Menghayati Tujuan dan Pelajaran dari Surat Al-‘Ashr

Oleh: Imdadur Rohman Alhakim

Mahasiswa STFI Sadra Jakarta

Dalam Alquran Allah sering bersumpah dengan benda-benda, misalnya, “Demi matahari/wa sy-syamsi” (QS. Al-Syams [91]: 1). Allah juga bersumpah dengan jiwa, “Demi jiwa dan yang menyempurnakannya (wa nafsi wa mâ sawwâhâ)” (QS. Al-Syams [91]: 7). Namun dari sekian banyak sumpah-Nya, Allah paling sering bersumpah dengan waktu: “Kami bersumpah dengan Hari Kiamat/lâ uqsimu bi yaumil qiyâmah” (QS. Al-Qiyamah  [75]: 1). “Demi (waktu) Dhuha (wadh dhuhâ). Demi malam apabila hening! (wallaili idzâ sajâ) (QS. Al-Dhuha [93]: 1-2). “Demi malam apabila gelap dan demi siang apabila terang benderang (wallaili idzâ yaghsyâ, wannahâri idzâ tajallâ) (QS. Al-Lail [92]: 1-2). Untuk itu, tulisan ini mencoba merenungi sumpah-Nya yang berkaitan dengan waktu khususnya yang terpatri dalam surat al-’Ashr yang mana dalam surat ini Allah bersumpah dengan waktu asar.

Ada perbedaan di antara para ahli tafsir dalam mengartikan ayat pertama dalam surat ini. Di antaranya, ‘ashr itu adalah waktu asar, sebaliknya dari waktu dhuha. Waktu dhuha ialah seperempat waktu yang pertama sedangkan waktu asar adalah seperempat waktu yang terakhir. Sebagian lagi berpendapat bahwa ‘ashr di situ berarti masa, misalnya ‘ashrur rasul (masa Rasul). Al-’Ashr dalam bahasa Arab biasanya dipakai untuk menunjukkan babakan atau periodisasi, misalnya ‘ashrul hadid yang berarti zaman besi di dalam sejarah.

Menurut sebagian besar mufasir, wal-’ashr itu menunjukkan zaman Rasul. Allah bersumpah dengan zaman Rasul. Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa sebetulnya zaman itu, seperti juga makan (tempat), tidak ada yang baik atau jelek. Tidak ada waktu yang mulia atau waktu yang hina. Tidak ada tempat yang suci dan tidak ada pula tempat yang kotor. Seluruh waktu sama derajatnya dan seluruh tempat juga sama derajatnya. Lalu, apa yang menyebabkan satu waktu mempunyai nilai lebih tinggi dari waktu yang lain? Hal itu karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan waktu itu. Satu tempat juga menjadi lebih mulia dari tempat yang lainnya bukan karena tempatnya itu, melainkan karena tempat itu berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa.

Baca Juga:  Konsep Etika Sufistik Al-Ghazali

Surat ini diawali dengan kata wal-’ashr, demi masa (masa Rasulullah saw.). Masa Rasulullah saw. oleh seluruh mazhab dipercayai sebagai masa yang paling penting. Dikarenakan masa itu ialah ‘ashrut tasyri’ (masa ditetapkannya syariat), masa diturunkannya Alquran dan masa dikembangkannya agama Islam. Selanjutnya, Thabathaba’i menyatakan, “Inilah masa terbitnya Islam di tengah-tengah masyarakat manusia dan masa munculnya kebenaran di atas kebatilan”.

Ayat kedua menyebutkan innal insãna lafi khusr yang artinya: sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kata insan menurut Muthahhari, mengandung makna bahwa di dalam diri manusia itu ada dua sifat, yaitu sifat hayawaniyah (sifat-sifat kebinatangan) dan sifat insaniyah (sifat-sifat kemanusiaan). Manusia dalam sifat kebinatangannya sama dengan binatang yang lain, misalnya membutuhkan makan dan minum.

Masih menurut Muthahhari, ia membedakan antara istilah kenikmatan (pleasure) dan kebahagiaan (happiness). Binatang itu tidak pernah memiliki happiness, tetapi memiliki pleasure. Dari segi ini, kita pun sama halnya dengan binatang. Kalau Anda makan yang enak, Anda belum tentu bahagia, tetapi pasti Anda memperoleh pleasure (kenikmatan). Tapi misalnya jika Anda adalah seorang suami yang pergi jauh merantau dan pulang ke tanah air setelah sekian tahun, ketika Anda turun dari pesawat dan di seberang sana Anda melihat istri dan anak Anda. Anda akan berlari dan mencium anak istri Anda. Saat itu Anda bukan hanya merasakan pleasure, tetapi juga happiness. Jadi apa yang membedakan kebahagiaan dengan kenikmatan? Kenikmatan itu sifatnya hayawaniyah sedangkan kebahagiaan  bersifat insaniyah.

