SYAHADAH IMAM HUSAYN ADALAH TELADAN KESUFIAN: Tragedi Karbala dalam Syair-Syair Sana’i dan Rumi

Disadur oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Tak banyak yang tahu siapa Husayn bin Ali, kecuali bahwa dia adalah cucu kinasih Nabi saw., yang wajahnya sering diciumi Nabi, dan punggung Nabi sering jadi kuda-kudaan mainannya. Padahal Husayn jauh sebelum itu adalah pencinta Tuhannya, dan pencinta sesama manusia. Hidupnya dihabiskan untuk menegakkan syariah dan akhlak kakeknya. Memuja Tuhan dan menolong orang-orang papa. Hingga ketika orang-orang yang ditindas Yazid di Iraq seberang sana memanggilnya, bahkan manasik haji yang sedang dijalaninya ditinggalkannya. Dibawanya seluruh keluarganya. Bukan untuk berperang, karena mana mungkin orang yang berperang melawan kekaisaran beratus ribu pasukan, datang dengan perempuan dan bayi-bayi dan hanya 70-an orang? Husayn hanya akan menuntut penindasan dihentikan. Tanpa peduli apa yang menunggunya. Kematiannya dan (hampir) seluruh keluarga serta pengikutnya—sesuatu yang sesungguhnya sudah diketahuinya sejak awal. Tapi, jika sudah urusan menyeru Tuhan  dan menegakkan keadilan, Husayn tak merasa perlu bertanya. Tugas mulia harus ditunaikan, tak peduli apa yang akan terjadi. Akankah masih bertanya di hadapan panggilan Tuhan dan sesama yang papa dan lemah tak berdaya?

Ya, peristiwa Karbala adalah soal cinta, dan kesucian. Dan Imam Husayn adalah paragon cinta dan kesucian itu. Di balik banyak tulisan yang menggambarkanya sebagai tragedi kekejaman dan kejahatan yang menimpa Imam Husayn, para sufilah yang banyak melihatnya dari kaca mata ini. Bahwa apa yang oleh orang banyak dilihat sebagai tragedi, sesungguhnya adalah teladan bagi jalan para sufi dan awliya’. Sana’i adalah salah satunya:

“Sampai mereka berpaling dari kegembiraan. (Bahkan) orang suci tak bisa melangkah ke permadani Mustafa. Bagaimana bisa ada kegembiraan di jalanan agama saat, demi kekaisaran, darah mengucur turun di kerongkongan Husayn?”

Baca Juga:  Harmonisasi Tuhan, Alam dan Manusia: Catatan Bedah Buku The Tao of Islam karya Sachiko Murata

Tragedi Karbala adalah peragaan jalan cobaan dan kesulitan yang harus ditempuh para sufi dan awliya’—bahkan pun jika, tak seperti Husayn, mereka “hanya”  bertempur dengan hawa nafsu sendiri.

Karena inilah konsekuensi dari kesaksian manusia di alam alastu, yang berkata “ya” saat ditanya “Siapa Rabb-mu?”

“Demi satu kata “ya”

yang dikatakan oleh ruh di keabadian-tanpa-awal (azali)

Orang-orang yang berkata “ya” (bala) mesti menyerahkan dirinya kepada kesusahan (bala’)”

 

Di tempat lain Sana’i melantunkan:

“Sekali kau tapaki jalan ini

Maka bekalmu hanyalah kemusnahan

Bahkan jika kau adalah Abu Dzarr atau Salman

Dan jika kau Husayn

takkan kau lihat wajah cantik sang pengantin

Hanya belati dan pedang”

 

Sampai akhirnya Sana’i menyimpulkan bahwa  :

“Agama adalah Husaynmu

Sedang syahwat dan harapan adalah babi-babi dan anjing-anjingmu

Bagaimana kau bisa terus mencerca Yazid dan Syimir?

(Padahal) kau adalah Yazid dan Syimir untuk Husaynmu?

Di setiap diri kita ada Husayn—fitrah cinta dan kebaikan—tapi juga Yazid dan Syimir—sang pemenggal kepala Husayn—syahwat dan hawa nafsu yang memerintah kita kepada keburukan. Tak ada agama kecuali telah kita kalahkan Yazid-Yazid dan Syimir-Syimir kita sendiri.

