Kekuasaan: Jebakan dan Perusak Terhebat Bagi Agama.

Mendefinisikan agama merupakan sebuah pekerjaan yang tidaklah mudah, banyak dari para antropolog dan sosiologi kebingungan ketika mereka dihadapkan pada keharusan untuk mendefinisikan agama. Durkheim mengatakan, sebagaimana telah dikutip oleh Abdul Quddus dalam bukunya yang berjudul Islam Multidimensi: Mengungkap Trilogi Ajaran Islam bahwa agama adalah alam gaib yang tidak dapat diketahui dan tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia sendiri. Dalam agama, iman merupakan suatu ajaran yang paling esensisal. Sedangkan, subtansi dari keimanan terletak pada paradigma tauhid (konsep tentang Ketuhanan Yang Maha Esa). Islam menekankan bahwa kepercayaan pada keesaan Tuhan adalah sama tuanya dengan kelahiran manusia. Oleh karena itu, keesaan Tuhan pada semua Agama memiliki kesamaan yang asasi. Agama bukanlah penggalan doktrin-doktrin semata. Lebih dari itu, agama telah hidup melembaga sedemikian rupa dalam pranata-pranata kehidupan manusia, serta dalam berbagai konsep kepercayaan, mitos dan sebagainya.

Agama mengajarkan umatnya untuk berlaku kasih-sayang terhadap sesamanya. Pesan mendasar dari setiap agama yang ada di muka bumi adalah hidup secara damai dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan pemeluknya untuk bertindak anarkis dan menyebarkan teror. Harun Nasution, dalam bukunya Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan mengutip perkataan  al-Syahrastani, disebutkan bahwa fungsi dari wahyu ialah mengingatkan manusia akan kelalaian mereka dan memperpendek jalan untuk mengetahui Tuhan. Islam sebagai agama dan sebuah sistem nilai yang bersifat transenden. Islam dalam realitas sosial dapat berperan sebagai subyek yang mendinamisasi dan menentukan perkembangan sejarah, tetapi pada saat yang sama Islam juga dapat menjadi obyek. Karena, telah mengalami tekanan dan kekuatan dari faktor sosial lainnya.

Mengutip argumentasi Graham E. Fuller dalam bukunya yang berjudul A World Without Islam; seandainya agama Islam tidak pernah muncul dalam panggung sejarah umat manusia, tak ada keraguan untuk disimpulkan agama apa yang akan mendominasi Timur Tengah sekarang, agama itu ialah agama Kristen Ortodoks Timur. Agama dalam pandangan Graham E. Fuller berfungsi sebagai cap yang gampang memaparkan sebuah unsur penting identitas dan teologis tertentu hanya benar-benar sebagai  suatu unsur kebutuhan. Identitas di sini dimaknainya sebagai suatu identitas budaya dan perekat teologislah (teologi apa pun) yang mempertahankan sebuah komunitas berdasarkan landasan etnis atas agama.

Baca Juga:  Menjemput Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Filsafat Stoa

Weber dalam tesisinya The Protestant Ethic, die Protestantische Ethic mengatakan, agama membawa umat manusia ke dalam suatu kerangka atau sistem tertentu. Sistem yang dikamsud di sini, ialah pemikiran-pemikiran keagamaan atau doktrin-doktrin agamis. Selanjutnya, Nurcholish Madjid dalam bukunya yang berjudul Tradisi Islam: Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia mengatakan, dalam beberapa pembahasan ilmiah sering dikemukakan keraguan yang cukup gawat tentang peran agama dalam beberapa segi tertentu perkembangan masyarakat. Keraguan itu semakin diperkuat, dengan adanya kesenjangan yang terlalu sering terjadi dan mudah sekali ditemukan dalam setiap segi kehidupan masyarakat.

Sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh Graham E. Fuller dalam bukunya, tentunya kita sebagai penganut atau sebagai orang yang percaya terhadap agama telah akrab dengan pemanfaatan dan penyalahgunaan agama oleh negara-negara atau kelompok-kelompok penguasa dalam perang, politik, atau pergulatan demi tujuan-tujuan lain dalam sejarah. Hal yang dimaksud di sini, ialah menggunakan agama sebagai sebuah alat untuk tercapainya suatu kepentingan-kepentingan. Hal senanda juga diungkapkan oleh Weber, para pemangku agama atau tokoh-tokoh yang berafiliasi kepada agama, kebanyakan dari mereka adalah para pemilik modal yang memiliki pengaruh, memiliki otoritas yang kuat dan kekuasaan untuk mengubah distribusi masyarakat sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya dan menentukan struktur pekerjaannya.

Hal demikian sejalan dengan apa yang dikatakan Graham E. Fuller dalam bukunya, kekuasaan merupakan sebuah jebakan, perusak terhebat bagi agama; semakin suatu agama terkait erat dengan kekuasaan negara, semakin ia tersesat menjauhi wilayah intelek dan rohani serta masuk ke wilayah politik, dengan akibat-akibat langsung bagi kekuasaan negara dan pihak berwenang. Hal tersebut dapat mengantarkan kita kepada suatu pemahaman tentang agama, bahwa agama tak lebih dari sebuah alat yang digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kepentingan dalam pertarungan kekuasaan, jika dicermati dari bagaimana agama itu disebarkan.