Apa yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dengan manusia yang lain? Yang membedakannya adalah sejauh mana setiap orang mengembangkan nilai kemanusiaannya. Lalu, apa yang bisa mengembangkan nilai kita sebagai manusia seutuhnya? Illalladzîna ãmanu wa ’amilush shãlihat yakni kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. ( QS. Al-’Ashr [103]: 3). Jadi, ada dua hal yang mengembangkan nilai kemanusiaan, pertama iman dan kedua amal saleh.

Baca Juga:  Dimensi Politik Ibnu Thufail dalam Risalah Hayy Ibn Yaqzan

Mengapa iman? Dengan iman manusia dapat meningkatkan derajat hayawaniyah-nya ke derajat insaniyah atau dari pleasure kepada happiness. Imanlah yang dapat menghubungkan manusia dengan sifat-sifat rohaniah atau spiritual. Karena itu, manusia tanpa iman sama dengan binatang, nilainya sangat rendah. Ia hanya menjadi orang-orang yang mengejar pleasure bukan mengejar happiness. Manusia yang kosong dari iman adalah manusia dalam pengertian majãzi saja dan pada hakikatnya adalah binatang.

Selanjutnya, yang dapat meningkatkan nilai insaniyah kita adalah a’mãlush shãlihat (amal saleh). Jadi, nilai seorang manusia itu diukur dari iman dan amal salehnya. Dalam Alquran dinyatakan: “Dan setiap orang memperoleh derajat (tingkat-tingkat di surga atau neraka) dari (seimbang dengan) apa yang telah mereka kerjakan…”(QS. Al- An’am [66]: 132).

Menurut Muthahhari, amal saleh itu memiliki dua ciri. Pertama, ciri asli. Sesuatu disebut amal saleh karena memang pada zatnya sudah merupakan amal saleh. Misalnya salat, zakat dan berbuat baik kepada orang lain. Kedua, ciri amal saleh diukur berdasarkan hubungan dengan pelakunya. Misalnya salat bisa hukumnya wajib, sunat, malah bisa haram tergantung pada pelakunya. Jadi, amal saleh itu bukan hanya harus sesuai dengan syariat, tapi juga harus layak dengan pelakunya.

Menurut surat Al-’Ashr ini, kita punya kewajiban bukan hanya mengembangkan sifat insaniyah kita, tetapi juga kewajiban untuk mengembangkan masyarakat insaniyah atau masyarakat yang memiliki sifat kemanusiaan. Alquran menyebutkan dua caranya, yaitu tawãshaubil haq  dan tawã shaubish shabr. Alquran tidak menggunakan kata tanãshahû (saling memberi nasihat), tetapi Alquran menggunakan kata “saling memberi wasiat”. Mengapa? Wasiat itu lebih dari sekedar nasihat. Nasihat itu boleh dilaksanakan boleh tidak—mungkin juga boleh didengar atau tidak—tapi kalau wasiat harus didengar dan dilaksanakan.

Baca Juga:  MURSYID PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Pada kalimat tawã shau kita bukan hanya subjek, tetapi sekaligus objek. Kita bukan saja yang menerima wasiat, tetap juga yang memberi wasiat. Apa yang harus diwasiatkan? Al-haq (kebenaran) dan ash-shabr (kesabaran). Sebagaimana iman tidak bisa dipisahkan dengan amal saleh, maka al-haq tidak bisa dipisahkan dengan ash-shabr. Jadi, orang tidak dikatakan beriman kalau tidak beramal saleh dan tidak dikatakan membela kebenaran kalau tidak tabah dalam membela kebenaran itu.

Kesimpulannya, dari surat yang pendek ini ialah kita akan berada pada tingkat yang rendah atau dalam keadaanrugi apabila kita tidak mengembangkan diri dengan iman dan amal saleh. Masyarakat juga akan menjadi masyarakat yang rendah bila kita tidak menegakkan al-haq dan ash-shabr dalam mengarungi lembah kehidupan.

7 Shares:
You May Also Like