Beragama Yang Menggembirakan

Muhamad Harjuna

Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Oleh sebagian kelompok, agama sering menjelma menjadi sesuatu yang menyeramkan, seolah agama hanya membahas tentang azab dan neraka an sich. Khutbah dan ceramah isinya menakut-nakuti manusia, seolah Tuhan itu adalah dirinya, yang baperan dan pemarah. Beragama tapi lupa dengan peran dan fungsi agama dalam kehidupan. Melupakan esensi beragam karena terlalu kaku dengan simbol agama. Itulah fenomena yang muncul dalam kehidupan manusia kekinian.

Agama tidak pernah salah, namun produk pemikiran keagamaan bisa saja salah. Tujuan agama tidak keliru, namun cara manusia beragama bisa saja keliru. Oleh karena itu, model atau cara beragama seperti apa yang relevan dalam konteks sekarang ini?.

Kiranya sangat perlu bagi manusia modern yang “mengaku” beragama untuk melihat kembali bagaimana cara Rasulullah saw. beragama. Sebelumnya, meminjam istilah Gordon W. Allport, ada dua cara dalam beragama, yakni ekstrinsik dan intrinsik. Model ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang mesti dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan untuk motif lain seperti  kebutuhan akan status dan identitas, cari muka di hadapan manusia dan Tuhan, untuk modal kampanye dan sebagainya. Sedangkan model intrinsik, agama dijadikan sebagai pemandu dalam menjalani kehidupan. Cara beragama model intrinsik inilah yang akan mampu melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. 

Kebanyakan dari manusia modern secara ekstrinsik ia beragama, tetapi secara intrinsik sama sekali tidak beragama. Banyak yang memamerkan kesalehan di dunia maya maupun dunia nyata. Merasa paling beriman dan agamis namun acuh dengan problem sosial yang terjadi di sekitarnya. Padahal dalam Islam, menurut Jalaluddin Rahmat, ada dimensi “sunnah hasanah”, yakni rasa kepekaan terhadap masalah orang lain, menggembirakan orang yang dilanda permasalahan dengan membantu semampunya. Kebalikannya ialah “sunnah sayyiah”, yakni sikap acuh terhadap problem sosial.

Baca Juga:  Perjalanan Akademik Sang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali

Agama sebagai revolusi moral sekaligus sosial dalam kehidupan. Kehadiran agama menghapus sistem perbudakan, memuliakan perempuan, kesetaraan gender merupakan bagian dari ajaran Islam yang mesti dipribumisasi. Agama hadir untuk manusia, membebaskan umat dari ketidakadilan, menjadi sumber moral dan spiritual manusia. Dengan demikian, jelaslah bahwa ajaran agama merupakan respon terhadap fenomena dalam masyarakat. Sebagai contoh, kemiskinan dilawan dengan adanya perintah zakat dan pentingnya sedekah, dan bentuk revolusi lainnya.

Cara beragama yang diajarkan dan dipraktikkan Rasulullah merupakan sebuah teknologi yang canggih, yang mampu mengubah kondisi moral dan sosial masyarakat. Beragama ala Rasulullah ini jarang sekali ditampakkan oleh umatnya. Kebanyakan umatnya malah memanfaatkan identitas dan simbol agama untuk kepentingan pribadi dan hasrat duniawi.

Sudah saatnya umat beragama hijrah menuju cara beragama yang lebih baik, gembira dan menggembirakan, cerdas dan mencerdaskan, serta cerah yang mencerahkan. Dalam pepatah Jawa, “Urip Iku Urup”, yang berarti hidup itu nyala. Menjadi pelita dalam kegelapan, serta menjadi solusi bagi problem kehidupan.

Adanya pandemi COVID-19 ini, manusia seakan baru tersadarkan bahwa Tuhan itu tidak berada di Masjid, Gereja, Sinagog, dan sebagainya, akan tetapi Tuhan itu ada dalam hati orang yang beriman. Meskipun umat beragama tidak bisa ke rumah ibadah, namun koneksi kepada Tuhan akan senantiasa terhubung jika senantiasa menghayati serta sadar akan eksistensi Tuhan. Selain itu, pandemi ini juga memberikan efek buruk terhadap ekonomi, banyak orang yang kehilangan pekerjaan/sumber penghasilan. Bahkan, resesi ekonomi pun sulit dihindari, oleh karena itu sebagai umat beragama, mesti turut berperan, salah satunya dengan cara berdonasi/sedekah, bertujuan untuk meningkatkan daya beli masyarakat agar roda perekonomian tetap stabil.

Baca Juga:  Muhammad Iqbal Bicara Mengenai Kesetaraan

Pada hakikatnya, melayani manusia sama saja dengan melayani Tuhan. Dalam Islam, bukan lagi hal yang asing bahwa Tuhan berada di rumah orang miskin,  Tuhan juga  berada pada orang yang sakit. Kunjungilah Tuhan, dengan cara mendatangi, membantu, dan menggembirakan orang yang sedang susah tersebut.

Salah satu cirri kedewasaan/kematangan dalam beragama ialah beragama yang damai dan menggembirakan. Bergama dengan “merasa”, bukan sekadar merasa beragama. Setiap agama memiliki normativitas yang berdimensi pada humanisme. Berikut beberapa kaidah agama yang menjadi modal serta model bagi pemeluknya, Tak seorangpun di antara kamu yang beriman sepanjang tidak mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (Islam). Apapun yang kau inginkan pada orang lain untuk dilakukan padamu, lakukan pada mereka (Kristen). Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan padamu (Yahudi). Siapapun tidak boleh memberlakukan orang lain dalam cara yang tidak menyenangkan bagi mereka sendiri (Hindu). Keadaan yang tidak menyenangkan atau menyenangkan bagiku, akan demikian juga bagi dia (Buddha).

Ahmad Dahlan mengatakan, “Orang yang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, rasa tentram, dan damai. Hakikat agama seperti musik, mengayomi dan menyelimuti”. Akan tetapi jika alat musik tersebut dimainkan oleh orang yang tidak ahli, maka justru akan mengganggu orang lain. Demikian halnya agama, jika diperankan oleh orang yang tidak memahami agama secara holistik, justru akan merusak citra agama itu sendiri.

0 Shares:
You May Also Like