Syukur Bikin Hidup Lebih Bahagia

Oleh: Bil Hamdi

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra

Term syukur mendapat tempat yang tinggi dan mulia dalam agama, terutama agama Islam.  Ibadah yang kita lakukan serta segala perbuatan baik kita selama hidup, tak lain merupakan bentuk rasa syukur atas karunia Allah sebagai Sang Pemberi kehidupan. Demikian pentingnya dalam Islam, sehingga dalam surah al-Baqarah [2] : (152)  syukur disandingkan dengan kata zikr dan diperlawankan dengan kata kufr. Zikr sendiri dalam Alquran dinyatakan sebagai ibadah yang lebih besar dibandingkan amalan-amalan lain. “…Dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)…” (QS. al-Ankabut [29] : 45). Penyandingan syukur dengan zikrullah ini menunjukkan betapa syukur menjadi sesuatu yang sangat penting perannya dalam agama, lebih-lebih dalam kehidupan.

Selain itu, syukur dalam surah al-Baqarah ayat 152 di atas juga diperlawankan dengan kata kufr. Untuk menunjukkan makna bahwa bila tidak bersyukur, maka kufur. Kemudian dalam surah Ibrahim ayat 7 kembali disinggung, kata syukur dan kufr diperlawankan, dengan penekanan bahwa orang yang bersyukur akan ditambahkan nikmat baginya, sedangkan orang yang kufur akan mendapatkan siksaan yang keras. Dengan demikian, tidak bisa tidak sebagai seorang Muslim kita mesti memahami dan mengamalkan syukur secara benar. Sebab syukur sangat erat kaitannya dengan kualitas keimanan seseorang. Orang yang tidak bersyukur akan terjerumus ke dalam kekufuran.

Syukur merupakan kata yang sudah sangat sering diperbincangkan di tengah masyarakat. Namun demikian, tak jarang syukur hanya dipahami sebatas ungkapan lisan semata. Yakni dengan mengucapkan lafaz ‘Alhamdulillah‘ ketika mendapatkan kenikmatan ataupun bila lepas dari penderitaan. Ungkapan itu pun seringkali hanya terhadap sesuatu di luar diri manusia. Semisal ungkapan syukur sebab  mendapatkan mobil baru, rumah, anak-anak, jabatan, isteri dan sebagainya. Bersyukur dengan cara yang demikian, tidaklah sepenuhnya salah, karena mengungkapkan dengan lisan juga merupakan bagian dari syukur dan kenikmatan yang datang dari luar diri manusia itupun adalah karunia dari Allah yang patut disyukuri. Namun, itu semua belum mencakup keseluruhan makna syukur. Syukur mempunyai makna yang lebih luas, dan hal-hal yang patut disyukuri pun juga sangat luas.

Baca Juga:  Membaca Kesempurnaan Holistik Manusia melalui Kisah Ibn Miskawaih dan Ibn Sina

Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Al-Ghazali membahas panjang lebar perihal bentuk syukur seorang hamba kepada Tuhan. Dalam pandangannya, syukur tersusun atas tiga hal, yaitu ilmu, keadaan dan amal perbuatan. Di sini, yang dimaksud dengan ilmu adalah mengetahui dan memahami segala anugerah dari Allah yang diberikan kepada manusia, ilmu juga mencakup keharusan mengetahui sang pemberi yakni Allah swt. beserta segala sifat kesempurnaan-Nya. Dengan demikian, akan tumbuh rasa tunduk dan patuh karena menyadari bahwa manusia tidak berdaya kecuali dengan izin-Nya.

Kemudian, yang dimaksud dengan keadaan (hal) yakni hadirnya rasa gembira dan senang menyambut pemberian nikmat dan anugerah dari Allah. Terakhir, segala kenikmatan, kegembiraan serta kelezatan yang diperoleh itu, hendaknya melahirkan amal perbuatan sebagai bentuk syukur dalam ranah praktis. Hal itu dilakukan dengan menggunakan pemberian (anugerah) itu sesuai dengan tujuan penciptaannya, atau lebih tepatnya sesuai dengan tujuan yang disenangi oleh sang pemberi.

Raghib al-Isfahani dalam  Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an membagi syukur menjadi tiga macam, yakni syukur hati (syukr al-qalb), syukur lisan (syukr al-lisan) dan syukur anggota tubuh yang lain (syukr sair al-jawahir). Dari sini, kita memahami bahwa syukur memiliki makna yang lebih luas dan tidak terbatas pada lisan. Kesempurnaan syukur tidak akan terwujud hanya dengan mengucapkan dengan lisan saja.

