam hati, menghunjam dalam sanubari. Saya masih sangat teringat kajian yang mengesankan itu.

Sampai detik ini, nasihat yang muncul dari lisan yang basah dengan zikir, selalu mengiringi setiap langkah menuju-Nya. Nasihat yang tidak lain terucapkan dari seorang guru besar, Prof. Dr. Nasarudin Umar, MA. Kami, santri-santri beliau ketika di Pesantren Pasca-Tahfidh Bayt Alquran Pusat Studi Alquran Jakarta, selalu menanti kajian-kajian yang beliau sampaikan. Kami sangat bahagia ketika beliau memberikan waktunya untuk menyampaikan petuah-petuah cinta.

Nasihat yang saya maksud dalam tulisan ini, adalah ketika di kelas, dengan lembut beliau manasihati: “Sembunyikan dirimu dalam rahasia Tuhan. Sembunyikan dalam tanah ketidakterkenalan. Jangan berupaya agar menjadi orang yang terkenal. Kalaupun nantinya kamu menjadi orang yang terkenal, itu bukan dari usaha-usahamu, namun pemberian dari Allah swt.”

Kalimat indah itu yang sampai sekarang masih melekat dalam hati saya. Ketika itu, semua santri dalam kelas tenang, sunyi, sepi mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang beliau sampaikan. Semua kalimat yang indah itu kami perhatikan, seakan-akan kami dengan mudah menghafalkan apa yang beliau sampaikan. Pelan-pelan, lembut, tulus dari hati yang terdalam. Sampai-sampai kami bisa mendokumentasikan setiap untain kalimat indah itu dalam sebuah tulisan.

Setelah beberapa lama saya mendapatkan nasihat itu, ternyata dikemudian hari saya baru mengetahui bahwa kalimat indah itu disarikan dari kalimat hikmah yang disampaikan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Hikam. Semakin hari, saya semakin sering menemukan kalimat itu dalam buku-buku yang saya baca. Demikian lebih kurang maknanya dalam kalimat indah yang dituturkan Syekh Ibnu ‘Athaillah:

“Pendamlah dirimu di dalam tanah ketidakterkenalan,

benih yang tidak pernah dipendam dalam tanah,

tidak akan matang dengan sempurna.

Tidak ada yang lebih manfaat bagi hati,

dibandingkan mengasingkan diri (‘uzlah) yang

memungkinkan hati memasuki kondisi tafakur”.

Baca Juga:  Hermeneutika Sufistik Al-Ghazali atas QS. Adz-Dzariyat 51:56

Dalam untaian kalimat indah ini, banyak sekali makna yang tersirat di dalamnya. Abah Imam Sibawaih El-Hasani, penulis syarah Al-Hikam, memberikan komentar sebagaimana berikut ini:

“Mereka yang berbuat semata karena harus berbuat. Mereka yang bersuara semata karena bersuara. Mereka yang diam semata harus diam. Merekalah yang terpelihara dari kesombongan. Merekalah yang ‘merendahkan diri’ untuk kebenaran, dan mudah menerima kebenaran dari orang lain. Merekalah yang senantiasa memamerkan keberadaan-Nya dan menyembunyikan keberadaan dirinya. Sadarlah, bila kita masih lebih berharga daripada orang lain, kita akan menjadi terbiasa dengan kepura-puraan. Buah yang sempurna keluar dari bibit unggul yang tumbuh di tanah yang subur. Belajarlah rendah hati, engkau akan mudah berbesar hati”.

Sekilas membaca syarah yang disampaikan Abah Imam Sibawaih, mereka yang menyembunyikan dirinya dalam rahasia Tuhan tidak berupaya menampakkan diri agar menjadi terkenal. Mereka tidak akan menjadi manusia pura-pura hanya untuk mendapatkan popularitas. Mereka tidak membutuhkan pengakuan sebagai manusia yang sempurna. Karena kerendahatian, mereka tidak merasa lebih baik dari orang lain. Orang-orang yang mendapatkan petunjuk ini, mereka mengenal dirinya sebagai hamba, sehingga mereka akan sadar diri dan mampu menempatkan dirinya. Mereka tidak akan berbicara jika memang tidak mengaharuskan bicara. Begitupun mereka diam memang karena harus diam. Dalam segala keadaan, mereka selalu dalam petunjuk-Nya. Menunjukkan keberadaan dirinya tidak jauh lebih penting daripada menunjukkan keberadaan Tuhan.

Sangat menarik sekali mengkaji kalimat hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah ini. Kalimat ini merupakan nasihat yang memberikan pemahaman dan menunjukkan langkah dalam perjalanan menuju Tuhan. Untuk sampai kepada Tuhan, selain harus melewati jalan taubat, khauf, raja’, tawakal, dan ikhlas, seorang salik harus menempuh jalan tafakur (refleksi) untuk meraih hal ini. Karena dengan kondisi tafakurlah, seseorang akan menemukan kehadiran dan keberadaan-Nya.

Tafakur merupakan ibadah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah swt. Ibadah mengagumkan yang mempercepat langkah kita menuju Allah swt., dan sangat membantu kita untuk menyadari kodisi spiritual kita. Sebagaimana yang disabdakan Baginda Nabi Muhammad saw:

“Tafakur dalam sehari lebih baik daripada salat selama 60 tahun”.

