Metode Menenangkan Diri ala Al-Qur’an

Akhir-akhir ini, ada banyak metode untuk menenangkan diri, salah satunya adalah melakukan gerakan Yoga atau dengan mensugesti diri di ruang-ruang tertentu. Terkait hal ini agama Islam menawarkan metode sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an, “Ala bidzikrillah tathmainnul qulub, ketahuilah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana zikir yang mendatangkan ketenangan?

Tentu, untuk mengalami keadaan tenang butuh proses, tidak serta merta langsung merasakan ketenangan. Tapi, itu semua melalui proses yang tekun, sampai ia menjadi kebiasaaan. Saya ingin menceritakan pengalaman sendiri—meskipun ini cukup pemula. Bagaimana zikir dapat merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya zikir Allahu Akbar (Allah Maha Besar) yang berefek pada ketenangan jiwa? Kita sadari atau tidak, kalimat Allahu Akbar itu terucap berulang-ulang setiap kita shalat. Salah satu maknanya ialah sebesar apapun nikmat yang kita rasakan, seberapa besar jabatan yang kita emban, dan sebesar apapun masalah yang sedang melanda kita itu semua jauh lebih besar dibanding dengan kebesaran Allah.

Di ayat lain melalui firman-Nya Allah menghibur hati makhluk-Nya bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Perenungan dan kesadaran semacam ini adalah usaha berbaik sangka kepada Tuhan. Sehingga suasana hati akan damai. Sebagai proses latihan, tentu tidak langsung seperti yang dialami ulama yang kapasitas ilmunya luar biasa besar, paling tidak ada pergeseran sudut pandang memaknai masalah yang tengah dihadapi. Masalah tidak lagi menjadi hal yang menakutkan, tapi memacu kita untuk mencari solusi.

Ada hal menarik dalam hadis Nabi yang bunyinya demikian, “Shalat wajibmu akan mengangkat derajatmu. Sedangkan shalat sunnahmu akan membuat Allah jatuh cinta padamu”. Ketika Allah telah mencintaimu, pandangan dan pendengaranmu akan menjadi pandangan dan pendengaran Allah. Maksudnya, pandangan kita yang tadinya negatif, akan berubah menjadi positif—akibat zikir yang terus membasahi lisan, hati dan pikiran kita. Seolah ada sugesti baik, yang kita lakukan dalam diri kita. Itulah yang kemudian mengubah keadaan kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Baca Juga:  RELIGIUSITAS CUMA GEJALA NEUROLOGIS ATAU MALAH NEUROTIK BELAKA? Mari Menjadi Peneliti yang Lebih Berhati-hati

Mengingat shalat memuat banyak zikir, maka dapat disimpulkan dengan adanya perintah shalat ini, Tuhan menyiapkan sarana menenangkan jiwa manusia yang sedang pecah. Poinnya, teruslah shalat agar jiwa kita diluputi kebahagiaan hidup. Inilah cara Islami yang selama ini saya lakukan.

0 Shares:
You May Also Like