Imam al-Qusyairi mengatakan, hakikat syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan Allah yang dibuktikan dengan ketundukan kepada-Nya. Senada dengan pendapat tersebut, Syaikh Abdul Qadir Jailani mengungkapkan, hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah karena Dialah pemilik karunia, pengakuan tersebut kemudian mesti diikuti dengan ketundukan seluruh anggota tubuh kepada Sang Pencipta. Dengan kata lain, tubuh harus dipergunakan dalam rangka meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah melalui ibadah dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Baca Juga:  Renungan tentang Makan dari Fisik, Psikis dan Spiritual

Dengan demikian, syukur adalah aktivitas seluruh anggota tubuh baik jasmani maupun rohani. Syukur melibatkan kesulurahan dari kemanusiaan, karena bila kita renungi, tak ada satupun dari diri manusia kecuali hanyalah titipan dan pemberian dari Allah. Di hadapan Allah, manusia tiada memiliki apa-apa. Allah berfirman dalam Alquran “..,Dan (Dia) menyempurnakan bagi kamu nikmat-nikmat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman [31] : 20). Kesempurnaan nikmat yang diberikan oleh Allah itu menjadi alasan kita untuk bersyukur dengan segala potensi yang kita miliki baik lahir maupun batin.

Syukurilah atas pemberian akal dengan menggunakannya untuk memahami nikmat Allah sejauh mungkin. Bukankah kita telah dikaruniai sepasang bola mata untuk melihat, sepasang telinga untuk mendengar,  diberikan lisan untuk berbicara, didung untuk mencium, sepasang kaki untuk berjalan dan kedua tangan yang memiliki banyak fungsi.! Yang demikian baru nikmat-nikmat yang zahir. Namun, banyak manusia tidak mensyukurinya. Tak jarang menganggap sepele, sebab nikmat-nikmat tersebut dimiliki oleh semua orang. Hal inilah yang disebut oleh Al-Ghazali sebagai kebodohan (al-jahl) atau kelalaian,  yakni ketidakmampuan menyadari nikmat yang begitu besar pada diri, sebab nikmat tersebut dimiliki oleh semua orang dan tidak khusus diberikan kepadanya. Padahal, bila nikmat itu dicabut niscaya mereka akan menyesali dan menyadari betapa nikmat tersebut sangat berharga.

Lebih dari itu, kita wajib mensyukuri nikmat batin. Kita mempunyai akal dan hati yang membuat kita bisa berpikir dan merasakan. Tanpa keduanya, manusia tak lebih mulia dari binatang. Bahkan puncaknya adalah syukur atas kehidupan yang kita miliki. Kehidupan adalah hal termahal yang dimiliki seseorang. Sehingga andai seseorang di dunia tak memiliki apapun, dia masih memiliki kehidupan untuk disyukuri. Oleh karena itu, apalah lagi yang membuat kita kufur dan merasa kurang? “Nikmat Tuhanmu yang manalagi yang kamu dustakan”, demikian petikan ayat dalam Alquran yang memberi gambaran keluasan rahmat Tuhan. Sehingga kita bahkan tak memiliki satu alasanpun untuk berhenti bersyukur.

Baca Juga:  ANAK-ANAKMU BUKANLAH ANAK-ANAKMU, MEREKA BERASAL DARIMU, TAPI MEREKA MILIK MASA MEREKA (BAGIAN 3)

Kesadaran yang demikian, akan membuat seseorang tak pernah merasa kurang dan sepi dari kasih sayang Tuhan. Malah yang dirasakan hanyalah bertambahnya kenikmatan, kebahagiaan dan kelezatan hidup. Orang yang bersyukur akan mempergunakan hidupnya sesuai dengan tujuan penciptaannya. Tentunya syukur dalam makna paling sempurna, yakni berupa penggunaan segala fasilitas pemberian Allah sesuai dengan jalan kebaikan dan kebenaran. Sehingga para syakirin adalah figur manusia yang menggunakan akal, panca indera, hati, serta segala yang dimilikinya dalam kehidupan demi kebaikan. Dalam pengertian ini, syukur bukan saja berupa ungkapan lisan yang kurang memberi manfaat, namun lebih kepada gerak aktif yang berdampak positif bagi kehidupan sosial.

0 Shares:
You May Also Like