FILSAFAT ISLAM: MENYELAMATKAN DAN MENDAMAIKAN

Ada sebuah anggapan, bahkan doktrin yang beredar di tengah hingar-bingarnya pemikiran Umat Islam bahwa filsafat Islam menyengsarakan, menyesatkan, dan berbagai konotasi negatif lainnya. Mengakar kuatnya konstruk yang dibangun membuat filsafat Islam terlempar ke pojok yang jauh. Hingga, umat Islam enggan memungutnya.

Mari kita coba pungut makhluk yang bernama filsafat Islam itu. Apa sih sebenarnya filsafat Islam? Mari kita uji konstruk yang berkonotasi negatif itu.

Filsafat Islam terdiri dari dua kata, yaitu filsafat dan Islam. Terkait makna filsafat, secara literal berasal dari philo “cinta” dan shopia “kebijaksanaan atau pengetahuan”. menurut Heraklides Pontikus—murid Plato—filsuf yang pertama kali memaknai Philoshopia dalam arti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada pengetahuan adalah Pytagoras. Pasalnya, Pytagoras menyebut dirinya Philoshopia merupakan sebuah reaksi dan koreksi atas lingkungannya, di mana orang cerdik pandai menamakan dirinya shopia (orang yang ahli pengetahuan).

Pytagoras mengatakan, “Tidak ada satupun manusia yang layak menisbatkan kata shopia pada dirinya”. Karena segigih apapun yang manusia lakukan atau bahkan keseluruhan umur manusia dihabiskan dalam mencapai taraf ahli akan pengetahuan tidak akan pernah sampai. Sebab, manusia hanya mampu menemukan sebagian kecil dan mustahil untuk menemukan keseluruhannya.

Dalam pembendaharan istilah, filsafat diartikan berpikir bebas, radikal, dan dalam dataran makna. Bebas artinya tidak ada alasan apapun dapat menghalangi pikiran bekerja. Baik penguasa diseluruh belahan dunia,bahkan pengusa otoriter pun tidak berhak menghalangi pikiran bekerja. Apalagi mengatur dan menyeragamkan pikiran. Usaha apapun seseorang untuk membatasi, mengatur, dan menyeragamkan pikiran, hanya sia-sia. Dijeruji besipun pikiran tidak bisa dihalangi untuk bekerja. Selama ia sehat wal’afiyat

Secara spesifik, bebas artinya manusia tidak haram memikirkan apapun. Selama ia mampu untuk memikirkannya, silahkan. Jikapun ada batasan, batasannya terletak pada internalnya; yaitu pilihan terhadap objeknya, yang akan mempengaruhi cara dan metodenya.

Baca Juga:  MODEL KAJIAN AL-QUR'AN DARI MASA KE MASA

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah mungkin berpikir bebas? Jawabannya adalah ya, kenapa tidak !. Yang tidak boleh adalah kebebasan bertindak. Karena pada hakikatnya manusia bebas berpikir dan tidak boleh bebas bertindak. Sebab tindakan memiliki sanksi moral, sedangkan pikiran tidak. Dengan demikian, kesalahan berpikir bukanlah kejahatan, atau bahkan kriminal.

Berpikir radikal atau radix artinya berpikikir sedalam-dalamnya, ke akar-akarnya, melampaui batasan fisik, yaitu melakukan mengembaraan di luar batasan fisik “metafisik”. Berfilsafat dengan radikal yaitu melewati pengembaraan inderawi manusia. Misalnya; bisa saja inderanya melihat gunung, tetapi gunung dalam pikiran filsafat tidak berhenti pada seonggak batu, tanah, dan pepohonan. Yang dipikirkan filsafat hakikat gunung dan keberadaan gunung menggambarkan makna apa dalam kehidupan manusia.

Berpikir dalam dataran makna adalah mencari hakikat makna, keberadaan dan kehadiran segala sesuatu. Satu hal yang harus diluruskan, berpikir dalam tahap makna tidak untuk menjawab hal teknik, seperti bagaimana caranya membuat  Batagor, Tahu Bulat, dan Tahu Walik. Tetapi memikirkan persoalan kehidupan, jika kehidupan ini benar-benar ada, maka sebenarnya apa hakikat manusia? “Makan untuk hidup atau hidup untuk makan”, tentu jawabannya bukan itu. Berpikir dalam tahap makna artinya menemukan makna terdalam yang terkandung dari segala sesuatu. Kandungannya adalah nilai-nilai, yaitu kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Kebenaran menjelma dalam ilmu, keindahan menjelma dalam estetika, dan kebaikan menjelma dalam etika.

Terkait makna Islam, secara semantik berasal dari kata salima, artinya menyerah, tunduk, dan selamat. Islam dapat dimaknai menyerah dan tunduk kepada Allah swt. Manusia yang menyerah dan tunduk kepada-Nya, maka akan selamat. Menyerah dan tunduk adalah tidak melakukan pembangkangan terhadap sunnatullah, sedangkan pembangkangan terhadap sunnatullah akan membawa pada kesengsaraan. Karena pembangkangan merupakan manifestasi dari mengikuti hawa nafsu dan egoisme diri.

Baca Juga:  Mengukuhkan Nilai Kemanusiaan: Respon terhadap Terorisme

Filsafat Islam adalah filsafat yang bercorak Islami. Islam menempati posisi sifat, corak, karakteristik dalam filsafat. Filsafat Islam bukanlah filsafat tentang Islam. Filsafat Islam dapat dimaknai berpikir bebas, radikal, dan dalam dataran makna, yang mempunyai sifat, corak, karakteristik menyelamatkan dan mendamaikan. Pemaknaan ini mengindikasikan bahwa filsafat yang tidak menyelamatkan dan mendamaikan tidak lahir dari rahim Islam.

Sifat, corak dan karakteristik filsafat Islam bukan hanya rasional, tapi juga spiritual. Rasionalitas dalam filsafat Islam terletak pada penggunaan potensi berpikir bebas, radikal, dan dalam dataran makna, untuk menganalisis fakta-fakta empirik, sesuai dengan cara dan metode ilmiah. Sedangkan spiritulitas atau transendensi terletak dalam kesanggupan mendayahgunakan qalb, intuisi, imajinansi dalam menemukan dan menyatu, dengan kebenaran mistik secara langsung. dan menjadi sanksi akan kehadiran Tuhan dalam realitas kehidupan atau pengalaman spiritulitas.

Kenyataan tersebut, dapat diambil contoh seperti halnya al-Farabi dan al-Ghazali. Filsafat al-Farabi tidak hanya berhenti pada taraf pendalaman logika, baik mengenai konsep-konsep emanasi maupun kenegaraan, ia lebih jauh memasuki pengalaman spiritualitas dengan menjalani sebagai sufi. Hal demikian yang terjadi juga pada al-Ghazali, dengan berpijak pada filsafat, ia memasuki dataran pengalaman spiritualitas melalui jalan sufi. Baik al-Farabi maupun al-Ghazali tidak meninggalkan filsafat, dengan filsafat keduanya memasuki dataran pengamalan spiritual, sehingga filsafatnya membawanya pada keselamatan dan kedamaian.

           

0 Shares:
You May Also Like