Ketika Tuhan Menurunkan Martabat-Nya

Tulisan ini hanyalah upaya untuk belajar tentang materi yang sangat sulit dalam tasawuf, yaitu martabat wujud. Bagi saya menulis adalah sarana untuk belajar, karena harus membaca literatur dan berdiskusi dengan para ahli yang berkaitan dengan materi tulisan. Pasti banyak kekurangan dan kekeliruan dalam upaya ini, mohon koreksi dari para pembaca.

Ada yang mempertanyakan bagaimana mungkin manusia yang demikian rendah dan terbatas dapat mengenal Tuhan yang demikian tinggi dan Maha Tak Terbatas ?

Demikian tak terbatasnya Keagungan, Kesucian, Keindahan, Kebesaran, Kesempurnaan, Kekuasaan, dan segala sifat Tuhan Yang Maha Tak Terbatas, memang tidak akan mungkin manusia yang martabatnya rendah ini bisa mengenal-Nya dan berinteraksi dengan-Nya menggunakan bahasa Tuhan.

Tuhan memang rindu untuk dikenal oleh manusia, karena itu Tuhan menciptakan manusia. Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku rindu untuk dikenal, maka Kuciptakan makhluk (alam semesta dan manusia), melalui cerminan-Ku itu mereka mengenal-Ku.”

Namun untuk mengenal Tuhan, manusia tidak mungkin memakai bahasa Tuhan, karena itu Tuhan menurunkan martabatnya agar bahasa-Nya dapat dipahami oleh manusia. Analoginya seperti seorang anak, yang belum memahami bahasa orang dewasa, sehingga kalau berbicara dengan anak harus menggunakan bahasa dan simbol anak juga, tidak menggunakan bahasa  yang abstrak.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan setelah Tuhan menurunkan martabat-Nya bertingkat tingkat. Martabat tertinggi yang tidak mungkin dijangkau oleh manusia, bahkan tidak terdefinisikan dengan apapun juga adalah Zat-Nya (yang paling gaib di antara yang gaib). Pada martabat ini Tuhan tidak bisa disebut, bahkan tidak punya nama.

Lalu, dari martabat Zat, Tuhan menurunkan martabat-Nya ke martabat ahadiyah. Baru di martabat inilah Tuhan  bisa disebut dengan sebutan “Allah”. Kemudian Tuhan menurunkan lagi martabat-Nya ke martabat wahidiyah. Martabat ini merupakan martabat sifat dan nama Tuhan yang merupakan manifestasi dari kerinduan Tuhan untuk dikenal. Dari sifat dan nama Tuhan itulah turun perbuatan Tuhan yang dikenal oleh manusia, yang disebut sebagai cermin Tuhan. Cermin Tuhan ada 3, yaitu alam semesta (segala ciptaan selain manusia), manusia, dan Al-Qur’an.

Baca Juga:  Kopi dan Tiket Masuk Surga

Jadi, manusia bisa mengenal Tuhan melalui alam semesta (makrokosmos), melalui dirinya sendiri (mikrokosmos), dan melalui Al-Qur’an. Namun di antara unsur-unsur tersebut tak ada yang dapat mencerminkan-Nya secara sempurna, bahkan sekelumit pun tidak. Dalam  surah Asy-Syura ayat 11 disebutkan “Laisa kamitslihi syaiun” (Tak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya).

Ketiga unsur tersebut sebenarnya sudah mempunyai cetak biru (blue print) di alam yang lebih tinggi di sisi Tuhan. Namun, manusia yang awam seperti kita, tidak dapat mengenal dan memahami tingkat tersebut, sehingga harus diturunkan ke martabat yang lebih rendah agar dapat dikenal.

Hanya manusia pilihan seperti Nabi Muhammad, para nabi dan para wali, yang sudah terbuka hijab cermin Tuhan, sehingga ruhnya dapat naik martabatnya dan mengenal Tuhannya melalui martabat yang lebih tinggi, yaitu martabat nama-Nya, sifat-Nya, bahkan fana dalam martabat zat-Nya.

Alam semesta (baik yang nyata maupun yang gaib) merupakan cermin ketakterbatasan Tuhan Yang Maha Dahsyat. Semakin lama semakin tampak ketidakterbatasan-Nya dengan temuan di bidang ilmu pengetahuan alam, yang dahulu belum diketahui, sekarang mulai terbuka. Dalam surah Al Anbiya ayat 30 disebutkan:

“Maka, tidakkah orang yang mengingkari kebenaran itu memperhatikan bahwa langit dan bumi (pernah menjadi) satu kesatuan tunggal, yang kemudian Kami pisah-ceraikan”.

