Hijrah (7) : Jihad Kemanusiaan

Jika di Makkah dakwah Nabi lebih berfokus pada revolusi teologis, yakni upaya menegakkan akidah Islam, maka di Madinah Nabi mulai membawa semangat revolusi sosiologis. Ini tentu berhubungan erat dengan naiknya pamor Nabi sebagai seorang pemimpin ummah. Dan sebagai pemimpin, Nabi mengemban tugas untuk menciptakan suatu masyarakat yang makmur, sejahtera, adil dan aman dari gangguan pihak luar. Untuk itu, diberlakukanlah usaha keras dan perjuangan bersungguh-sungguh dalam membangun masyarakat yang kemudian dikenal dengan istilah ‘jihad’.

Dengan demikian, ummah diminta untuk berjuang mengerahkan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan kualitasnya di berbagai bidang mulai dari intelektualitas, sosial, ekonomi hingga spritualitas. Tak cukup sampai di situ, segala usaha tersebut mesti dilandasi oleh semangat berjuang di jalan Allah, maka kitapun akan mengenal istilah ‘jihad fi sabilillah’. Berkat upaya dan kerja-kerja tak kenal lelah itu, Nabi bersama-sama dengan para pengikutnya sedang bergerak menuju kemajuan dan kegemilangannya.

Benih-benih kejayaan itu telah mulai tumbuh menjadi tunas. Namun, seiring dengan tunas yang semakin meninggi, terpaan angin pun akan semakin kencang. Maka, umat Islam yang baru mulai tumbuh dan merangkak menuju kejayaannya itu akan menghadapi terpaan badai topan yang penuh marabahaya.

Kisah tentang seorang Nabi dan para pengikutnyayang mulai bangkit di Madinah dan telah menyebar ke seluruh jazirah Arab. Hal ini membawa konsekuensi munculnya kegelisahan dari para pemain lama dalam dunia perpolitikan Arab jahiliyah. Munculnya kekuatan baru selalu menjadi ancaman bagi para penguasa. Apalagi kekuatan baru itu adalah kekuatan yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Tak jarang, bentuk perjuangan semacam itu berujung pada pembungkaman bahkan pembunuhan. Dengan demikian, Nabi dan pengikutnya berada dalam kondisi yang membahayakan. Sebagaimana dalam penuturan Ibn Katsir bahwa ‘suku-suku Arab, seluruhnya sedang membidikkan panah mereka kepada Nabi, serta berusaha menyerang Nabi dari berbagai penjuru’.

Baca Juga:  Transformasi Insan Menurut Mulla Sadra: Membaca Konsep Dasar Insan Kamil Hikmah Muta’aliyah

Pada dasarnya, Islam adalah agama yang mengajarkan dan menjunjung tinggi perdamaian. Secara konseptual, penamaan agama yang dibawa Nabi dengan nama ‘Islam’ telah menunjukkan bahwa cita-cita ideal agama ini adalah menciptakan perdamaian dan keselamatan di muka bumi. Akan tetapi, tidak selamanya apa yang ada di konsep-konsep mampu mewujud sempurna dalam kehidupan nyata. Dalam sejarahnya, gangguan-gangguan dari pihak luar Islam serta beban ekonomi masyarakat Muslim telah sedemikian mendesak, sehingga membuat Nabi akhirnya mengambil keputusan yang lebih tegas.

Demi mempertahankan ajaran Islam dari serangan suku-suku Arab jahiliyah, Nabi—berdasarkan wahyu Al-Qur’an—mulai memberlakukan perang dalam rangka mempertahankan diri. Sebab, segudang cita-cita mulia agama Islam takkan berhasil terwujud bila terus mendapat gangguan-gangguan dari kaum jahiliyah. Maka, wilayah jihad pun diperluas. Jihad dengan mengangkat senjata dan berperang mendapat justifikasi dari wahyu Al-Qur’an lengkap dengan syarat-syarat dan ketentuannya. Al-Qur’an juga menyatakan bahwa perang adalah hal yang dibenci, bahkan harus dihindari, akan tetapi dalam kondisi-kondisi di mana umat Islam mendapat serangan dan dianiaya pihak luar, maka ummah harus bersedia mengangkat senjata mempertahankan peradaban dari kehancuran.

Peperangan pertama yang terjadi antara umat Islam dan kaum jahiliyah adalah perang Badar pada bulan Ramadan tahun ke 2 Hijriyah. Perang ini menyertakan 317 prajurit dari pihak beriman berhadapan dengan 1000 prajurit dari pihak jahiliyah. Peperangan yang tak seimbang itu pada akhirnya secara mengejutkan dimenangkan oleh umat Islam. Namun, kemenagan Islam tidaklah sama dengan kemenangan orang-orang primitif.

Pada zaman di mana peperangan dan pembantaian dilakukan dengan brutal, Islam telah hadir dengan semangat revolusioner yang mengesankan. Al-Qur’an tak henti-hentinya mengingatkan umat Islam agar jangan menyerang terlebih dahulu serta sedapat mungkin merundingkan masalah dengan jalan yang lebih beradab.

