4 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Membawa Keberuntungan Menurut Al-Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah mencari jalan/wasilah (yang mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah dengan sungguh-sungguh) pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-Ma’idah [5]: 35).

Membaca ayat di atas, ada empat pesan penting sebagai pijakan untuk memperoleh keberuntungan dari Allah swt. Namun, perlu diketahui apa yang dimaksud kata “tuf’lihun: agar kamu beruntung” dalam ayat ini? Dalam uraian Quraish Shihab, tuflihun satu akar kata dengan kata fallahun yang berarti petani. Petani itu, ketika dia menanam satu biji, maka biji yang dihasilkan tidaklah satu biji saja. Bahkan berkali-kalilipat biji dihasilkan dari sebiji tadi. Contoh, seorang petani menanam satu biji jagung, maka satu biji jagung itu menghasilkan dua tongkol jangung. Dalam satu tongkol memuat  banyak biji. Ketika dua tongkol tadi dikembangkan, akan semakin banyak biji yang dihasilkan. Demikianlah gambaran keberuntungan diperoleh berkali-kalilipat dengan melakukan keempat pesan ayat di atas.

Kembali ke ayat di atas, bahwa ada empat poin yang dilakukan untuk memperoleh keberuntungan. Pertama, iman. Kenapa? Ya, karena yang dipanggil dalam ayat ini adalah orang-orang yang memiliki iman. Jadi, syarat pertama untuk meperoleh keberuntungan adalah harus memiliki keyakinan.

Kedua, bertakwa. Bertakwa pada intinya, menjalankan apa yang sudah diimani. Jadi iman harus memiliki bentuk riil. Iman tidak hanya di hati atau pikiran, tapi ia meiliki realitas eksternal berupa amal  baik. Iman tanpa amal bagikan pohon tak berbuah.

Ketiga, Tuhan menyuruh kita mencari wasilah (jalan). Wasilah di sini, segalah hal yang menjadi penyebab datangnya keberuntungan. Umpamanya jalan memperoleh kebaikan dengan berbuat baik kepada orang lain, maka jalan yang harus dilalui adalah dengan berbuat baik kepada sesama. Berdasarkan hadis Nabi, “Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangimu”.  Tentu penulis tidak membatasi kata wasilah dalam memahami ayat di atas. Bisa jadi setiap orang punya kemampuan menjalankan ajaran kebaikan dalam bentuk yang berbeda-beda.

Baca Juga:  Teladan Komunikasi dari Kisah Nabi Ibrahim

Keempat, Tuhan menyuruh kita jihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah swt. Banyak hal yang terkait dengan kata jihad.  Penulis memaknai jihad di sini dalam dua rana sebagaimana manusia memiliki dua sisi. Ada sisi  batin ada sisi lahir. Menurut hemat penulis, manusia berjihad atau bersungguh-sungguh di dua sisi ini. Manusia berjihad mengontrol hawa nafsunya, dan mengontrol jasmaninya agar tidak melakukan hal-hal yang tak memiliki bermanfaat. Sebelum lebih jauh, perlu diketahui bahwa manusia digerakkan oleh jiwa yang bersifat batin. Jadi kalau batin manusia dipenuhi oleh hal-hal yang baik, maka yang akan tampak dalam perbuatannya adalah hal-hal yang baik pula. Kita bisa mengibaratkan sebuah proyektor. Proyektor akan menampilkan hal yang baik kalau yang ada di leptop itu baik. Rinkasnya begini, kalau yang dipikirkan hal-hal yang baik, maka yang akan menjadi ucapan kita tentu hal-hal yang baik pula. Kemudian, ucapan itu akan menjadi perbuatan. Perbuatan yang terus menerus dilakukan, akan menjadi kebiasaaan. Kalau sudah kebiasaan akan menjadilah dia karakter dan dari karakter itulah menentukan takdir kita.

Kesimpulan dari uraian di atas, bahwa pikiran manusia dibentuk oleh sesuatu yang di dengar oleh telinga, dan  yang dilihat oleh mata. Jadi, penulis berpandangan bahwa pendengaran dan mata diupayakan menyerap hal-hal yang baik, sehingga terbentuk iman yang baik. Kalau disusun pesan ayat di atas, pikiran dan hati harus dipenuhi iman. Iman dibuktikan dengan amal, itulah makna takwa. Amal dilakukan dalam dua sisi kemanusiaan. Amal lahiriah dan amal batiniah. Di sinilah manusia melakukan jihad. Maksudnya usaha sungguh-sungguh dalam memperbaiki sisi batin dan lahirhnya, dan dari sanalah Tuhan mendatangkan keberuntungan. Di pertegas dalam hadis Nabi, “Amal baikmu akan membuatmu tentram, semetara amal burukmu akan membuatmu sengsara”. Semoga Allah memberikan keberkahan dan keberuntungan di setiap amaliah kita.

Baca Juga:  Tanpa Estetika, Agama Cuma Wacana
0 Shares:
You May Also Like