(CUMA CURHAT, TIDAK ILMIAH) SOAL BIGOTRY DI TEMPAT YANG SEHARUSNYA BEBAS DARI ITU

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Sains itu mengandung kebenaran, itu sudah pasti, bahkan banyak kebenaran, khususnya jika dikaitkan dengan ihwal alam empiris dan pragmatis. Saya tak ragu sama sekali untuk mengatakan manusia takkan pernah hidup sebagai manusia sebaik ini tanpa sains. (Meski sebenarnya tak sedikit pula ahli, bahkan dari kalangan saintis atau filsuf sains sendiri, yang mempersoalkan kekuatan landasan filosofis sains. Tapi, curhat ini tak seserius itu sehingga harus membahas masalah sekompleks ini). Meskipun demikian, alam kehidupan manusia bukan alang kepalang jauh lebih luas ketimbang hanya alam empiris dan kebutuhan pragmatis. Maka kita butuh filsafat, termasuk agama, juga seni dan sastra. Tidak ada yang lebih mulia, satu di atas lainnya. Semua bisa membawa kita kepada kebenaran yang lebih luhur. Masing-masing hanya punya domain berbeda. Kenapa hanya untuk menerima kenyataan sederhana ini saja banyak orang tak bisa? Apalagi sebabnya kalau bukan kepongahan luar biasa?

Oh, katanya mereka menerima sastra juga. Lalu,  bagaimana mereka menjelaskan kenapa orang mendapatkan kenikmatan darinya? Semata fenomena loncatan listrik di kepala sepanjang penjelasan neuroscience saja? Bagaimana memastikan bahwa loncatan listrik di kepala itu bukan hanya fenomena, yang merupakan akibat dari sesuatu sebab yang berada di luarnya/yang ada sebelumnya? Tuhan pun cuma hasil operasi god spot di otak manusia? Bagaimana memastikan bahwa itu sebab muasalnya, dan bukan akibat dari suatu sebab yang berada di luarnya?

Stephen Hawking, meski kadang sikapnya diidentikkan dengan ateisme atau sejenisnya, menurut saya, masih lebih rendah hati ketika membatasi diri dengan hanya menyatakan bahwa sains sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Seingat saya, tanpa dia harus bilang bahwa Tuhan—atau sumber lebih dalam di luar alam empiris—itu tidak ada, dan lain sebagainya. Ini pun sebenarnya sudah suatu pernyataan yang problematis. Tapi, artinya, setidaknya apa sulitnya memberi benefits of the doubt kepada orang yang merasa perlu menemukan sesuatu yang berada di balik yang empiris, tanpa harus dengan pongah dan tak semena-mena mengatakan itu bagian dari sisa-sisa kebodohan orang primitif saja? Apalagi kalau itu dilontarkan tanpa mau bersusah-payah belajar ilmu (yang dipegangi oleh orang-orang yang melihat ada kebenaran pada) filsafat dan agama? Sudahkah semua teks filsafat, dari mulai Pythagoras, Pascal dan Plato, hingga al-Ghazali, ar-Razi serta Mulla Sadra, sampai William James, Heiddeger dan Wittgenstein, mereka jelajahi semua sudutnya dengan membaca teks-teks aslinya? Dengan hati terbuka? Pernyataan bahwa sains bisa menjelaskan segalanya itu sama sekali tak sama dengan menyatakan bahwa sains adalah sumber semuanya. Filsafat dan agama, sama sekali tanpa menafikan sains, berusaha melacak lebih jauh ke sana dengan cara berbeda. Cuma itu saja. Tapi kok susah sekali membuka diri terhadap ini saja, ya. Ke mana itu sikap ilmiah yang mereka puja-puja?

Baca Juga:  Islam Sempalan dan Keharusan untuk Bersikap Terbuka

Saya tidak bilang bahwa saya sudah baca teks-teks semua raksasa di bidang pemikiran filsafat dan agama itu. Tidak. Saya hanya mau bilang, kalau belum melakukan itu—dan tak apa juga kalau belum, karena barangkali memang susah satu orang melakukan itu semua—setidaknya berilah the benefits of the doubt itu kepada orang-orang yang merasa bisa mendapatkan kebenaran dari pemikiran-pemikiran yang berada di luar bidang sains itu. Bahkan saya pun bertanya-tanya, sudah berapa banyak buku-buku filsafat sains yang mereka baca? Juga filsafat agama?

Dawkins, seorang ahli biologi yang menulis banyak buku menolak agama, mendaftar ratusan referensi yang dibacanya, tanpa memasukkan satu pun buku filsafat agama. (Saya belum baca Outgrowing God, btw). Kalau pun dia menolak agama, setidaknya  dia baca, lalu bongkar kesalahan-kesalahan mereka. Atau, jangan-jangan, kalau dia baca dengan saksama dan hati terbuka, sekaliber Dawkins pun akan menjadi lebih rendah hati untuk tak mengambil sweeping generalizations seperti yang dilakukannya dengan tak semena-semena selama ini?

Repot juga, ya. Di satu sisi kita kewalahan dengan pengikut agama yang mau menang sendiri dan mengafir-ngafirkan sains dan filsafat. Tapi, di sisi lain, kita dapati ada juga pemuja sains yang menafikan filsafat dan membodoh-bodohkan pemikiran agama. Kapan manusia benar-benar bisa bebas dari para bigot yang ada di berbagai kelompok ini? Maafkan jika saya tidak tahan. Saya memang kurang sabar.

0 Shares:
You May Also Like