HUSNUZAN DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

Oleh: Rahman Martua Harahap

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Pada akhir tahun 2019, umat manusia di seluruh dunia digoncang oleh sebuah wabah yang tak kasat mata, ya corona atau COVID-19 namanya. Melihat keadaan tersebut, membuat kepanikan di mana-mana. Virus corona bersifat netral, tidak pandang bulu memakan korban baik pejabat, pengusaha, cindekiawan, dokter dan rakyat biasa. Seiring berjalannya waktu, korban semakin hari semakin membludak. Akibatnya, negara di seluruh dunia melakukan pembatasan sosial guna memutus rantai penyebarannya.

Pemerintah Indonesia, telah mengeluarkan status darurat bencana. Langkah-demi langkah, telah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menyelesaikan pandemi ini. Dengan mensosialisasikan gerakan  pembatasan sosial, jaga jarak termasuk mudik pulang kekampung halaman.

Akibat dari langkah-langkah pemerintah tersebut, masyarakat sangat banyak mengalami kerugian. Salah satunya dari segi ekonomi, masyarakat berhenti bekerja terutama pengusaha travel, tidak bisa menjalankan tugasnya seperti biasa lantaran hanya mengandalkan massa sebagai jalan untuk bertahan hidup.  Sehingga nasib hanya bisa pasrah menunggu bantuan dari pemerintah.

Dari segi pendidikan, bagi para siswa, mahasiswa harus dan santri, terpaksa melakukan proses pembelajaran di rumah secara online. Akibatnya, tidak sedikit bagi pelajar, mengalami kebingungan dalam materi yang disampaikan guru dan dosen. Tetapi percayalah, para guru dan dosen berharap agar siswa dan mahasiswanya pandai memanfaatkan momen. Kelak akan mejadi pengganti mereka yang harus siap tempur di mana pun dan kapan pun.

Tidak cukup dengan itu, masyarakat juga harus membatasi sosial dengan orang yang di cintai. Dengan melakukan social distanching atau jaga jarak. Masyarakat harus menahan rasa rindu dan tatap muka secara langsung. Seperti sanak famili, sahabat dan keluarga. Tetapi yakinlah, pemerintah hanya mengiginkan rakyatnya yang terbaik agar tidak terjangkit virus. Lantas, bagaimana peran tasawuf memandang hal ini ?

Baca Juga:  Menjadi Hamba, Menjadi Mulia

Melihat kondisi di atas, kita sebagai makhluk ciptaaan Allah, khususnya kaum muslimin, dapat mengambil pelajaran dengan keadaaan sekarang. Pertama, selain ikhtiar dan usaha, sebagai umat yang beragama pun harus mempraktikkan konsep sabar, syukur, berdoa tuk mengharap rida-Nya. Barang kali, kasus ini adalah ujian dari Allah agar kiranya tidak bersifat sombong. Dalam artian, semua yang kita kerjakan hasil usaha sendiri, padahal bukan. Sadarlah bahwa manusia tercipta dari air mani yang hina tak sepantasnya bersifat congkak.

Kedua, sebagai makhluk ciptaan Allah, agar kiranya kita bersifat rendah hati (tawaduk). Tawaduk kepada Allah dan tawaduk terhadap sesama. Jangan selalu bersifat congkak sampai berasumsi kekayaan dan jabatan hasil pencapaian sendiri. Semua itu hanyalah bonus dari Allah. Sekaligus ujian material sampai mana kadar keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah.

Ketiga, kita sebagai makhluk sosial, mari saling berbagi dan saling tolong menolong, yang berada di atas mari luangkan waktunya untuk menolong yang di bawah, baik secara material maupun nonmateri. Karena pada hakikatnya, manusia seperti halnya dengan simbiosis mutualisme (saling membutuhkan satu sama lain) Di dalam Alquran Allah berfirman “…Dan tolong menolonglah kamu  dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah [5]: 2).

Terakhir, dengan adanya pandemi wabah virus corona, harusnya kita meningkatkan kadar keimanan kita kepada Allah. Dengan cara, memperbanyak beribadah dan berupaya untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya dengan bersikap sabar dan ikhlas. Senantiasa berusaha sambil berdoa dan tawakkal. Usaha yang dapat dilakukan sekarang adalah menuruti himbauan pemerintah dengan mematuhi protokol kesehatan. Karena, dengan sikap patuh kita dapat memutus rantai penularan wabah virus corona.

Baca Juga:  Hijrah (13): Katakan Tidak pada Paham Islam Radikal !

Mudah-mudahan kita terhindar dari wabah ini. Agar  dapat berkumpul dan berintraksi seperti biasanya. Tetap jaga kesehatan dengan melakukan olahraga dan mengkomsumsi makanan bervitamin. Guna meningkatkan daya tahan tubuh. Setelah melakukan usaha dan ikhtiar kita. Selebihnya, kita serahkan kepada-Nya.

0 Shares:
You May Also Like