Pemikiran Kalam Kontemporer Muhammad Iqbal

Di dalam catatan terakhir yang diliris beberapa waktu lalu, saya telah menyinggung tentang betapa sulitnya mengkapling pemikiran sosok Muhammad Iqbal pada beberapa term pemikiran keislaman. Apakah ia sebagai seorang pemikir (filsuf), penyair atau seorang sufi kontemporer, serta pemikir dalam bidang kalam dan seorang eksistensial teistik?.

Kesulitan ini dirasa, karena sangat luas cakupan pemikirannya. Pemaparan pandangan Iqbal tak hanya sekedar memberikan komentar saja. Dalam pemikiran teologi Islam, Iqbal bukan tak mewacanakan. Akan tetapi, hampir tak pernah terperinci dalam pembahas pemikiran kalam, karena dalam suatu wacana tak bisa lepas dari kalam.

Bukan rahasia lagi, kalau dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, utamanya pemikiran kalam, ada begitu banyak permasalahan yang terjadi. Dan, begitu banyak perbedaan paradigma berpikir, serta sudut pandang yang menjadi concern suatu tokoh dalam bidang kalam ini. Akar paradigma dan sudut pandang dalam kalam lebih banyak berkisar diseputar alJabbary dan alIkhtiary.

Dalam wacana kalam kontemporer Iqbal memang agak sulit menemukan padangan layaknya dalam wacana kalam klasik, seperti fungsi akal dan wahyu, perbuatan Tuhan, perbuatan manusia dan lain sebagainya, sebagaimana yang seringkali menjadi perdebatan dalam kelompok kalam klasik, seperti Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah, dan aliran kalam lainnya.

Wacana seperti ini sulit ditemukan, karena setting sosial pemikiran di mana Iqbal hidup, umat Islam sedang mengalami kemunduran dan keterpurukan disebabkan kebekuan umat Islam dalam konteks tertutupnya pintu ijtihad, serta bebalnya kaum konservatif yang menolak mentah-mentah pemikiran kalam Mu’tazilah yang dianggap sebagai bagian dari penyimpangan spirit Islam.

Sementara posisi Iqbal sangat menolak konsep-konsep lama yang menyatakan kalau alam bersifat statis. Bagi Iqbal, Islam bersifat dinamis dan mengakui adanya gerak pembaharuan dalam kehidupan sosial manusia. Karenanya, Iqbal mengembangkan semangat dinamika Islam dinamis dan membuang jauh-jauh kebekuan, serta kejumudan, dan juga mengalihkan ijithad individual menjadi ijtihad kolektif.

Baca Juga:  BUAT APA PUASA?!

Dari masalah ijtidah ini, ada beberapa persoalan lain yang kemudian menjadi perhatian Iqbal dan bisa dimasukan kedalam pemikiran kalam kontemporer Iqbal, seperti eksistensi Tuhan, jati diri manusia, dosa, surga, dan neraka, serta takdir.

Iqbal dalam membuktikan eksistensi Tuhan sangat rasional, dan menolak argumentasi kosmologis, dan ontologis, serta teleologis yang digunakan para pendahulunya dalam membuktikan eksistensi Tuhan yang mengatur ciptaan-Nya dari sebelah luar.

Iqbal mencela sikap-sikap sebagian kalangan pengikut fatalisme yang beranggapan kalau kesulitan dan kesusahan yang sering kali alami sebagai suatu takdir yang tak bisa dielakkan dan lari dari tanggung jawab manusia. Iqbal sangat mencela sikap fatalisme ini dan menggambarkan sebagai berikut.

Kita simak perkataan Iqbal, “Adalah kehendak Tuhan, makan sebagian orang melarat dan tertekan dari segala yang baik-baik di dunia ini. Tuhan telah menciptakan penindas dan yang tertindas. tidak ada yang menghendakinya selain Tuhan, dan oleh karena itu kita tidak dapat berjuang melawan takdir kita”.

Selanjutnya, terkait jati diri manusia, tak bisa lepas dari filsafat khudi-nya. Di mana paham ini dapat dilihat pada konsep tentang ego sebagai ide sentral dalam pemikiran filosofisnya. Bagi Iqbal, manusia itu berkembang dalam pengertian organisme jasmani yang terdiri dari berbagai sub ego melalui pimpinan secara konstan dari ego yang lebih tinggi. Sebab, setiap manusia bisa membangun suatu kesatuan pengalaman yang sistematis.

Pada dasarnya setiap manusia yang hidup pada akhirnya untuk mengetahui kepribadiannya dan mengembangkan bakat-bakat yang ada, bukan malah sebaliknya, sebab jika manusia menegasikan diri itu bukan bagian dari ajaran Islam di mana pada hakikatnya hidup merupakan bergerak, dan gerak adalah perubahan.

