Simone De Beavoir: Akar Penindasan dan Mitos tentang Perempuan

Oleh: Rahayu Syahidah Karbela

Pascasarjana STFI Sadra Jakarta

Berbicara perempuan secara umum di dunia ini selalu dikeluhkan sebagai makhluk tertindas. Baik disadari atau tidak oleh laki-laki, bahkan oleh sebagian besar perempuan pun mereka secara tidak sadar bahwa sebenarnya sedang tertindas oleh laki-laki. Kontruksi dunia kita itu dinamai patriarkal, konstruksi yang sangat laki-laki. Dalam tafsir-tafsir agama, narasi tentang perempuan yang masih meletakkan perempuan sebagai subjek sekunder, bahkan objek dalam sistem kehidupan.

Budaya patriarkat memulai penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk mengaktualisasi diri. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Inilah yang menjadi sumber perempuan dinilai hanya sebagai pengemban sistem reproduksi dan selalu dicitrakan bahwa perempuan dilihat hanya seputar tubuhnya saja. Hal itu karena posisi perempuan sebagai objek bukan subjek. Subjeknya laki-laki, karena budayanya patriarkal. Dalam tafsir-tafsir pun, kebanyakan para mufasir itu adalah laki-laki, maka bunyi tafsirnya kebanyakan yang menguntungkan laki-laki dan tidak peka perempuan. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga Negara.

Menurut Simone De Beauvoir ada yang salah dari budaya kita “One is not born, but rather becomes a woman” . Artinya bahwa menurut Simone De Beavoir perempuan itu tidak dilahirkan, tetapi dibuat atau dibentuk. Menurutnya, laki-laki dan perempuan itu dibentuk bukan takdir atau kodrati. Perempuan dibentuk berdasarkan kondisi sosial di mana ditanamkan nilai bahwa seorang perempuan haruslah bersikap lembut, jinak, malu-malu, pengabdi, setia, pasrah dan pasif. Sementara, laki-laki harus menjadi seorang pengambil keputusan, pengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berkuasa. Contoh, seorang anak laki-laki sejak bayi dipilihkan ibunya baju berwarna maskulin, seperti biru. Perempuan dipilihkan baju yang berwarna merah jambu. Struktur sosial ini yang sebenarnya  membentuk perempuan, dan mempunyai andil besar terhadap inferioritas  perempuan. Akibatnya, bagi perempuan adalah perempuan akan selalu berpikir, berbicara dan menjalankan hidup sebagai “perempuan”.

Baca Juga:  Aspek Personal-Ideasional dan Psikologis Abu Hasan al-Asy’ari

Maka Sartre membedakan antara femininity, feminine reality dan womenhood. Femininity adalah konsep general dari cara bereksistensi secara feminine. Sama seperti masculinity (konsep general dari cara bereksistensi secara maskulin). Feminine reality (lawan dari masculine reality) adalah masing-masing individu dari laki-laki dan perempuan yang telah memodifikasi dua cara eksistensi secara general tersebut, yang menyumbang variasi bagi masing-masing tipe. Sedangkan womenhood adalah realitas kewanitaan (berhubungan dengan genital). Womenhood  namun tidak benar-benar menentukan seorang perempuan menjadi perempuan. Di luar aspek biologis ini perempuan dan laki-laki sama. Inilah yang dimaksud oleh perempuan selalu becoming. Dan karenanya, definisi tentang perempuan tidak pernah final atau selesai. Seksualitas seseorang tidaklah terberi, melainkan kontruksi sosial. Untuk menjadi women, perempuan tidak hanya memerlukan aspek biologis perempuan.

Bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan, laki-laki berpikiran bahwasanya mereka dapat menguasai perempuan dengan menciptakan mitos tentang perempuan, yaitu irrasionalitasnya, kompleksitasnya, perempuan sulit dimengerti, dan lain sebagainya. Dan mitos-mitos ini yang dipercayai oleh masyarakat dan dijadikan argumen pendukung bagi laki-laki. Hal ini yang kemudian dikritik oleh Simone De Beavouir bahwa semua itu adalah mitos yang dibuat-buat.

Dari hal di atas Simone De Beavoir menulis sebuah buku  yang berjudul The Second Sex yang berbicara bahwa perempuan didefinisikan dengan referensi kepada laki-laki dan bukan referensi kepada dirinya sendiri Dengan demikian, perempuan adalah insidental semata, tidak esensial. Laki-laki adalah subjek, sedangkan perempuan adalah orang lain atau other. Jika Sartre mengatakan bahwa other  adalah ancaman bagi diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki. Karena dalam konsep eksistensialisme Simone De Beauvoir, other (perempuan) dari self  (laki-laki). Jika laki-laki ingin tetap bebas, ia harus mengsubordinasi perempuan.

