Sains Penting, Tapi Jangan lupakan Spiritualitas

Di akui atau tidak, di Barat, sejak zaman modern hingga kini, ilmu pengetahuan mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat luar biasa. Ilmu pengetahuan dijadikan alat untuk menguak di luar batas-batas nalar dan imajinasi, serta fantasi kemanusiaan.

Tentu, kemajuan ilmu pengetahuan tersebut lahir dari asumsi dasar dan paradigma dengan pelbagai metodelogi yang sudah mapan, sehingga pada akhirnya melahirkan apa yang kita sebut saat ini sebagai sains.

Sebagaimana kita ketahui, sains sendiri lahir dari rahim pemikiran filsafat yang bertitik tolak pada penemuan-penemuan ilmiah sejak sekitar abad ke-16 dan 17 M, mulai dari Copernicus, Kepler, Galileo hingga Newton.

Pemikiran filsafat bercorak rasional ini, berakar pada pemikiran Ibnu Rusyd (Averroes), Descartes dan Bacon, ikut membantu menghasilkan penemuan ilmiah di bidang astronomi dan mekanika yang ditransformasikan menjadi sistem pemikiran yang mampu mengubah pandangan hidup, gambaran dunia dan cita-cita masyarakat, termasuk gambaran manusia tentang dirinya dan tempatnya di dunia.

Diperkenalkannya teknik baru, seperti angka Arab, jam kota, tehnik pembuatan kertas, dan mesin cetak temuan Guthenberg, di abad ke-13 sampai abad ke-17 M, juga ikut andil dalam memajukan sains, dan pada gilirannya juga menyuburkan sains.

Ahli-ahli sejarah di Timur maupun di Barat, dari Confucius hingga Toynbee, dari Ibn Khaldun sampai Collingwood, menyakini bahwa seseorang tak akan dapat memahami masa kini dan akan gagal melihat masa depan, tanpa merenungi peradaban masa lalu.

Dengan demikian, dapat dikatakan, pemikiran yang berpengaruh pada masa kini adalah bagian dari mata rantai pemikiran sebelumnya. Pelbagai sistem filsafat, ideologi modern yang diterapkan dalam kehidupan seperti, politik, ekonomi dan kebudayaan; serta pelbagai pandangan hidup masyarakat modern dewasa ini, terkait sejarah panjang sains.

Baca Juga:  Konsep Tauhid dalam Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim dalam Tinjauan Open Question Argument

Karenanya, sejak zaman Renaissance dan abad pencerahan, para ilmuwan, filsuf dan cendekiawan Eropa menyakini bahwa kemajuan sains akan mendatangkan kebahagiaan dan perdamaian langgeng bagi umat manusia. Peperangan yang menelan banyak korban, sengketa politik dan ideologi, dapat dikurangi. Dengan anggapan sains akan membuat nalar manusia bertambah arif dan bijak, serta toleran terhadap perbedaan pandangan dan agama yang ada.

Namun, kenyataan yang ada sebaliknya. Metode sains yang awalnya diterapkan dalam ilmu pengetahuan untuk menangani masalah sosial, politik dan kemanusiaan, ternyata tak mampu menangani situasi dan kondisi masyarakat yang semakin kompleks seperti saat ini.

Barat, sejak akhir abad ke-18 hingga kini memunculkan konflik sosial baru. Kondisi ini mendorong sejumlah pemikir dan cendekiawan meragukan klaim-klaim sains dan rasionalisme, bahkan mengkritik sebagai biang keladi nestapa krisis manusia modern.

Proyeksi sains yang menempatkan manusia sebagai obyek kesadaran dan cakrawala kehidupan, dibatasi pada persoalan perut dan penguasaan keterampilan teknis, dengan sedikit pengetahuan untuk menopang dirinya agar dapat mengaktualisasikan hidup.

Sains dan pelbagai cabang pemikiran yang muncul seperti, materialisme, darwinisme dan lain-lain bertanggungjawab menciptakan gambaran sempit dan mereduksi mengenai manusia, serta keberadaan dan peranannya di muka bumi.

Manusia dianggap hanya bagian dari benda-benda dan hewan, gerak serta kegiatan hidupnya diatur oleh sebuah hukum penguasa yang bersifat mekanistis. Kesadaran dan kebebasan manusia tidak mendapat tempat sewajarnya.

Sains dan cabang-cabangnyaa, seakan-akan tak memberi peluang bagi aktivitas spiritual, dan keyakinan pada alam transendental, serta metafisika. Semua bentuk kegiatan berkenaan agama dan spiritual dipandang irasional, sedang bentuk-bentuk kepercayaan yang lahir darinya disebut takhayul dan merintangi kemajuan sains.

