Tasawuf, Toleransi, dan Perdamaian Indonesia

Menyoal tasawuf, bisa kita lihat bersama, bahwa kini fenomena kajian dan pengalaman tasawuf semakin menjadi tren keagamaan. Hal ini juga bukan hanya berlaku di Indonesia saja, tetapi juga menjadi sebuah fenomena global. Lalu, apakah ada hubungan dari ketiga kalimat di atas, sehingga saya jadikan satu judul artikel ini? Mari kita lihat.

Apa itu Tasawuf ?

Menurut Haidar Bagir (2019) tasawuf adalah upaya para ahlinya untuk mengembangkan semacam usaha keras dan disiplin spiritual, psikologis, keilmuan dan jasmaniah yang dipercayai mampu mendukung proses penyucian jiwa atau hati sebagaimana diperintahkan dalam Kitab Suci.

Hal itu didukung oleh hadis Nabi yang amat populer berbunyi: “Di dalam diri manusia ada segumpal organ. Jika baik organ tersebut, maka baiklah semua diri orang itu. Dan jika buruk organ itu, akan buruklah semua diri orang yang memilikinya. Organ tersembunyi adalah hati”. Nabi Kemudian diriwayatkan: “Jika seorang Mukmin melakukan keburukan, maka muncullah satu titik hitam dalam hatinya. Jika dia terus menerus melakukan keburukan, maka makin banyak titik hitam yang melekat di hatinya”.

Jika sudah demikian, dapat diduga bahwa pada akhirnya hati orang seperti ini akan sepenuhnya ditutupi dengan lapisan hitam yang menghalanginya dari mendapatkan cahaya Allah swt. yang sesungguhnya selalu siap menyinari hati setiap manusia. Hati orang seperti ini bagaikan berkarat dan dikuasai oleh penyakit.

Tasawuf, sebagaimana dikatakan di atas, adalah suatu upaya atau metode, disiplin untuk menaklukkan al-nafs al-ammarah bi al-su’ (nafsu yang mendorong-dorong untuk melakukan keburukan) agar kita terhindar dari keadaan hati yang berdaki seperti itu.

Menurut Ibnu ‘Arabi tasawuf adalah berakhlak dengan akhlak-Nya agar kita dapat terus memperbaiki kedudukan spiritual kita dan makin mendekat kepada-Nya, melalui kesetiaan pada Al-Qur’an dan syariahNya.

Baca Juga:  Menyoal Tren Gaya Hidup Masa Kini: Minimalist Lifestyle ala Jepang atau Zuhud ala Sufi?

Sementar itu, orang yang senantiasa melakukan ritual kegiatan seperti di atas disebut Sufi. Sufi adalah orang yang terus-menerus berupaya memelihara ketulusan kepada Allah dan berakhlak baik kepada makhluk (Al-Suyuthi).

Melihat Sufi di Indonesia

Sejarah mencatat bahwa para sufi berdakwah dengan penuh kedamaian, menampilkan wajah Islam yang sejuk, mengayomi dan juga melindungi sesama umat manusia. Eksistensi kaum sufi telah tercatat oleh sejarah sebagai kelompok yang memainkan peranan penting dalam penyebaran dan perkembangan Islam di Nusantara. Tak hanya itu, Islam yang kali pertama berkembang di Bumi Pertiwi adalah Sufisme.

Peran Para sufi dalam proses Islamisasi menurut Ahmad Nurcholish (2017) begitu terang sekali dari adanya kemiripan ajaran sufisme dengan kebudayaan Nusantara pra-Islam. Akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam tampak saling bersimbiose demi berkembangnya syiar Islam.

Ketertarikan dan kenyamanan masyarakat pribumi terhadap dakwah kaum sufi saat itu tidak lain disebabkan oleh skill para dai sufi dalam menyuguhkan wajah Islam yang ramah dan menarik, sehingga ajaran yang mereka sampaikan tidak dianggap asing, aneh, dan membahayakan bagi praktik tradisi kepercayaan lokal.

Mereka dengan gemilang mampu mendakwahkan Islam tanpa disertai ancaman apalagi tindakan kekerasan sebagaimana yang dipraktikkan sejumlah kelompok “Islam” dewasa ini di Tanah Air.

Oleh sebab itu, mari kita mengambil hikmah dari ajaran-ajaran serta kiprahnya para sufi yang menurut hemat saya masih sangat relevan untuk kita implementasikan dalam konteks saat ini, khususnya dalam ranah Indonesia yang memiliki beragam agama dan juga sekte di dalam agama itu sendiri.

Teladan Para Sufi yang Harus Kita Contoh

Tasawuf itu berorientasi pada pengelolaan batiniah dan spiritualitas manusia. Tentu, ketika kita salah dalam mengelola keduanya, maka akan menyebabkan manusia mengalami keretakan eksistensial yang bermuara pada segenap tata etika moral perbuatannya.

Baca Juga:  ONTO-EPISTEMOLOGI OBJEK SAINS: Acuan Ibn Sina dan Karl Popper (Bagian Satu)

Tetapi, ketika sejauh sufisme dan juga spiritualitas menaruh perhatian pada sisi batin fundamental manusia, maka harapannya akan kesadaran moral bisa bergantung padanya, sehingga toleransi dan kerukunan hidup di antara sesama manusia akan terwujud melalui kesadaran spiritualnya.

Oleh sebab itu, inilah, maka kita akan menemukan urgensi dari ajaran sufi yang mengandung doktrin-doktrin yang sangat bagus demi upaya mengatasi problem-problem kemanusian, sehingga sikap-sikap harmonis dan tindakan baik tidak akan terbatas terhadap sesama pemeluk agama saja, melainkan terhadap sesama manusia secara lahir dan batin.

Akhirnya, boleh kita simpulkan bahwa ajaran-ajaran sufi inilah yang kemudian menjadi karakter khas Islam khususnya Indonesia sebagai agama yang damai dan toleran, tanpa kekerasan apalagi peperangan yang berakibat permusuhan. Melalu tasawuf dan para sufi Islam Indonesia relatif bersih dari konflik dan benturan-benturan kebudayaan dan punya satu karakteristik unik bagi Islam Nusantara yang bersifat damai. Mari kita contoh dan lanjutkan!

 

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Pemuda Profetik

Oleh: Himran Alumni Jurusan Sosiologi Universitas Tadulako Palu Sedikit mencurahkan refleksi pemikiran berkaitan dengan momentum  hari kelahiran sosok…