Kosmopolitanisme: Perbincangan Bersama Julia Kristeva

Julia Kristeva adalah salah satu pemikir kontemporer yang namanya banyak diperbincangkan dalam jagat pemikiran. Kristeva, seorang yang dilahirkan di Bulgaria kemudian bermukim di Prancis ini, dikenal luas sebagai ahli linguistik, filsafat dan turut dikategorikan sebagai feminis. Adapun salah satu permasalahan yang menjadi perhatian dari seorang Kristeva, yaitu persoalan rasisme dan xenophobia—perasaan benci (takut, waswas) terhadap orang asing atau sesuatu yang belum dikenal; kebencian pada yang serba asing—yang bahkan dapat dijumpai di negara seperti Prancis, sebuah bangsa yang dikenal memiliki tradisi intelektualitas dan pencerahan yang panjang. Lalu, mengapa persoalan tersebut muncul?

Bagi Kristeva, sebagaimana yang dituangkan dalam Bangsa Tanpa Nasionalisme (2021), pemujaan terhadap “asal-usul” merupakan reaksi terhadap kebencian. Sejarah mencatat, perjuangan politik yang didasarkan pada pemujaan asal usul (identitas) kerap kali melahirkan kengerian yang luar biasa. Pemujaan terhadap “asal-usul” dapat melahirkan kebencian terhadap orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda.

Sebuah kebencian yang defensif yang berkaitan dengan pemujaan “asal keturunan” akan mudah menjadi kebencian yang kejam. Bahkan, seseorang bisa membenci seseorang lainnya, hanya karena ia memiliki identitas yang berebeda, bahkan sekalipun mereka mempunya latar belakang kesakitan yang sama, misalnya saja karena penindasan politik ataupun ekonomi.

Sebagai bentuk contoh konkret, Amartya Sen dalam Identitas dan Kekerasan (2016) mencontohkan, bagaimana seorang dengan asal-usul “Hindu” pada satu sisi, dengan seorang Muslim pada sisi yang lain, dapat membunuh antar satu dengan lainnya, hanya karena kebencian terhadap identitas yang terjadi di antara keduanya. Padahal, kedua orang dengan “asal-usul” berbeda ini, memiliki permasalahan yang sama, misalnya saja keduanya adalah sama-sama buruh miskin. Namun, permasalahan bahwa keduanya ini sama-sama buruh miskin terlewat begitu saja hanya karena kebencian terhadap “asal-usul” yang lain yang sudah memuncak.

Baca Juga:  IBADAH UNIK UNTUK BERTEMU YANG MAHA UNIK: Puasa menurut Syaikh al-Akbar Ibn al-'Arabi

Sementara itu, Kristeva mengamati bagaimana persoalan kebencian terhadap “yang lain” atau disebut juga sebagai “orang asing” marak terjadi di Eropa, termasuk di Prancis yang menjadi tempat bermukimnya, maupun di Amerika. Di Prancis, Kristeva mengkhawatirkan gaya demagogi yang diperagakan oleh tokoh seperti Jean-Marie Le Pen.

Dalam pemahaman saya, pemujaan sisilah/asal yang merupakan reaksi terhadap kebencian ini, didasarkan karena adanya suatu hasrat atau klaim tentang keautentikan ataupun kemurnian. Dalam kasus di Prancis misalnya, yang dipersoalkan adalah “siapa itu bangsa Prancis?” Sehingga kehadiran “orang asing” (imigran) dianggap dapat menciderai “keautentikan atau kemurnian” bangsa Prancis, dan kesadaran seperti itu dapat menghadirkan sikap “anti” terhadap yang lain (“orang asing”).

Perlu diingat, hal semacam itu terjadi juga dalam komunitas beragama, yang bahkan masih dalam cakupan seagama, orang berebut klaim mengenai “keautentikkan atau kemurnian” ajarannya sambil menegasikan ajaran lain yang dianggap tidak murni atau autentik tersebut, dan terkadang menghadirkan pertikaian hingga kekerasan.

Bagi Kristeva sendiri, kebencian terhadap “orang asing” dalam bentuk rasisme dan xenofobia merupakan suatu hal yang meresahkan dan berbahaya bagi kehidupan, karena dapat mengancam kebebasan. Di Prancis maupun Amerika misalnya, ada kebencian-kebencian terhadap para imigran, orang berkulit-hitam dan sebagainya. Dalam pemahaman saya, Kristeva seolah mengajak kita untuk menyadari bahwa setiap manusia adalah unik, termasuk “orang asing”, dan bukankah kita juga “orang asing” bagi yang lain? Dari sinilah Kristeva menekankan pentingnya penghormatan terhadap martabat kemanusiaan. Dapat dikatakan, sikap Kristeva ini didasarkan pada komitmennya yang tinggi untuk pencerahan dan keadilan sosial.

Espirit Generale sebagai Landasan Kosmopolitanisme

Bagi Kristeva untuk mewujudkan suatu tatanan yang berkeadilan dan terbebas dari kebencian terhadap mereka yang berbeda, baik berbeda dari segi asal-usul ras, agama, suku, negara dan lainnya. Maka sikap yang perlu dikembangkan adalah dengan mendasarkan pada kosmopolitanisme. Adapun kosmopolitanisme yang dimaksud oleh Kristeva, yakni dengan mendasarkan pada ekspirit gererale yang pernah dikembangkan oleh Montesquieu, seorang filsuf besar Prancis.

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA (BAGIAN 3)

Diktum dalam espirit generale sebagaimana yang dikutip oleh Kristeva, yakni “Jika saya tahu sesuatu yang berguna untuk diri saya sendiri dan merugikan keluarga saya, di dalam pikiran saya, saya akan menolaknya. Jika saya tahu sesuatu yang berguna untuk keluarga saya namun tidak untuk tanah air saya, saya akan mencoba melupakannya. Jika saya tahu sesuatu berguna bagi tanah air saya dan merugikan Eropa, atau berguna bagi Eropa dan merugikan Umat Manusia, saya akan menganggapnya sebagai kejahatan”.

Dengan demikian, espirit generale bahkan melindungi hak-hak manusia di luar hak-hak warga negara. Bagi Kristeva sendiri, sebuah bangsa adalah sebuah tindakan berbahasa dan sebuah ikhtiar menuliskan kepekaan, pengalaman, dan keunikan lainnya yang cenderung memperluas pengejarannya terhadap universalitas.

Bagi saya, espirit generale ini menarik ketika diletakkan dalam konteks keindonesiaan. Terlebih lagi di tengah beragamnya suku bangsa dan agama di negeri ini. Espirit generale dapat menghindarkan kita pada sikap yang rasis, mendikotomikan “pribumi dan non-pribumi”, mengejek kepercayaan orang lain dan semacamnya. Apapun itu, perlu kita tolak ketika menciderai martabat kemanusiaan. Sikap rasis, pemujaan terhadap asal-usul yang berlebihan, tentu dapat menghancurkan modal sosial.

Espirit generale pun relevan ketika diletakkan dalam memandang kebudayaan bangsa lain. Mengagumi kekayaan budaya dan kekhasan bangsa sendiri, tidak lantas menyebabkan kita merendahkan kebudayaan bangsa lain. Kita perlu menyadari bahwa masing-masing mempunyai keunikan, dan sikap yang dikembangkan adalah berusaha saling belajar antar satu dengan yang lainnya.

 

13 Shares:
You May Also Like
Read More

Beragama Yang Menggembirakan

Muhamad Harjuna Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Oleh sebagian kelompok, agama sering menjelma menjadi sesuatu yang menyeramkan,…