Dasar perspektif esensialisme menurut Simone De Beauvoir adalah bahwa esensi perempuan adalah sifat-sifat tertentu yang dipastikan ada pada semua perempuan, kapan pun, dan di mana pun (biological Essentialism). Berdasarkan Essentialism ini, perempuan memiliki dasar biologis yang membuat mereka secara moral dan rasional berbeda dengan laki-laki. Belum lagi dengan banyak stereotype  bahwa laki-laki itu rasional, sedang perempuan tidak rasional, laki-laki itu culture sedang perempuan nature, laki-laki mind sedang perempuan emotions, dll. Maka dari itu, mucullah gagagas feminis eksistensialis Simone De Beauvoir yang menganjurkan perempuan untuk hidup secara autentik, yakni memunculkan kesadaran bahwa pada hakekatnya mereka bebas, tak terikat dengan segala aturan, hukum, nilai, norma dan stereotype yang ada.

Baca Juga:  BAGAI DAUN-DAUN KERING DITERBANGKAN ANGIN DI MAKKAH DAN MADINAH (4)

Dalam hal ini, feminis eksistensialis menilai perempuan dengan mauvaise foi (keyakinan buruk) yaitu terjebak dalam keyakinan yang buruk dalam bentuk-bentuk streotipe dan cenderung menjadi inferior di hadapan laki-laki. Dasar pemikiran feminis eksistensialis didasari bahwa laki-laki dan perempuan bukanlah dua entitas yang berbeda. Dalam tubuh manusia terdapat aspek biologis dan aspek psikologis. Baik maskulinitas dan feminitas maupun male’s body dan women’s body, adalah dua variasi dalam perwujudan manusia. Namun, keduanya bukanlah organisme yang berbeda secara substansi, melainkan hanya berbeda secara cara bereksistensi. Men’s body dan women’s body menjelma dalam identitas seksual, sedangkan maskulinitas dan feminitas menjelma menjadi persoalan gender. Namun, identitas seksual (the early performance) tidak menentukan seksualitas seseorang (gender).

Pembentukan identitas seksual ini tidak dapat lepas proses budaya yaitu, imitasi (meniru), mimikri (tindakan meniru, namun lebih kepada penyesuaian diri), repetisi (mengulang), dan modifikasi (mengubah). Perempuan menyadari bahwa ada dua cara bereksistensi dan memilih cara feminis, dan memodifikasinya secara pribadi. Yang menyebabkan munculnya kemiripan di antara perempuan adalah karena cara bereksistensi tersebut diambil melalui empat proses yang telah disebutkan di atas. Dengan demikian, perempuan-perempuan memiliki kemiripan bukan karena what they are, tetapi lebih kepada bagaimana mereka berinteraksi dengan dunia.

Maka salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan jalan pembebasan terhadap perempuan. Dari level pemikiran adalah dengan cara menghapuskan stigma-stigma atau stereotype tentang perempuan. Tubuh perempuan harus dibebaskan dari label-label yang ditempelkan oleh budaya patriarkat yang membuatnya tak leluasa melakukan proses transendensi. Serta mengubah pola relasi antara kaum laki-laki dan perempuan dari ikatan biologis dan fungsional menjadi ikatan manusiawi dan etis, yang terangkum dalam semangat persahabatan dan kemurahan hati.

Baca Juga:  Fakhr al-Din al-Razi: Sang Filsuf dan Mujaddid

Selanjutnya dari level praktik bahwa perempuan harus beradaya dan memiliki daya tawar terhadap laki-laki. Pentingnya kemandirian ekonomi sebagai pintu pembuka bagi pembebasan tubuh perempuan, yang akan semakin mantap jika dipadukan dengan perlakuan setara terhadap perempuan di ranah sosial, budaya, dan politik, yang dicapai melalui revolusi sosial.

Strategi transendensi yang dibuat Simone De Beavoir adalah bahwa perempuan dapat bekerja, perempuan dapat menjadi anggota intelektual, perempuan dapat melakukan transformasi sosial masyarakat, perempuan dapat mentrandensi batasan-batasan keperempuanan dan menolak menginternalisasi diri sebagai other, dan perempuan harus menjadi diri dalam masyarakat seperti masyarakat dengan memanfaatkan waktunya untuk melakukan kegiatan yang kreatif dan berorientasi kepada masyarakat.

            Terakhir, ada beberapa quotes dari Simone De Beavoir yang bagus bila direnungi bersama.

To not choose is a choice

“We may not know what to do, that is the ambiguity, but we have to, in fact, choose one way or the other. Always no choice will be a choice” – Simone De Beauvoir

Freedom and morality

“To will oneself moral and to will oneself free are one and the same decision” – Simone De Beauvoir

“That’s what I consider true generosity: You give your all, and yet you always feel as if it costs you nothing” – Simone De Beauvoir

“The fact that we are human beings is infinitely more important than all the peculiarities that distinguish human beings from one another.” – Simone De Beauvoir

“Change your life today. Don’t gamble on the future, act now, without delay.” – Simone De Beauvoir

“I tore myself away fro the safe comfort of certainties through my love for truth and truth rewarded me” – Simone De Beauvoir

5 Shares:
You May Also Like
Read More

Derita itu Bahagia?

Bil Hamdi Mahasiswa Filsafat Islam STFI Sadra Manusia akan menemui beragam peristiwa dalam perjalanan hidupnya. Kebahagiaan, penderitaan, tawa…