Cerpen: Balasan

Oleh: Nizar Afifi

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pagi itu seperti pagi biasanya Pak Mursyid duduk di teras rumah dengan di hadapnya segelas kopi hitam pekat sedikit gula, dan beberapa potong jajan pasar yang tertata rapi di atas lepek. Disruputnya kopi panas itu perlahan ditemani dengan kicauan burung dalam sangkar yang ada di pelataran rumah tetangga. Yah karena memang Pak Mursyid tidak memelihara burung, jadi dari tetangga saja sudah beliau rasa cukup.

“Sruput, ah nikmatnya ya Allah ngopi pagi-pagi begini”, ucap Pak Mursyid.

Lain diucap lain dipikiran, pikiran Pak Mursyid kembali melayang jauh memikirkan nikmat pahit dari kopi yang dapat dirasakannya setiap hari. Meskipun terasa pahit dan dinikmati secara berulang tetap terasa nikmat jika dilandasi dengan syukur. Dan saat itu beliau teringat ayat Al-Qur’an dalam surah ar-Rahman yang sangat familiar bahkan dalam dunia permedsos-an yang terjemahannya kurang lebih “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan”.

“Ternyata nikmat itu bukan hanya berupa hal-hal besar yang kita harapkan, tetapi juga hal-hal kecil yang berulang dan jarang kita sadari”. Tanpa beliau sadari kata-kata tersebut terucap begitu lirih namun dapat didengar oleh bu Aminah yang duduk menemani beliau untuk melewati paginya.

“Sampean ngomong apa toh Pak?” Sahut bu Aminah mencoba meyakinkan diri perihal apa yang baru saja didengarnya.

“Engga bu, engga ada apa-apa kok”, jawab Pak Mursyid mencopba menghindari pertanyaan lanjutan dari istrinya. Yang sebenarnya dalam pikiran beliau masih terbayang beberapa pertanyaan untuk dirinya sendiri, namun beliau cukupkan pergolakan pertanyaan itu tanpa jawaban.

“Ya sudah kalau gitu, ibu kebelakang dulu lanjut masak buat sarapan”, jawab bu Aminah yang sudah beranjak dari tempatnya semula menuju dapur.

Baca Juga:  Canda Nabi dan Canda Sufi

Kebetulan malam itu Pak Mursyid mendapat giliran untuk berjaga di pos ronda lingkungan kampungnya, tak lupa sebelum berangkat untuk menghubungi Pak Komar yang  menjadi teman rondanya melalui pesan singkat WhatssApp.

“Mar, aku nutup portal dulu nanti kamu langsung aja ke pos duluan” pesan Pak Mursyid untuk Pak Komar.

Beberapa saat berlalu Pak Mursyid kembali melihat handphone-nya dan sudah menunjukkan pukul 21.30, namun belum ada balasan dari Pak Komar. Dan ternyata hasilnya masih nihil, bahkan pesan itu belum dibaca.

Sesampainya di pos ronda Pak Mursyid kembali menghubungi Pak Komar.

“Mar saya sudah di pos, cepet ke sini”, tercatat pesan ini terkirim pukul 21.45.

Tepat satu menit kemudian handphone Pak Mursyid berdering menandakan ada pesan masuk, dan tertulis nama Pak Komar. Dibukanya pesan tersebut yang hanya bertuliskan tiga huruf “otw”, tanpa menyertakan alasan keterlambatannya. Yah terlambat, karena ronda seharusnya dimulai pukul 21.30.

Jarak rumah Pak Komar dan pos ronda sebenarnya dapat ditempuh 10 menit dengan berjalan kaki. Dirasa cukup lama dan telah melewati waktu semestinya, Pak Mursyid kembali terhenyak oleh pikirannnya.

Pak Mursyid yang larut dalam pikirannya teringat bahwa ketika dia menyampaikan pesan kepada sejawatnya dalam suatu pertemuan beliau sering mengirim pesan jika sedang dalam perjalanan. Sedangkan sejatinya belum berangkat menuju lokasi, bahkan tak jarang belum melakukan persiapan sama sekali. Hal ini beliau lakukan dalam keadaan sadar bahwa telah melakukan kebohongan, dan beliau santai-santai saja.

Tidak mau untuk berburuk sangka, apakah Pak Komar sedang melakukan kebiasaannya ketika memiliki janji pertemuan dengan seseorang, Pak Mursyid kemudian berspekulasi dengan hal-hal baik yang memungkinkan menjadi alasan terlambatnya Pak Komar. Lebih jauh lagi menyelami pikirannya, beliau beranggapan bahwa ini adalah balasan dari kebiasaannya selama ini ketika memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang. Seketika itu juga beliau teringat surah Az-Zalzalah ayat 7 dan 8:

Baca Juga:  Kisah Uwais al-Qarni: Ajaran untuk Memuliakan Ibu dan Menghormati Sesama

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.

Dua ayat ini terus terngiang-ngiang dalam pikiran Pak Mursyid. Di sini beliau berusaha untuk mengedepankan asa husnudhan ketimbang su’udhan bukan Islam mengajarkan itu, lantas kenapa masih saja pikiran-pikiran buruk masih hilir mudik di kepala Pak Mursyid meskipun beliau berusahan untuk menghindarinya, apakah ini berkaitan juga dengan kualitas Iman.

“Ah sudahlah”, pikir beliau, yang terpenting saat ini beliau sedang dan telah melaksanakan kewajibannya kepada warga-warga lain di lingkungannya yang tengah beristirahat dengan memberikan sedikit rasa aman melalui jaga ronda sebagai bentuk hablum minannas.

Tepat pukul 22.10 Pak Komar sampai pos ronda, sebelum Pak Mursyid menanyakan alasan keterlambatannya Pak Komar langsung bersuara.

“Sorry Pak terlambat, tadi saya di panggil Pak RW buat lapor keamanan beberapa minggu kebelakang, maklumlah Pak masih musim COVID-19 jadi Pak RW sering minta laporan”. Ungkap Pak Komar sebagai alasan ketelambatannya.

“Oh iya Pak, engga apa kok.” Jawab Pak Mursyid. Saat itu beliau bari ingat jika Pak Komar adalah salah satu hansip/keamanan di lingkungannya.

“Ya sudah Pak, ayo ngopi-mgopi dulu, ini saya sudah bawa bungkusan dari rumah”, lanjut Pak Mursyid.

“Oke siap Pak”, jawab Pak Komar yang langsung mengambil bagiannya.

23 Shares:
You May Also Like