Filsafat khudi Iqbal tampak sebagai reaksi atas kondisi umat Islam, di mana kaum sufi dianggap telah membawa jauh dari tujuan dan maksud Islam yang sebenarnya. Filsafatnya ini tak bisa lepas paham dinamisme yang dianut Iqbal yang sangat berpengaruh besar atas pandangannya tentang jati diri manusia dalam kehidupan dunia.

Baca Juga:  Menyelami Makna Saudara dalam Perspektif Cinta

Berikutnya, terkait dosa sebagai bagian dari hasil perbuatan manusia, Iqbal memiliki pandangan cukup berbeda dengan para intelektual pada umumnya. Dalam pandangan Iqbal, Al-Qur’an menampilkan ajaran kebebasan ego manusia bersifat kreatif. Iqbal menarasikan turunnya Adam dari langit ke dunia sebagai kisah yang berisi kebangkitan manusia dari kondisi primitif yang dikuasai hawa nafsu naluriah pada kepribadian bebas secara sadar.

Iqbal juga menafsirkan kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an dengan tafsir cukup berbeda dengan tafsir konvensional dan tradisional. Misalnya, kisah tentang Adam. Baginya, kisah ini bukan suatu kisah nyata dalam sejarah umat manusia bukan suatu historis, akan tetapi hanya suatu legenda. Sebab, Adam bukan tokoh sejarah, melainkan simbol manusia.

Dengan kata lain, Iqbal melakukan penafsiran simbolik, oleh karena penurunan Adam dari surga melainkan sebagai simbol kebangkitan. Iqbal tak memiliki anggapan Adam sebagai tokoh historis. Di sini, Iqbal seakan-akan melakukan pendekatan historis manusia untuk melihat manusia dalam tahapan sejarah tertentu.

Dengan cara ini, Iqbal membangun teori kepribadian manusia yang bisa mengatasi kecenderungan membelotnya ego terbatas pada kemampuan yang bisa memilih. Karena baginya, Tuhan telah memberi tanggung jawab dengan resiko dan memberi kepercayaan pada manusia, serta kemandirian. Kemudian manusia sampai pada pengakuan akan ketidaksempurnaan sebagaimana penciptanya sehingga bisa berbuat salah dan dosa.

Dari sinilah kemudian Iqbal merumuskan pandangannya tentang surga dan neraka, di mana keduanya bukanlah suatu tempat, melainkan hanya gambaran dari kondisi kepribadian setiap manusia. Bagi Iqbal, narasi Al-Qur’an tentang surga dan neraka adalah penampilan dari kenyataan batin secara visual, seperti sifat neraka dalam narasi Al-Qur’an adalah api Tuhan yang selalu menyala-nyala dan membumbung ke atas hati, dan ini merupakan kenyataan mengenai kegagalan manusia.

Baca Juga:  Menuju Manusia Rohani

Sedangkan surga, dinarasikan sebagai suatu kebahagiaan, kegembiraan karena memperoleh kemenangan dari dorongan ego. Bagi Iqbal, tak ada kutukan apalagi dosa abadi dalam Islam. Narasi neraka dalam Al-Qur’an bukan tempat penderitaan yang disediakan Tuhan, akan tetapi pengalaman kolektif untuk memantapkan ego dari beberapa ego.

Selanjutnya, pandangan Iqbal tentang takdir terjadi karena merupakan kausalitas dari berbagai ego atau dari ego satu ke ego lainnya, sehingga sampai pada prima causa, super ego atau Tuhan. Layaknya, waktu terus berlanjut pada tingkatan sebab dan akibatnya, di mana hal sebagai proses dari ciptaan pemikiran secara logis dalam rangka menguasai dunia ruang.

Kerja alam semesta bukan hasil kerja sementara dari suatu rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya, tetapi dari hasil kerja gerak kreatif yang bebas, di mana ia selalu berkembang. Pandangan ini pada dasarnya memang tak mengherankan karena dalam pemahaman filsafat Iqbal, unsur-unsur ego kreatif dalam diri manusia tak pernah menunggu takdir.

Tentu, pandangan Iqbal tentang takdir ini, jauh berbeda dengan konsep tradisional tentang takdir yang lebih banyak didasarkan pada teleologis materialis yang telah mengabaikan formasi secara progresif dari tujuan, dan maksud, serta mengabaikan skala nilai ideal sebagaimana proses kehidupan yang tumbuh dan berkembang.

Selain itu, pandangannya ini tak bisa lepas sosio kultural keagamaan di mana Iqbal lebih banyak melihat kelemahan umat sebagai individu dan kolektif ada banyak kebekuan dan kelesuan pemahaman agama dalam menghadapi kehidupan nyata.

Pada akhirnya, mengkapling pemikiran Iqbal pada term selain sebagai filsuf, penyair, dan sufi, pada pemikiran kalam kontemporer khususnya, telah menawarkan berbagai macam pemikiran kalam yang dikira cukup unik, walaupun terkadang dirasa ada kontradiktif dengan pemikiran-pemikirannya secara umum.

13 Shares:
You May Also Like