Cukuplah sabda Beliau saw. ini sebagai bukti betapa kedudukan ibadah tafakur sangat tinggi nilainya di sisi Allah swt. Sampai-sampai, ada keadaan di mana tafakur dalam sehari lebih baik daripada salat selama 60 tahun. Meskipun hadis ini dhaif, namun makna yang tersirat di dalamnya adalah benar. Sebab, ketika seseorang dalam kondisi tafakur, merenungi penciptaan alam semesta dan bahkan merenungi tentang dirinya sendiri, sesungguhnya dia telah beribadah kepada Allah swt. melalui pengetahuan yang mendalam dengan menyertakan perasaan yang jernih serta cahaya spiritual.

Baca Juga:  RINDU KEARIFAN PARA AULIYA

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah swt. sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190-191).

Mereka yang merenungkan penciptaan alam ini, bergantinya siang dan malam dalam segala keadaan, adalah yang mendapatkan keberkahan wawasan dalam bertafakur. Banyak orang yang memiliki informasi lebih tentang alam semesta dalam pikiran mereka, namun tanpa adanya tafakur yang juga mengahadirkan perasaan, mereka tidak akan merasakan keberadaan-Nya. Mereka yang mendapatkan keberkahan wawasan dalam tafakur itu, akan berusaha menghadirkan Allah swt. dalam setiap fonemena yang mereka lihat. Mereka memikirkan langit dan bumi dalam kaitanya dengan Kemahabesaran Allah swt, Sang Pencipta. Sehingga, tumbuhlah dalam hati mereka perasan khauf.

“Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu, ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesunggunya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Fathir [35]: 27-28).

Dalam kalimat hikmah ini Ibnu ‘Athaillah ingin menyampaikan sesuatu yang bisa mengantarkan dalam kondisi tafakur, yaitu dengan cara mempertahankah khumul (menghindari popularitas) dan ‘uzlah (pengasingan diri). Dengan kedua jalan inilah kondisi tafakur akan didapatkan.

Baca Juga:  Menguak Pemikiran al-Ghalayaini dalam Idzatun Nasyi'in

Menghindari popularitas, sejalan dengan nasihat bersembunyilah dalam rahasia Tuhan. Menjauhkan diri dari upaya-upaya agar menjadi manusia yang terkenal. Pengasingan diri bukan berarti tidak berinteraksi sama sekali dengan manusia selamanya, namun dalam beberapa waktu seseorang memang memerlukan waktu untuk beriktikaf. Menyendiri dalam zikir yang mengantarkan seseorang semakin dekat dengan Allah swt. Prof. Dr Jasser Auda menjelaskan dalam bukunya Spiritual Journey bahwa:

“Setiap makhluk hidup―flora, fauna, burung, atau bahkan manusia―melewati suatu periode di mana ia terisolasi dalam kegelapan, sebelum ia mulai tumbuh berkembang dan produktif. Biji-bijian di dalam tanah dan embrio-embrio di dalam telur-telur atau rahim-rahim―pada awalnya―pasti berkembang dalam isolasi, jauh dari faktor-faktor eksternal. Sebuah biji yang ditanam di dalam kegelapan tanah akan melalui sebuah periode perawatan dan pengairan hingga pada akhirnya mulai membentuk akar-akar dan sebuah batang. Hanya setelah itulah tiba waktunya bagi tanaman untuk menerobos tanah dan muncul dipermukaan tanah. Demikian halnya janin tumbuh di kegelapan rahim ibu hingga tulang-tulangnya, organ-organnya dan syaraf-syarafnya terbentuk, kemudian ia menjadi hidup ketika sudah siap hidup di lingkunan luar”.

“Terkadang kita lupa pada kinerja hati dan fokus pada kinerja anggota tubuh lainnya. Hal ini membuat hati semakin keras dan mengantarkan kepada kelalaian; serta menjadikan rintangan-rintangan dan kesulitan-kesulitan dalam perjalanan seseorang menuju Allah swt. Kendati demikian, pengasingan diri untuk tafakur, sebagaimana yang dinasihatkan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah di sini, dapat menjadikan hati bersinar. “Tiada yang lebih bermanfaat bagi hati dibandingkan mengasingkan diri (‘uzlah) yang memungkinkan hati untuk memasuki kondisi tafakur”.

Semakin ke dalam, lama-lama saya semakin merasakan dan mengalaminya sendiri dalam perjalanan ini. Kembali lagi mengingat nasihat gurunda yang terhunjam lekat dalam hati saya itu ketika di kelas, saya ingin menebarkan kembali nasihat itu:  

“Sembunyikan dirimu dalam rahasia Tuhan. Sembunyikan dalam tanah ketidakterkenalan. Jangan berupaya agar menjadi orang yang terkenal. Kalaupun nantinya kamu menjadi orang yang terkenal, itu bukan dari usaha-usahamu, namun pemberian dari Allah swt.” Demikian, Wa Allah A’lam.[]

0 Shares:
You May Also Like