Penyakit seperti alienasi, kehampaan spiritual, kecanduan obat bius, dorongan bunuh diri dan pelbagai bentuk frustrasi sosial yang lain adalah harga yang harus dibayar mahal bagi tercapainya cita-cita manusia modern yang bertitik tolak dari pandangan sains, rasionalisme, utilitarianisme, materialisme, hedonisme, pragmatisme, evolusionisme, dan lainya.

Baca Juga:  Membaca Alquran ala Fazlur Rahman

Implikasi sains terhadap kehidupan manusia modern, serta berkembangnya relativisme kultural dan nihilisme—dua aliran yang muncul sebagai reaksi paling keras terhadap kaum sainstisme karena dianggap sebagai ideologi berpihak pada status quo,bukan pada perubahan.

Dunia yang kita huni adalah “Tanah mati, tanah kaktus,” demikian tutur T. S. Eliot dalam sajak Orang-orang Kosong. Dalam sajaknya ini Eliot mengakui bahwa krisis yang dialami manusia modern berakar dalam watak kebudayaan modern itu sendiri yang telah mencampakkan spiritulitas yang tak memberi tempat pada metafisika, serta etika yang didasarkan atas spiritualitas.

Krisis Spiritualitas

Dalam pandangan Seyyed Hosein Nasr krisis Spiritualitas merupakan persoalan sangat besar yang muncul di tengah-tengah masyarakat Barat saat ini. Kemajuan sains, dominasi rasionalisme, empirisisme, dan positivisme, membawa manusia kepada kehidupan modern di mana sekularisme menjadi mentalitas zaman. Karena itu, spiritualisme menjadi suatu anatema bagi kehidupan modern. Hal ini akan melahirkan keadaan the Plight of Modern Men, atau nestapa orang-orang modern.

Sebenarnya keadaan ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah berkembang di Eropa pada akhir abad pertengahan sebagai reaksi terhadap zaman sebelumnya. Di mana doktrin agama yang dirumuskan mendominasi semua aspek kehidupan, sehingga mengakibatkan masyarakat Barat tetap berada pada zaman kegelapan.

Lahirnya era modernisme di Eropa, dan kuatnya pengaruh ke dunia Islam, di mana krisis yang sama juga hampir dialami oleh beberapa bagian di dunia Islam seperti, strategi pembangunan sekular dan menjauhkan semangat agama dari proses modernisasi, ciri krisis spiritual begitu nyata.

Sekalipun krisis spiritualitas menjadi ciri peradaban modern, dan modernitas telah memasuki dunia Islam, masyarakat Islam tetap menyimpan potensi untuk menghindari krisis itu. Sebabnya sebagian besar dunia Islam belum berada pada tahap perkembangan dan kemajuan laykanya negara-negara Barat.

Baca Juga:  Kenapa Seolah Allah Sengaja Menyesatkan atau Melupakan Hamba-Hamba-Nya?

Keadaan ini sangat menguntungkan karena memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman Barat dan membangun strategi pembangunan yang mampu mengambil aspek-aspek positif dari peradaban Barat, dan sekaligus menghilangkan aspek-aspek negatifnya. Hal ini bisa dilakukan dengan mempertahankan dasar-dasar spiritualisme Islam agar tetap terjaga kehidupan yang seimbang.

Dalam sejarah Islam terdapat khazanah spiritualisme yang sangat berharga, yakni sufisme. Sufisme berkembang mengikuti dialektika zaman sejak Nabi Muhammad Saw. sampai sekarang, baik dalam bentuk sederhana dan ortodoks, maupun yang elaborate, serta heterodoks. Perkembangan sufisme ini mencerminkan ragam pemahaman terhadap konsep akhlak dalam kehidupan sosial dan ihsan dalam kehidupan spiritual.

Jika dilihat dalam konteks sejarah, ragam pemahaman tersebut muncul dalam beberapa fase perkembangan. Misalnya, di awal Islam, terutama periode Makkah, begitu jelas Al-Qur’an menekankan pentingnya spiritualisme. Tetapi hal ini paralel dengan orientasi kesadaran profetik, di mana pengalaman spiritual tak hanya ditujukan bagi spiritualisme itu sendiri, tetapi bermakna bagi pembangunan etika juga menggerakkan sejarah kehidupan umat Islam.

Pada tahap selanjutnya, spiritualitas muncul dalam bentuk kehidupan zuhud ketika umat Islam menikmati kemewahan dengan terciptanya imperium yang luas. Pada akhirnya, sains itu penting dalam kehidupan, tapi jangan lupakan spiritualitas. Gitu

3 Shares:
You May Also Like