Tafsir Ayat Cahaya

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah tempat pelita yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu berada di dalam kaca (dan) kaca itu seolah bintang, seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tak disentuh api (lantaran sangat bening). Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala” (QS. An-Nur [24]: 35).

Berikut sekelumit tafsir Mulla Shadra tentang “ayat cahaya” (ayat al-nur). Ada sejumlah filsuf, sufi dan hukama Muslim yang menyoroti dalam risalah khusus ayat cahaya ini, termasuk Ibn Sina, Al-Ghazali dan Mulla Shadra.

Mulla Shadra, meski juga dipengaruhi oleh Al-Ghazali, banyak terilhami oleh pandangan sufi dan isyraqiyah (iluminasi) dalam tafsirnya atas ayat cahaya ini. Menurut Shadra, Nur adalah cahaya Wujud-Nya yang mewujudkan atau menghidupkan maujud-maujud, dinyalakan dalam kaca hakikat-hakikat ruh-ruh yang lebih tinggi dan substansi-substansi intelektual, yang melaluinya lubang (misykat) (tempat) substansi-substansi yang lebih rendah dan wujud-wujud barzakhi disinari. Penyalaan lampu itu terjadi dengan minyak Nafas Rahmani yang termanisfestasikan dalam martabat-martabat wujud. Martabat-martabat yang lebih rendah ternyalakan juga meski api cahaya Suci tak menyentuh secara langsung. Minyak yang dinyalakan dari pohon penuh berkah pancaran paling suci (al-faidh al-aqdas) tidak khusus terkait dengan Timur Wujud Esa atau pun Barat maujud-maujud.

Dengan demikian, Allah adalah Cahaya di atas cahaya, yakni Cahaya Tertinggi. Sumber bagi cahaya wujud-wujud mungkin (mumkin) di martabat-martabat yang lebih rendah. Cahaya Nafas Rahmani, istilah Ibn al-‘Arabi dari hadis tentang Uways Qarni, adalah yang menerpa ‘a’yan (esensi) segala sesuatu dan melahirkan ragam ciptaan-ciptaan.

Baca Juga:  Hijrah (11): Tak Kenal Maka Tak Sayang

Pohon penuh berkah adalah pohon emanasi. Seperti pohon, Pancaran Ilahi memang tumbuh secara vertikal dan horizontal bagai batang, ranting dan cabang-cabang pohon riil. Secara vertikal menghasilkan tingkat-tingkat ruh, dan secara horizontal menghasilkan jiwa dan jasad sesuai tingkat-tingkat ruh tersebut. Tingkat-tingkat ruh itulah yang disebut oleh Shadra sebagai substansi-substansi intelektual/rohani sebagai pancaran lebih jauh dari pancaran tersuci (pertama) (al-faidh al-aqdas).

Kata Timur dan Barat, merujuk kepada posisi matahari, terkait masing-masing dengan Sumber Cahaya Keesaan Tuhan dan tempat ciptaan-ciptaan (maujud-maujud) yang membutuhkan cahaya. Pancaran, emanasi, atau al-faidh adalah limpahan cahaya Ilahi, melahirkan wujud-wujud/substansi yang lebih rendah. Mulai pancaran paling suci (ruh) hingga wujud barzakhi, yakni wujud mengandung cahaya yang sudah mulai menyentuh materi “gelap”.

Demikianlah ringkasan risalah Tafsir Ayat An-Nur karya Mulla Shadra, sekadar sebagai teaser akan kedalaman makna ayat tersebut. []

1 Shares:
You May Also Like
Read More

PASCAL WAGER

Oleh: Faqry Fakhry Muhib di jalan menuju Mahbub Dikutip dalam Ihya’ Ulumiddin bahwa suatu kali Imam ‘Ali Zaynal…