Menelusuri Makna Ramadhan

Sebelum kita melihat dan meresapi renungan puasa oleh maha guru sufi, mari kita tengok dahulu makna di balik kata Ramadhan. Dalam kalender Islam, Ramadhan adalah bulan kesembilan. Kita selisik ke kamus bahasa, Ramadhan merupakan bentuk mashdar dari kata kerja ramidha yang bermakna membakar, terik atau keadaan yang amat panas. Dinamakan Ramadhan karena pada bulan ini udara di Jazirah Arab sangat menyengat bahkan bisa membakar kulit manusia. Sehingga ada ungkapan أرض رمضة (tanah yang terbakar terik matahari). Ungkapan lain menyatakan رمضت الغنم (kambing itu dikembalakan di tempat yang amat terik, sampai menyakiti hatinya). Dan فلان يترمض الظباء (Fulan mengikuti kijang di tanah yang panas).

Sedangkan secara maknawi, Ramadhan itu bulan membakar semua dosa-dosa dan membumi hanguskan sifat-sifat angkara murka yang bertahta di dalam diri dengan amaliah puasa dan amal-amal saleh lainnya, sebab di bulan ini semua amaliah baik akan dilipatgandakan pahalanya. Begitu pendapat Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab Shafwat al-Tafasīr

Pendapat lain menyatakan Ramadhan bermakna mengasah karena di bulan ini para kabilah-kabilah di Jazirah Arab melakukan aktivitas mengasah alat perang mereka. Bisa juga kita hayati mengasah di sini bermakna mengasah batin atau mengasah jiwa, karena melalui bulan Ramadhan Allah mengajak manusia untuk tidak tergantung pada hal-hal yang bersifat kenikmatan duniawi—tidak mengkonsumsi beragam makanan dan minuman, sampai tidak melakukan hubungan intim dengan pasangan saat berpuasa—untuk mengaktifkan dimensi rohaninya.

Dalam kitab Al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfāzh al-Qur’ān al-Karīm kata Ramadhan di dalam Al-Qur’an disebut hanya satu kali yakni dalam surat Al-Baqarah;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

Baca Juga:  Tentang Neraka

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Berdasarkan ayat di atas, Al-Qur’an menggunakan kata Ramadhan dalam konteks bulan diturunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan di dalamnya terdapat perintah kewajiban puasa.

Ayat di atas juga mengisyaratkan kepada umat Muslim, agar saat melakukan aktivitas ibadah puasa di bulan Ramadhan hendaknya dibarengi dengan membaca, menghayati dan mempelajari kandungan lahir dan batin Al-Qur’an, sehingga kita memperoleh petunjuk dan secercah pengetahuan berupa hakikat kebenaran dan hakikat kebatilan.

Para ulama berdasarkan penghayatan dan perenungannya masing-masing memberikan sebutan untuk bulan Ramadhan seperti:

Ramadhan adalah bulan pendidikan (Syahr at-Tarbiyyah) karena pada bulan ini Allah mendidik langsung hamba-hamba-Nya untuk memiliki sifat dan akhlak seperti akhlak Allah swt. misalnya Allah tidak makan dan minum, orang yang berpuasa diperintahkan oleh Allah agar tidak makan dan minum. Jadi, orang yang sedang berpuasa pada hakikatnya sedang melatih dirinya untuk memiliki sifat-sifat ketuhanan, sehingga ia hadir di tengah-tengah masyarakat menjadi duta-duta Tuhan Yang Maha Cinta dan Kasih, bukan duta setan yang selalu mengajak kepada keburukan dan kerusakan. Proses pendidikan inilah yang disebutkan dalam sebuah riwayat, “Berakhlaklah kalian dengan akhlak/sifat-sifat Allah swt”.  

Ramadhan juga disebut sebagai bulan jihad (Syahr al-Jihād). Selain fakta historis mencatat beberapa peristiwa besar dan penting dalam sejarah dakwah Islam pada masa Nabi terjadi di bulan Ramadhan, misalnya peristiwa Perang Badar dan peristiwa penaklukkan kota Makkah (Fat al-Makkah) yang tanpa meneteskan darah sedikit pun. Yang lebih penting dari itu adalah Ramadhan disebut sebagai bulan jihad, karena seluruh umat Muslim sedang berjihad melawan, menundukkan dan mengatur hawa nafsu diri sendiri. Inilah yang disebut dengan Jihad Akbar yakni jihad terbesar dan terpenting untuk memperoleh keselamatan hakiki.

Baca Juga:  BERSAMA MAULANA RUMI MEMAKNAI MUDIK

Ramadhan dinamakan dengan bulan kesabaran (Syahr ash-Shabr) karena lewat ibadah puasa umat Muslim dididik oleh Allah agar memiliki sikap/mental sabar dalam menjalani berbagai kehidupan. Sebab, sabar itu dibutuhkan kapan pun dan di mana pun serta sabar harus merasuk pada lintas umur—dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan, kaya, miskin dll—semuanya membutuhkan kesabaran. Karena apa yang dialami seseorang dalam hidup itu tidak keluar dari dua kemungkinan; Pertama, mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Kedua, mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Dan puasa melatih seseorang untuk bersikap sabar.

Sumber Bacaan:

‘Abdurrahman Habannakah, As-Shiyām wa Ramadhān fī Al-Qur’ān wa As-Sunnah, Damaskus: Dār al-Qalam, 1987.

Ḫusain bin Muẖammad Rāghib Ishfahāni. Mufradāt Alfāzh al-Qur’ān, Beirut: Dār al-Qalam, tt.

Jalaluddin Rakhmat, Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-Renungan Sufistik, Bandung: Mizan, 2008.

Muhammad Ali As-Shabuni, Shafwat at-Tafasīr, Jilid 1, Beirut: Dār al-Fikr, 1998.

Muẖammad Fuād ‘Abd Bāqī, Al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfāzh al-Qur’ān al-Karīm, Bandung: Diponogoro, tt.

 

5 Shares:
You May Also Like
Read More

Menguak Daya Imajinasi

Haidar Bagir Dewan Pembina Nuralwala: : Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Apa itu daya imajinasi? Dalam khazanah filsafat…
Read More

Sakit sebagai Karunia

Oleh: Haidar Bagir Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Berbicara soal kesehatan, seseorang baru merasakan nilainya sehat…