Karen Armstrong dalam bukunya Muhammad Prophet for Our Time menggambarkan bagaimana umat Islam saat itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan dalam keadaan konflik peperangan, umat Islam diminta untuk tak segan-segan menerima tawaran gencatan senjata, permintaan damai, serta selalu membuka diri untuk penyelesaian konflik dengan jalan dialog secara terhormat.

Baca Juga:  Menghamba Secara Jasmani dan Rohani: Menuju Ihsan

Islam mengajarkan bahwa peperangan bukanlah sekedar untuk berperang dan membantai musuh, melainkan peperangan untuk perdamaian. Ketika orang-orang primitif (jahiliyah) berperang hanya untuk memuaskan hasrat dan membalaskan dendam turun temurun, Nabi telah memulai sebuah langkah besar yang sangat maju, sehingga ketika Nabi dan pengikutnya kembali dari kemenangan di Badar, kita akan mendengar lisan suci itu mengucapkan sabda yang sangat terkenal bahwa mereka baru saja kembali dari jihad kecil, dan akan segera menghadapi jihad besar yang lebih sulit.

Bagi Nabi, jihad peperangan hanyalah salah-satu dari bentuk jihad (perjuangan), bahkan hanya dikategorikan sebagai jihad yang kecil. Perjuangan yang lebih sulit adalah jihad akbar, yakni perjuangan mereformasi masyarakat, memanusiakan manusia, dan yang lebih penting adalah melawan ego diri sendiri. Keberhasilan dalam jihad akbar sangat menentukan kualitas suatu masyarakat. Sebab, tidak ada yang lebih sulit untuk dihadapi kecuali diri sendiri yang senantiasa cenderung tamak, rakus, egois dan bengis. Sifat-sifat buruk manusia yang sepanjang sejarah telah menyebabkan peperangan berdarah-darah.

Jihad di Era Modern

Bagi Muslim yang hidup di era modern, istilah ‘jihad’ sering dipahami sebagai ‘perang suci’ melawan kekuatan kafir. Hal ini dipicu oleh posisi umat Muslim yang dalam peradaban modern berada dalam kondisi yang ‘kalah’ dari dunia Barat (baik di bidang politik, ekonomi, teknologi maupun pemikiran). Keruntuhan kekuasaan Islam akibat serangan sekutu dalam perang dunia II juga meninggalkan trauma yang mendalam bagi umat Muslim. Di tambah lagi dengan fakta bahwa negara-negara di  timur tengah yang porak poranda akibat perang-perang penuh penderitaan tak berkesudahan. Dalam kondisi putus asa yang sedemikian itu, seruan dan ajakan untuk berjihad di jalan Allah sangat mudah untuk menggerakkan masa agar turun ke medan perang. Uniknya, dalam kecamuk peperangan itu kata jihad justru lebih sering digunakan untuk membangkitkan semangat para prajurit. Alhasil, jihad kemudian mengalami penyempitan makna sehingga belakangan menjadi identik dengan perang semata.

Baca Juga:  BAGAI DAUN-DAUN KERING DITERBANGKAN ANGIN DI MAKKAH DAN MADINAH (5)

Hal itu didukung pula oleh penafsiran terhadap ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an yang ditafsirkan secara keliru dan hanya berdasarkan kepentingan egoisme semata. Diidentikkannya makna jihad dengan perang tersebut, telah mendorong perjuangan untuk mengembalikan kejayaan Islam yang mulai hadir dalam bentuk terorisme di berbagai belahan dunia.

Di titik ini, justru sebagian umat Muslim telah jauh meninggalkan ajaran Nabi tentang jihad.Sebagaimana telah disinggung, jihad bukan hanya sekedar peperangan, bahkan peperangan hanyalah jihad kecil di antara jihad-jihad lainnya yang lebih besar. Itu pun tidak lain bertujuan untuk mencapai perdamaian antara kedua belah pihak yang berkonflik. Inilah tujuan utama agama Islam, yakni membawa rahmat bagi semesta, sehingga kita patut bertanya jika Islam begitu mendambakan perdamaian, mengapa sebagian kita sekarang malah menginginkan peperangan?

Dari sini, kita menyadari bahwa memaknai jihad dalam konteks yang lebih luas sangat diperlukan. Sebab, di era modern ini, kita tidak lagi dapat mengabaikan pembunuhan manusia. Hadirnya konsep HAM (hak asasi manusia) yang menjunjung tinggi hak manusia untuk memperoleh kehidupan yang damai tentu sangat bertentangan dengan peperangan dan pembunuhan.

Dalam dunia yang telah maju dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan ini, perjuangan dengan pedang bukanlah pilihan utama, bahkan bisa dikatakan memang bukan pilihan sama sekali. Perjuangan di era modern adalah perjuangan dengan pena dan buku, dengan ide dan gagasan, serta dengan inovasi.Tugas kitalah untuk meneruskan cita-cita Nabi dengan terus berjuang meningkatkan kualitas diri menuju puncak kesempurnaan. Inilah jihad akbar yang mesti kita hadapi. Wallahu a’lam.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Agama Hijau

Oleh: Bil Hamdi Mahasiswa STFI Sadra Jakarta Bumi adalah tempat kita berpijak dan menjalani kehidupan. Allah dengan sifat…