Baca Juga:  Yang Sirna dari Kita: Tabayun

Hal demikin juga sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Bertrand Russell, sebagaimna telah dikutip oleh Graham E. Fuller dalam bukunya, agama dalam sebagian bentuknya dapat didefinisikan sebagai keyakinan bahwa dewa-dewi berada di pihak pemerintah. Hal demikian penempatan agama dan politik telah terjadi dalam sejarah kerajaan Prancis “Karel Agung”, yang dilakukan terhadap suku-suku Barbar Eropa sampai ke zaman modern. Kita melihat bagaimana Islam muncul dalam evolusi pemikiran keagamaan dan teologi yang sama dan berada di titik tengah antara kutub-kutub Yudaisme dan Kristianitas, teori modern populer mengatakan bahwa Islam merupakan semacam kekuatan teologis dan budaya yang merusak dan asing bagi keyakinan Yudeo-Kristen, atau bahwa Islam meletakkan dasar anti Barat di kemudian hari. Islam tidaklah muncul sebagai sebuah kejutan teologis di wilayah Arabia. Islam muncul, secara relatif alami dan organik dari lingkunga Agama atau keagamaan yang telah ada sebelumnya di Timur Tengah. Dalam perkembangannya, Islam kemudian menjadi saranan memperjuangkan kepentingan-kepentingan kekuasaan geopolitik di wilayah tersebut, seperti yang telah terjadi terlebih dahulu pada agama Kristen.

Meminjam istilah Graham E. Fuller. Sebagai sebuah sistem ajaran, agama merupakan fenomena universal yang selalu melekat pada diri manusia, sebagaimana dikataknnya dalam bukunya yang berjudul A World Without Islam, Agama merupakan sebuah kekuatan manusia yang luar biasa dahsyat, ia (agama) berurusan dengan masalah-masalah hakiki seperti makna hidup, kematian, perang, prilaku moral, komunitas, dan seksualitas. Agama memengaruhi jiwa, psikologis, dan prilaku manusia sebagai individu. Namun, tidak jarang kekuasaan negara terhadap agama, merusak proses autentisitas, penyebaran, dan pengajaran agama itu sendiri. Selain itu, ia juga mendefinisikan agama sebagai seperangkat kepercayaan dan pengetahuan yang secara definisi dapat berevolusi, evolusi sejarah dapat mengubah cara orang-orang memandang agama. Sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul History of God mengidentifikasikan pokok-pokok penting dalam evolusi terus-menerus pemahaman manusia tentang Ilahi sepanjang waktu. Ketiga agama (abrahamik) ialah semuanya sama-sama dari Allah, akan tetapi ketiganya diterima pada waktu yang berbeda-beda dalam perkembangan sejarah manusia. Hampir setiap agama berkembang dari agama-agama dan ajaran-ajaran sebelumnya.

Baca Juga:  ISLAM, A WAY OF LIFE?

Graham E. Fuller (A World Without Islam) dengan melihat fakta sejarah yang telah terjadi, agama dalam sebagian bentuknya dapat didefinisikan sebagai keyakinan bahwa dewa-dewi berada di pihak pemerintah, atau dalam bahasa sederhananya agama menjadi kehilangan esensi keilahiannya, jikalau ia ditarik paksa untuk bersanding dengan politik. Politik yang dimaksud di sini, ialah politik yang di dalamnya terdapat kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan suatu kelompok. Akan tetapi, jika kita melihat argumennya tentang Islam sebagai agama terakhir dari ketiga agama yang selanjutnya kita sebut sebagai agama Ibrahim (Abrahamik), “membicarakan dunia tanpa Islam merupakan sebuah omongkosong belaka” begitulah kiranya ia memandang Islam sebagai agama peradaban.

Dari berbagai penjelasan di atas, penulis menarik sebuah kesimpulan dengan melihat fakta-fakta sosial dan politik yang akhir-akhir ini terjadi. Agama, sebagaimana ia dihadirkan oleh Tuhan ke muka bumi ialah sebagi suatu tali perekat bagi manusia dalam menjalani kehidupan dan menjalankan tugas-tugasnya di dunia.  Agama, tak harus kita jadikan sebagi alat untuk memainkan sebuah kelindan politik yang bertujuan hanya untuk mewujudkan ataupun memuawaskan nafsu-nafsu duniawi kita. Agama harus kita kembalikan menuju wujud dan peran dasarnya, ialah sebagai suatu yang Ilahi, yang di dalamnya memuat berbagai macam cara bagi manusia untuk menjalani hidup dengan baik, ialah sebuah hidup yang di dalamnya dipenuhi oleh cinta dan kasih kepada ketuhanan dan kemanusiaan.

13 Shares:
You May Also Like