Maqām ‘Abd : Puncak Keislaman Insan

Oleh: Ammar Fauzi, Ph.D.

Dosen Tasawuf dan Filsafat Islam

Ciri dasar manusia di hadapan Allah adalah statusnya sebagai hamba. Dalam surat al-Isra’ ayat pertama Allah memanggil dan memperkenalkan Nabi Muhammad saw. —ketika isrā’ dan mi’rāj— dengan sebutan ‘abd (hamba, sahaya, budak). Kata ‘abd berasal dari kata ‘abada ya‘budu mengandung arti menyembah, mengabdi, dan menghinakan diri kepada Allah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata hamba diartikan budak dan biasanya dilawankan dengan tuan.

Tuan hanya akan disebut sebagai tuan apabila dia memiliki kewenangan yang bisa menentukan nasib di sekelilingnya. Ketika kita menyerahkan hidup ini sepenuhnya untuk ditentukan nasib ke depan kepada orang lain, maka orang tersebut telah menyandang tuan bagi diri kita, sebaliknya kita menjadi budak di hadapannya. Atas dasar itu bisa dipahami perbedaan antara tuan dan budak itu terletak pada kehendak.

Ketika Allah swt. mendefinisikan Nabi Muhammad saw. sebagai budak untuk diri-Nya, maka sebenarnya Nabi ialah makluk yang tidak memiliki kehendak. Seluruh pilihan dan keputusannya itu diserahkan kepada Allah secara total tanpa sedikit pun. Dia menyerahkan kehendaknya untuk ditentukan oleh-Nya. Di sinilah arti Islam. Islam bukan semata menyatakan bersaksi — bersyahadat— tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya, kemudian mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melakukan ibadah haji. Tapi muslim sejati itu ialah adanya komitmen bahwa keinginan dan kehendaknya diserahkan secara totalitas kepada Allah swt.

Dalam satu ayat disebutkan. “Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu dalam keadaan damai (Islam) secara menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia (setan itu) musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: 208)

Baca Juga:  Dari Pikir ke Kafir : Kekeliruan dalam Futuhat

Makna yang bisa kita ambil ialah penyerahan diri secara total, dan tidak ada sisa sedikit pun dari keinginan dan kehendak kita yang berbeda dengan keinginan dan kehendak Allah. Hamba yang sempurna ialah hamba yang tidak memiliki sedikit pun kehendak. Sebelum ia berkehendak, akan bertanya terlebih dahulu apakah keputusan dan kehendak ini sesuai dengan Allah atau tidak?

Karena itu dalam tasawuf  mengajarkan bahwa manusia yang sempurna ialah ia yang berada pada titik non (faqr al-wujudi/ kefakiran ontologis). Maksudnya ia tidak mengklaim bahwa dirinya ada. Dan menyadari keberadaannya itu ialah mutlak milik Allah swt.

Keberadaan kita karena keberadaan-Nya. Kebesaran kita karena kebesaran-Nya. Kemulyaan kita karena kemuliaan-Nya. Kekayaan kita karena kekayaan-Nya. Tanpa ada keberadaan-Nya keberadaan kita tidak ada apa-apanya. Maka dari itu janganlah sombong, angkuh, merasa menjadi penguasa atas segalanya, karena keberadaan kita tidak ada apa-apanya tanpa keberadan-Nya. Allah berfirman “Dan janganlah engkau memalingkan pipimu (wajahmu) dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.” (QS. Luqman 31:18)

Ketika Nabi Muhammad saw. telah sampai pada maqām hamba, saat itu juga Allah menganugerahinya untuk menjalani perjalanan yang maha dasyat yaitu isrā’ dan mi’rāj. Dalam peristiwa tersebut menunjukan betapa tinggi maqām nabi, sampai ia telah mendapati kesatuan spiritual yang hampir tidak memiliki jarak dengan-Nya. Al-Quran melukiskan “Sejarak dua busur panah  atau lebih dekat dari itu.”(QS. An-Najm 53: 9).

Maka dari itu, mari bersama-sama untuk memaksimalkan posisi kita sebagai hamba sejati dengan cara menghilangkan nafsu amarah dan ego kita, kemudian dipasrahkan betul-betul agar menjadi muslim sepenuhnya yaitu memasrahkan segenap pikiran, keputusan, pertimbangan, dan kehendak kita agar sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya.

Baca Juga:  Kasih-sayang, Bukan Laknat

Sumber tulisan transkrip dari kanal YouTube Nuralwala

(Nuralwala/DA)

0 Shares:
You May Also Like