…..

Setelah itu ada Rumi, sang Panglima Cinta. Seolah menyauti Sana’i dia bersyair:

“Apa artinya menjadi karib Cinta? Kecuali memisahkan diri dari hasrat jiwa?

Menjadi darah, menelan darah sendiri,

dan menunggu di pintu kesetiaan bersama anjing-anjing?

Pencinta mengorbankan dirinya.

Baginya kematian dan pencabutan tak beda dengan tinggal berdiam.

…..

Karena para syuhada’ ini tak punya kesabaran tanpa kematian.

Mereka jatuh cinta kepada kemusnahan mereka sendiri

Larilah, kalau kau mau, dari penderitaan dan nasib.

Ketakutan mereka adalah kepada tiadanya penderitaan

Baca Juga:  Mengenal Ibnu Thufail dan Risalah Hayy Ibn Yaqzan

Lakukan saja puasa di hari-hari yang dianjurkan dan Asyura.

(karena) kau tak bisa pergi ke Karbala”

 

Maka, seolah Rumi hendak berkata, jika kau mau jadi pengikut Husayn, bersegeralah memenangkan ruhmu atas nafsumu. Jangan bimbang, dan jangan pakai bertanya-tanya lagi:

“Kenapa duduk saja dengan pertimbangan-pertimbanganmu?

Jika kau laki-laki, mangkat sana ke Sang Kekasih!

Jangan bilang, ‘Mungkin dia tak menginginkanku?’

Apakah ngengat berpikir tentang nyala api?

Bagi ruh cinta, menimbang-bimbang adalah aib

Jika para kesatria mendengar suara genderang

Saat itu juga dia seperti 1000 lelaki

Telah kau dengar genderang, maka hunuslah pedangmu tanpa menunggu

Ruhmu adalah sarung Dzul Fiqar, sang penakluk segala

Kau adalah Husayn di padang Karbala, jangan berpikir tentang air!

Satu-satunya ‘air’ yang kan kau lihat hari ini, adalah pedang ‘air pertama’ (yakni air kehidupan saat kau dihidupkan Tuhan pada awalnya, pada saat kau diminta kesaksian di alam alastu) itu”.

 

Terbunuh dalam perang (melawan syahwat dan hawa nafsu) bermakna terbunuhnya ego dan kelahiran kembali dalam Tuhan:

“Malam mati dan hidup lagi,

karena ada hidup setelah mati

Wahai nyeri-hati, bunuh aku! Karena aku Husayn, sedang kau Yazid”.

 

Hingga Rumi seperti menyeru sesamanya agar menjadi Husayn-Husayn di padang Karbala:

“Di mana kalian, syuhada Tuhan

Kau yang telah memburu penderitaan

di padang Karbala?

Di mana kau, para pencinta pemilik ruh nurani

kau yang terbang lebih baik dari burung-burung?

Sejenak sudah kau berenang

di Samudera, yang di hadapannya dunia cuma buih saja”

 

Maka akhirnya Rumi—sang sufi—membayangkan dirinya sebagai Husayn (dan Hasan, kakaknya):

“… lihat aku

Aku bak Husayn, duduk di atas darahku sendiri

Baca Juga:  Inilah Daftar Kitab yang Harus Dipelajari Menurut Imam Al-Haddad

Atau bak Hasan, mereguk racun”.

….

“Siapa saja yang memiliki api

mengenakan jubahku.

Dia penuh luka seperti Husayn, cawan seperti Hasan”

….

“Dalam api kerinduan, hatiku terus menjerit

berharap suatu seruan kan memanggil dari arah kebersatuan (dengan-Mu)

Hatiku adalah Husayn, dan perpisahan (dari-Mu), Yazid

Hatiku telah disyahidkan dua ratus kali

di padang siksaan dan penderitaan (karb dan bala)”.

 

Keterangan

*) Dari Rumi’s View of The Imam Husayn, oleh William C. Chittick

15 Shares:
You May Also Like