Tanpa Estetika, Agama Cuma Wacana

“Ujung pengetahuan adalah seni. Ujung kesenian adalah spiritualitas. Maka spiritualitas banyak sekali mengharuskan melewati jalan seni. Agak sulit membayangkan menjadi spiritual tetapi kehilangan seni”. Demikian Mas Prie GS almarhum bersabda.

Benar sekali pernyataan almarhum, Mas Prie ini. Sayangnya tak banyak ulama kita yang melewati jalan seni ini. Maka kadang agama yang diajarkan pun menjadi kering, kalau tidak malah keras. Paling sedikit, kurang esoteris (bersifat rasa), dan terlalu eksoteris (formal). Dengan ini saya tak ingin hanya mengkritik para ustaz atau dai yang “dangkal” ilmunya, atau keras cara beragamanya, tapi—dengan segala hormat dan kerendahan hati—saya sedang merujuk kepada para ahli ilmu agama yang mendalam ilmunya, yang moderat sikapnya. Karena ini bukan semata-mata soal kedangkalan ilmu atau kekerasan beragama, tapi soal kekeringan dalam beragama. Dan ketakberdampakan agama. Sesuatu yang  menjadikan agama, sadar atau tidak, berhenti di level wacana yang keren dan gagah, membuat kita merasa beragama dengan pinter dan rasionalis, tapi gagal menghasilkan transformasi kejiwaan dan semangat berkorban bagi banyak orang. Padahal, beda dengan ilmu atau wacana, apalagi agama itu kalau bukan jiwa yang basah oleh cinta, yang rindu kepada asal-muasal kejadian kita, dan yang dipenuhi empati perbuatan baik kepada orang banyak? Tentu, sudah lumayan jika kita beragama secara rasional, dan tidak mengganggu orang, plus taat beribadah, sambil sesekali membantu orang. Tapi, saya kira agama begini hanya akan beroperasi di permukaan eksistensi kita, dan akan gagal mentransformasi manusia luar dalam.

Kita, sadar atau tidak, sering terlalu terkagum-kagum kepada ilmu (eksoteris) tafsir, ilmu hadis, ilmu lagi fikih. Ya, ilmu. Memang, siapa bilang ilmu tafsir tak penting, juga ilmu hadis, dan fikih. Kita perlu kepada semuanya itu. Dengan kualitas nomer satu. Tapi, beragama tidak boleh berhenti pada ilmu. Ilmu hanyalah alat. Puncaknya, ilmu harus bisa mentransformasi diri. Tak berhenti pada kepuasaan telah mendapatkan kebenaran rasional atau saintifik. Atau pada kepuasaan seperti ketika kita bisa menyelesaikan suatu teka-teki silang yang rumit. Seperti kata Muhammad Iqbal, sang filsuf Muslim terhebat abad modern, yang terpenting dari agama itu amal.

Baca Juga:  Menghamba Secara Jasmani dan Rohani: Menuju Ihsan

Ortho-praxy, bukan ortho-doxy. Bahkan sebagai ilmu, kalau meminjam ‘Abid al-Jabiri, kesemua ilmu wacana itu baru hanya merupakan satu dari tiga epistemologi Islam. Disebut bayani (eksplikatif). Padahal masih ada yang burhani (filosofis), dan ‘irfani (sufistik). Sekali lagi, tanpa mengecilkan arti ilmu tafsir, hadis, dan fikih, kesemuanya itu—yakni ilmu-ilmu bayani itu—baru mencapai permukaan ilmu keberagamaan. Apalagi agama itu sendiri. Dan, kalau kita tidak hati-hati, justru bisa menjadi hijab keberagamaan kita. Para ulama sufi menyebutnya hijab cahaya (hijab nur). (Sebetulnya, kalau tidak berhati-hati, ilmu/wacana tasawuf pun bisa juga menjadi hijab nur).

Tapi, esensi keberagamaan itu ada pada amal, yang dilahirkan oleh rasa beragama. Maka, bahkan sebelum. Bicara tentang amal, ilmu-ilmu bayani tak akan pernah lengkap jika tak diwarnai yang burhani, apalagi yang ‘irfani. Agama yang terlalu kognitif (serba ilmu) dan kurang afektif (rasa) ini yang menjadikan banjir nasihat-nasihat agama dan ulama—bahkan yang kita kagumi sekalipun dalam kedalaman ilmunya—hampir-hampir sama sekali tidak berbekas. Malah, kalau kita tidak hati-hati, kita merasa gagah sudah bersikap rasional dan intelek, lalu puas diri dan tidak dapat apa-apa dari agama. Tahu ilmu agama itu masih jauh dari mau menjalankannya. Mau menjalankannya masih jauh dari benar-benar mewujudkannya dalam kenyataan.

Kita perlu berhijrah dari tafsir menuju takwil. Dari fikih formal ke fikih spiritual. Dari tarikh literal ke tarikh simbolik. Dari beragama secara mekanis ke beragama secara estetis. Dari rasio ke imajinasi, ke spiritualitas. Dari wacana kepada cinta—yakni kepada keberagamaan yang eksistensial, yang melibatkan keseluruhan keberadaan kita. Indra, akal, imajinasi, spiritualitas (hati). Ilmu tafsir, hadis, dan tarikh-fikih formal berisiko menempatkan diri kita lebih tinggi/menggagahi agama sebagai obyek yang kita bahas. Kita sebagai analis, pembedah. Takwil, simbol, imajinasi, spiritualitas, dan estetika (seni) menjadikan diri kita menyatu dengan “obyek”. Tak ada lagi pembagian “subyek-obyek” di dalamnya. Digantikan empati/cinta. Baru dari sini diharapkan sangat berbuat baik membuncah, amal memuncrat, dan agama sejati mencuat.

Source Image basic: Artem Chebokha on Behance

Baca Juga:  The Art of Good Living

36 Shares:
You May Also Like