Iman dan Aman

Kata īmān dan āman berasal dari akar kata (huruf-huruf alif, mim dan nun) dan pengertian yang sama. Keterkaitan antara iman dan aman ini menggambarkan kenyataan bahwa iman mestinya melahirkan rasa aman, ketenangan hati, dan ketentraman jiwa. 

Hal ini dijelaskan oleh Al-Qur’an, “Mereka yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kejahatan/kegelapan (zhulm); mereka itulah orang-orang yang mendapatkan rasa aman, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. 6:81-82).

Masih dalam Surat Al-An’am, pada ayat 48 dinyatakan oleh Al-Qur’an, “Barang siapa beriman dan berbuat kebaikan (aslaḫa), maka tidak ada rasa takut pada mereka (lā khawfun) dan mereka tidak bersedih hati (lā yaḫzanūn)”.

Kemudian juga ditegaskan: “Mereka yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, kemudian bersikap teguh, maka para malaikat akan turun kepada mereka, dan berkata, janganlah kamu takut, dan jangan pula kamu khawatir, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepadamu” (QS. 41:30).

Al-Mu’min (Maha Terpercaya) merupakan salah satu sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Hasyr ayat 23, “Dia-lah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Raja Diraja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan (al-Mu’min), Yang Maha Mengawasi, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

Prof. Muh Quraish Shihab (Asmā’ al-Ĥusnā dalam Perspektif Al-Quran, Jakarta: Lentera Hati, 2008) mengartikan kata mu’min sebagai “pemberi rasa aman”.

Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Allah adalah Pemberi rasa aman, misalnya dalam firman-Nya, “Dan Dia (Allah) memberi mereka rasa aman dari ketakutan” (QS. 106: 4).

Dalam penelitian psikologi ditemukan bahwa rasa aman dan penuh percaya diri adalah pangkal kesehatan jiwa. Ki Ageng Suryomentaram, seorang pemikir-filsuf Jawa, menulis, “Manusia yang bahagia memiliki kepribadian sehat yang ditunjukkan oleh adanya afek/emosi/rasa positif: rasa damai, tenang, dan tentram dan mampu mengarasi afek negatif: rasa takut, khawatir, rasa iri dan rasa sombong”. (Nanik Prihartanti, Kepribadian Sehat menurut Konsep Suryomentaram, Surakarta, 2004).

Baca Juga:  Krisis Kosmologi dan Tawaran Ecotheologi Islam

 

 

0 Shares:
You May Also Like