Agama Banyak Membatasi, Memangnya Kenapa?

Begitu menginjak usia akil balig, kita—sebagai Muslim—diwajibkan untuk melaksanakan perintah Tuhan, juga dilarang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan haram (dosa). Di antara kewajiban tersebut ialah salat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, zakat serta haji bagi yang mampu ditambah dengan amal-amal kebaikan lainnya.

Kewajiban-kewajiban tersebut, adalah perintah mutlak yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebagai konsekuensi seorang Muslim. Kelalaian terhadap kewajiban adalah perbuatan dosa yang selain dimurkai oleh Allah—juga akan merugikan diri orang yang melalaikannya. Bagaimana tidak, sebab semua yang disyariatkan oleh Allah tiada lain ialah demi kepentingan manusia itu sendiri, dan sama sekali Dia tidak mengambil manfaat dari amal manusia yang mengerjakannya.

Sebagai contoh ibadah puasa. Puasa kalau kita cermati, ialah serangkaian ibadah yang isinya membatasi tindak-tanduk manusia dari hal-hal yang biasanya dibolehkan (apalagi yang haram). Jika pada siang hari di bulan lainnya kita dibolehkan makan dan minum, maka khusus di bulan Ramadan, seorang Muslim wajib hukumnya untuk menahan dirinya (dari makan dan minum). Jika biasanya suami istri boleh berhubungan badan di siang hari, maka, di bulan Ramadhan, hal yang boleh (bahkan ibadah) itu jadi dilarang. Denda bagi mereka yang melanggarnya (yakni berhubungan badan) pun diberlakukan.

Lebih dari itu, orang yang berpuasa diminta untuk menahan diri dari berbagai hawa nafsu seperti menjaga panca indra dari hal-hal yang haram dan menahan amarah. Orang yang berpuasa juga tidak diperkenankan untuk berbohong, memfitnah, mengadu-domba, dan perbuatan buruk lainnya. Bila tetap nekat berbuat hal-hal tersebut di atas, maka harus rela amal puasanya dianggap hangus dan menjadi tidak bernilai apa-apa sebagaimana hadis Rasul tentang adanya sekelompok manusia yang ibadah puasanya tidak mendatangkan apa-apa, selain hanya rasa lapar dan haus.

Baca Juga:  Hijrah (2): Titik Balik Peradaban

Pernikahan di dalam Islam juga terhitung sebagai sebuah ibadah. Dan lagi-lagi, pernikahan jika dilihat dari sudut pandang tertentu, ia merupakan bentuk pembatasan bagi seorang individu dalam hal menjalin cinta kepada lawan jenis. Artinya, orang yang telah berkomitmen dalam pernikahan haram hukumnya untuk berselingkuh dari pasangannya. Dalam Islam, hubungan antara lelaki dan perempuan begitu dibatasi. Seorang suami harus membatasi cintanya hanya untuk istrinya. Begitu pula, seorang istri harus membatasi cintanya hanya untuk suaminya. Lebih dari itu, pemuda-pemudi yang belum menikah juga mesti sadar diri dan membatasi pergaulannya agar tidak terjerumus dalam perbuatan zina. Perbuatan melewati batas itu ialah perbuatan dosa yang tidak diridai oleh Allah.

Agama juga banyak membatasi berbagai perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Ada perbuatan-perbuatan yang boleh, juga ada yang tidak boleh. Sebagian orang dengan nada tidak puas sering melontarkan pernyataan tentang ‘agama yang banyak ngatur dan membatasi kebebasan manusia’. Tak jarang, bermunculan klaim bahwa agama menghambat kemajuan, sebab tidak memberikan kebebasan penuh pada manusia. Pendapat semacam ini setidaknya keluar dari orang-orang yang menganut paham kebebasan.

Memang, rasanya indah bila membayangkan tentang suatu kehidupan yang berdasarkan pilihan-pilihan atas kebebasan sendiri. Semisal, memilih beragama, memilih menjadi ateis, memilih tidak ingin punya anak, memilih tidak menjalankan ibadah dengan alasan yang penting baik sama orang. Pilihan-pilihan bebas semacam itu, biasanya selalu dibarengi dengan beragam argumen dan alasan. Bagi orang yang berpaham kebebasan, manusia adalah makhluk bebas yang dapat melakukan apapun.

Banyak orang di zaman modern terlena oleh kebebasan, serta mengabaikan keterbatasan dan ketundukan. Juga, sangat banyak orang yang hanya menuntut hak, dan mengabaikan kewajiban. Maka, lahirlah yang namanya hak asasi manusia (HAM). Kita tak pernah tahu bahwa dalam hidup ini juga ada yang namanya kewajiban.

