ANTARA ISA AS DAN MUHAMMAD SAW

Suatu kali Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah menggambarkan kepribadian dan gaya hidup Nabi Isa, sebagai berikut:

“Beliau tidur berbantalkan batu, berpakaian terbuat dari kain kasar, makan makanan tak dimasak berbumbu rasa laparnya. Bulan, lampunya di malam hari. Tempat berteduhnya di musim dingin hanyalah hamparan bumi dari timur sampai barat. Makanan dan bebijiannya adalah apa yang ditumbuhkan tanah untuk hewan ternak. Tak punya istri yang mengujinya, tak pula anak yang mendukakannya. Tiada kekayaan yang mengacaukan (perhatiannya) atau keserakahan yang menghinakannya. Kedua kakinya adalah kendaraannya & kedua tangannya adalah pembantunya.”

Melihat pengungkapan Sayidina Ali bin Abi Thalib—maula-pencintanya Nabi Muhammad saw—tentang Nabi Isa as. yang saya terjemahkan di atas, saya tak bisa lain kecuali berpikir bahwa setiap Nabi punya kepribadian dan misi khusus berbeda/unik sesuai dengan konteks tempat/waktu yang di dalamnya dia diutus. Ada Nabi Isa as, yang pasifis (menghindari konflik) dan membujang, serta disebut bebas dari ujian berkeluarga. Ada Nabi Muhammad—yang meski ‘tak pelak sama penuh cinta dan belas kasih—yang dilibat konflik bahkan peperangan serta memiliki beberapa istri dan anak, yang—seperti direkam Al-Qur’an (dan Hadis)—memang ‘tak jarang “merepotkannya”. (Saya di sini tak sedang bicara tentang orang per orang keluarga Nabi, tapi tentang situasi berkeluarga Nabi yang memang ‘tak jarang terkesan profan dan menyulitkan).

Ada juga Nabi Musa as. yang berkepribadian lebih “keras”, yang terlibat langsung dengan konflik dan perlawanan nyaris sepanjang hidupnya.  Maka saya jadi ingat Ali Syariati dengan sosiologi Islamnya. Dia menempatkan para Nabi itu dalam konteks misi khusus mereka terkait tempat dan waktunya masing-masing. Saya kira, penjelasan tentang soal ini akan menjadi lebih lengkap jika kita masukkan perspektif tasawuf. Yakni bahwa setiap Nabi merupakan penjelmaan ism (nama-nama) tertentu Allah Swt. Nabi Isa as adalah penjelmaan ism jamaliyah (keindahan cinta) atau fadhl (kedermawanan), sedangkan Nabi Musa as adalah penjelmaan sifat jalaliyah (ke-“kaku”-an hukum/nomos) atau ‘adl (keadilan).

Baca Juga:  Asupan Cinta

Lalu, bagaimana dengan Nabi Muhammad saw? Beliau adalah kombinasi keduanya, yakni antara jamaliyah dan jalaliyah, antara fadhl dan ‘adl, antara rahmah dan syariah, tetap dalam batas-batas dominasi jamaliyah atas jalaliyah. Ini juga barangkali esensi keberakhiran kenabian pada diri Muhammad saw. Muslim pengikut Muhammad saw. haruslah juga menjadi Muslim pengikut Nabi Isa as, Nabi Musa as, dan nabi-nabi lainnya.

قولوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 136)

WalLaahu a’lam

0 Shares:
You May Also Like