Dunia yang Diimpikan Edward Said dan Kritiknya terhadap Tesis Samuel P. Huntington

Imprealisme Barat turut disokong dengan apa yang disebut sebagai epistemologi imperial. Dalam epistemologi imperial,  diasumsikan bahwa bangsa-bangsa imperial merupakan bangsa yang unggul, lebih beradab, dan sebagainya, dibandingkan bangsa-bangsa yang terjajah. Masalah itulah yang berusaha disikapi oleh Edward Said dengan latar belakangnya sebagai salah satu pemikir terkemuka pascakolonial.

Pertama-tama, dalam buku Reflections on Exile: And Other Literary and Cultural Essays (2000) yang merupakan kumpulan dari esai Edward Said, dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Politik Pengetahuan (2021). Said memaparkan bahwa praktik dan epistemologi imperial kemudian memunculkan perlawanan dari bangsa terjajah dan melahirkan kesadaran identitas nasional. Singkat kata, politik identitas saat itu mempunyai manfaat dalam upaya perlawanan terhadap praktik politik kolonialis atau imperialis.

Akan tetapi, nampak jelas bahwa Said tidak menghendaki suatu sikap yang meneguhkan kesadaran politik identitas nasional atau nasionalistis yang kemudian terjatuh ke dalam sikap chauvinistik. Dengan demikian, sikap-sikap yang antagonistis antarbangsa, terutama mengenai interaksinya, perlu untuk ditinggalkan, karena yang diimpikan oleh Said adalah sebuah dunia yang di dalamnya setiap bangsa dapat bekerjasama secara erat, dan masing-masing kebudayaan dapat bertemu, sehingga terjadi apa yang disebut sebagai “pertemuan kemenangan” bagi semua pihak.

Said pun menggambarkan bahwa sikap ideal yang perlu kita kembangkan, yakni memposisikan diri sebagai “sang pelancong” yang senantiasa menjunjung suatu sikap yang terbuka, dan mengandaikan adanya kesadaran mengenai keberadaan “Yang Lain”, tidak menutup diri untuk senantiasa belajar terhadap kebudayaan lain, untuk mau terus bergerak, pergi ke dunia yang berbeda. Dan semua itu dilakukan dengan rasa cinta dan penuh dedikiasi. Bagi Said, hal itu juga yang seharusnya menjadi inti dari apa yang disebut sebagai kebebasan akademis, yang diartikan sebagai pencarian pengetahuan dan kebebasan tanpa henti.

Baca Juga:  Menilik Kembali Gerakan Ahmadiyah di Indonesia

Itu artinya, Said tidak menghendaki adanya penghargaan yang berlebihan terhadap otoritas kebudayaan kita sendiri tanpa dibarengi suatu sikap yang kritis. Terlebih lagi, sikap penghargaan berlebih terhadap kebudayaan sendiri dapat mengarahkan pada supremasi bahwa kebudayaan sendiri lebih unggul dibanding yang lain. Sikap semacam itu dapat menjadikan kita sebagai entitas yang tertutup, tetap dan terpaku pada otoritas. Tentu saja hal tersebut berkaitan juga dengan dunia yang diimpikan oleh Said, yakni sebuah dunia yang memungkinkan adanya pertemuan kemenangan bagi semua pihak, sebuah dunia yang tiap insan terbuka untuk belajar terhadap yang lain, terjadi pertemuan antarbangsa, antarbudaya, dan kita bisa bersama-sama bergembira merayakan perbedaan.

Dari uraian di atas, meski dengan jelas bahwa Edward Said mempermasalahkan epistemologi imperial, seperti gagasan la mission civilisatrice yang menyebut bahwa beberapa ras dan budaya memiliki tujuan hidup yang lebih tinggi daripada yang lain, dan memberi hak pada mereka untuk “memperadabkan” yang dianggap lebih rendah padahal yang dilakukan adalah menjajah. Akan tetapi, pada sisi yang lain, Edward Said pun mempersoalkan ketika kesadaran identitas nasional dari negara-negara bekas jajahan mengarahkan pada kesadaran nasional yang berlebihan dan menjatuhkan diri pada chauvinistik.

Kritik Edward Said terhadap Tesis Samuel P. Huntington

Saya rasa dunia yang diimpikan oleh Edward Said, akan terhambat oleh pandangan-pandangan yang bersifat esensialis. Esensialis yang dimaksud di sini, yakni memandang suatu peradaban atau kebudayaan sebagai sesuatu yang “tetap”. Implikasi dari pandangan semacam itu, yaitu dibandingkan memandang bahwa suatu kebudayaan atau peradaban dapat berinteraksi dan belajar terhadap kebudayaan dan peradaban lain, yang digambarkan justru karena suatu kebudayaan atau peradaban bersifat tetap, sehingga menghasilkan pandangan yang lebih menekankan bahwa kebudayaan dan peradaban “kita” berbeda dengan “mereka” dan dalam posisi yang antagonis.

Baca Juga:  Hijrah Milenial: Antara Hasrat dan Kebutuhan

Dalam suatu pandangan yang esensialis, seakan menutup diri bahwa masing-masing kebudayaan dan peradaban dapat saling belajar satu sama lain, saling memengaruhi satu sama lain, karena adanya penggambaran terhadap budaya atau peradaban yang bersifat statis tadi. Pandangan esensialis semacam itu, nampak jelas dalam karya ilmuwan politik ternama yaitu Samuel P. Huntington, dan Edward Said sangat kritis terhadap tesis yang diargumentasikan oleh Huntington.

Adapun tesis Huntington yang dipermasalahkan oleh Said, yakni The Clash of Civilizations. Dalam tulisan Huntington, dikatakan bahwa konflik yang terjadi pasca-berakhirnya perang dingin, yakni konflik antarperadaban, yang akan saling berbenturan. Bagi Said sendiri, apa yang dikemukakan oleh Huntington, lebih tepat disebut sebagai hasutan dibanding bernilai ilmiah. Said pun menyoroti adanya kepentingan militer dan ekonomi di belakang tesis yang sangat terkenal tersebut.

Jelas saja, saya cukup memahami keresahan Said terhadap tesis Huntington yang menurut hemat saya memang bermasalah. Dengan penggambaran Huntington yang seperti itu, Huntington seakan menutup diri kemungkinan bahwa masing-masing peradaban atau kebudayaan, yang memang mempunyai nilai berbeda-beda, akan tetapi dapat saling berinteraksi, belajar dan memengaruhi satu dengan yang lainnya. Huntington seakan menutup diri bagaimana suatu budaya atau peradaban merupakan suatu hal yang dinamis. Huntington justru mengarahkan perbedaan-perbedaan tersebut pada hubungan yang bersifat konfliktual, dibanding kehidupan yang lebih damai.

3 Shares:
You May Also Like