Baca Juga:  Kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah. Lewat Mana?

Manusia mulai terlalu sombong dengan kekuatannya. Ia merasa telah begitu hebat untuk mengatur kehidupannya sendiri. Sehingga, menolak aturan-aturan yang datang dari luar dirinya, termasuk aturan Tuhan. Sebab, ia menganggap dirinya memahami segala sesuatu.

Orang menjadi malas salat, sebab tak tahu apa manfaatnya untuk kehidupan. Orang tak mau menjalankan puasa. Orang menjadi kikir membayar zakat, sebab ia merasa hartanya adalah miliknya sendiri. Orang enggan berangkat haji dan sebagainya. Sebaliknya, orang senang bermaksiat semisal mabuk-mabukan, berzina, berbuat curang dsb. Menariknya, selalu ada alasan untuk membela diri. Alasan kebebasan sering menjadi tameng di balik pemujaan hawa nafsu, dan keengganan melaksanakan kewajiban.

“Lo kenapa suka mabuk-mabukan, bro? Padahal kan dilarang agama”

“Lah ini kan hak gue. Hidup-hidup gue. Ya terserah gue lah, bro”.

Sebaliknya,

“Ayok solat, bro!”

“Duluan aja. Gue nanti ajalah”.

“Jangan gitulah bro. Ini kan kewajiban kita”.

“Eh lo jangan suka ngatur-ngatur hidup gue ya! Lagian yang penting kan gue gak jahat sama orang”.

Lihatlah betapa orang sering menyatakan bahwa dia berhak. Ia lebih ingat akan hak. Namun orang lupa dengan kewajiban. Orang memuja kebebasan, dan meremehkan ketidakberdayaan.

Padahal, Islam mengajarkan kita agar menjadi manusia yang tunduk dan patuh pada syariat Tuhan. Menjadi seorang Muslim, berarti menjadi manusia yang berserah diri. Sehingga lebih banyak menyadari kewajiban ketimbang menuntut hak. Inilah mengapa Tuhan mewajibkan berbagai perkara pada manusia tanpa minta persetujuan manusia. Tanpa membeberkan alasan apa serta manfaat apa di balik kewajiban tersebut. Sebab, Tuhan menginginkan ketundukan total (Muslim) seorang hamba pada diri-Nya. Tunduk yang tanpa apa dan kenapa.

Masalah kebebasan manusia, memang benar adanya bahwa manusia itu memiliki kebebasan. Namun, bukanlah kebebasan mutlak. Sebab, hanya Tuhan yang memilikinya. Lihatlah betapa sering rencana kita tidak sesuai dengan hasilnya. Pengalaman kita dalam hidup memperlihatkan bahwa ada begitu banyak hal yang tak bisa kita kontrol. Musibah, bencana, kelahiran, kematian, sakit, sehat dan lain-lain. Apakah kita dapat melihat sebab di balik itu semua lantas berkata bahwa semuanya dapat diatur?

Baca Juga:  Agama Hijau

Meski kita tahu semua akibat dilahirkan sebab. Tapi, kita mesti rendah hati dan mengatakan bahwa sebagian besar sebab itu tak diketahui. Oleh karena itu, kita sering tak sadar mengapa kita jadi sukses atau malah gagal. Mengapa kita bisa jatuh miskin atau malah mendadak kaya. Mengapa saat kita merasa telah siap menjalani hidup, malah mengalami kematian. Bencana yang tak diduga-duga. Rencana yang ambyar karena alasan-alasan di luar kendali. Itu semua menunjukkan keterbatasan manusia. Manusia adalah makhluk yang diliputi berbagai keterbatasan. Itulah faktanya.

Inilah hikmah diturunkannya syariat bagi manusia. Manusia itu tidak tahu apa-apa. Dia merasa sehat di pagi hari, padahal di sore harinya ia wafat. Siapa yang tahu? Allah membatasi perbuatan manusia dengan berbagai perintah dan larangan, sebab manusia adalah makhluk bodoh lagi zalim yang tak selalu sadar akan apa yang baik dan buruk bagi dirinya. Ia merasa tahu segalanya. Padahal tidaklah ia diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit sekali. Dan atas yang sedikit itulah mereka merasa dapat mengendalikan dunia. Inilah sebab penderitaan manusia.

0 Shares:
You May Also Like