Kesatuan yang tunggal menunjukkan rencana tunggal yang mendasari semua ciptaan serta menunjukkan ketunggalan Sang  Maha Pencipta.

Manusia juga merupakan cermin Tuhan. Dalam hadis qudsi disebutkan: “barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya”

Manusia terdiri dari unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik maupun batin dalam tubuh manusia sangatlah kompleks. Demikian kompleksnya manusia, sehingga sering disebut sebagai alam semesta kecil (mikrokosmos). Ada sistem saraf, ada kardiovaskular, ada saluran cerna, saluran kemih, muskuloskeletal, reproduksi, darah, hormon, enzim, sistem imun, dll.

Baca Juga:  Tasawuf itu Penting Karena di Situlah Pandangan Dunia Islam Dijaga dengan Serius Selama Berabad-abad

Demikian pula ada unsur batin manusia yaitu ruh, akal, qalb, nafs. Ruh ini berbeda dengan unsur fisik maupun unsur batin manusia, karena berasal dari Tuhan secara langsung. “Dan telah Kutiupkan ke dalam jasadnya ruh-Ku” (QS. 15:29).

Begitu ruh berada dalam keselarasan, maka manusia akan mencapai kesempurnaan, keindahan, kebenaran, kedamaian dan ketenangan. Inilah tujuan dari semua perjalanan dalam kehidupan manusia untuk mengenal Tuhannya.

Berbeda dengan malaikat, manusia diberikan kebebasan untuk memilih, mengenal Tuhannya lewat ruhnya atau memilih kecenderungan jasadnya. “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS. 90:10).

Al-Qur’an juga merupakan cermin Tuhan, yaitu hakikat makna Al-Qur’an yang utuh, bukan hanya teksnya, juga bukan penafsirannya. Kebenaran spiritual yang terkandung dalam Al-Qur’an berlapis lapis dan sangat mendalam, meliputi masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Al-Qur’an merupakan ‘kalam Allah’  yang ditujukan kepada manusia melalui Nabi Muhammad, dan sudah diturunkan martabatnya sehingga dapat dipahami manusia—betapa beruntungnya manusia sebagai makhluk yang rendah dan terbatas ini, diberikan karunia yang demikian besarnya untuk dapat membaca ‘kalam Allah’ yang demikian tinggi dan tak terbatas.

Meskipun sudah diturunkan martabatnya supaya dapat dipahami manusia, kalam Allah ini masih merupakan sesuatu yang berat. Dalam surah Al-Muzammil ayat 5 disebutkan: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”.

Surah ini menekankan kepada Nabi Muhammad akan tugasnya yang berat sebagai utusan Allah dan selanjutnya akan menerima ‘kalam Allah’ yang berat. Kalam Allah ini sedemikian beratnya sehingga dalam surah Al-Hasyr 21 Allah berfirman: “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pastilah kamu akan mendapati gunung tersebut terpecah belah disebabkan takut kepada Allah”.

Kalimat Allah menurunkan (unzila) Al-Qur’an dalam konteks seperti menurukan hujan sebagai rahmat. Al-Qur’an bila menyebutkan hujan dalam konteks memberikan rahmat (bukan bencana), menggunakan kata “unzila” (baca QS. Al-Anfal ayat 11 dan QS. Al-Syura ayat 28).

Baca Juga:  Telaah Sosiologis Rasionalisme di Awal Islam (3): Rasionalisme yang Islam Tawarkan

Namun, ketika menyebutkan hujan sebagai penyebab bencana (baca QS. Hud ayat 44, dan QS. Al-Ahqaf ayat 24) Al-Qur’an tidak pernah menggunakan kata “unzila”.

Kata unzila (menurunkan) di sini juga bisa berarti Allah memberikan karunia yang tiada taranya kepada manusia dengan menurunkan martabat ‘kalam Allah’ yang demikian tinggi, tak terbatas, dan mulia di ‘Lauhul Mahfud’ sedemikian rupa sehingga bisa dibaca dan dipahami oleh manusia yang rendah dan terbatas di alam dunia.

Hakikat Al-Qur’an sudah dituliskan secara utuh di ‘Lauhul Mahfud’ sebelum alam semesta diciptakan. Lalu, hakikat Al-Qur’an tersebut diturunkan martabatnya secara bertingkat tingkat, agar bisa dipahami manusia, menggunakan bahasa yang perbendaharaan katanya paling kaya di dunia (yaitu bahasa Arab), melalui wahyu kepada Nabi Muhammad secara bertahap selama 23 tahun.

0 Shares:
You May Also Like