Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Ibn Khaldūn dan Tasawuf: Antara Apresiasi Asketik dan Kritik Sosial-Politik

Kasih-sayang, Bukan Laknat

Oleh: Azam Bahtiar

Direktur Nuralwala Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

عن أبي هريرة قال: قيل يارسول الله ادع على المشركين، قال: إني لم أبعث لعانا، وإنما بعثت رحمة

"Dari Abu Hurairah, ia berkata: 'Dikatakan (kepada Rasulullah), 'Wahai Rasulullah, doakan keburukan menimpa orang-orang musyrik'.

Beliau menjawab, 'Sesungguhnya aku tidak diutus untuk melaknat, tetapi aku diutus hanyalah dengan membawa rahmat'."

Hadis Riwayat  Imam Muslim (w. 261 H) dari Abu Hurairah (no. 2599)

Pribadi yang dikuasai oleh cinta Ilahi, mungkinkah melaknat dan mendoakan keburukan bagi orang-orang yang tersesat?

Nabi Muhammad Saw tetap tegar meski dihina, dicampakkan, diembargo, diusir dari kampung halaman, dan seabrek perlakuan buruk lainnya, tak lain karena Nabi cinta dan mengharapkan kebaikan bagi umat manusia. Munculnya doa-doa tertentu seperti qunut nazilah  dan semisalnya, harus kita pahami secara kontekstual dan di bawah visi besar Islam tentang pengutusan Nabi sebagai cinta-kasih bagi semesta. Inilah akhlak Nabi Muhammad Saw.

Sumber: Buku 40 Hadis Cinta untuk Milenial (h. 37-38)

(Nuralwala/DA)

Baca Juga:  Pentingnya Bermusyawarah (2): Meredam Terorisme
Previous Article

Maqām ‘Abd : Puncak Keislaman Insan

Next Article

Dari Tasawuf Teoritis Menjadi Tasawuf Praktis: Sebuah Refleksi Daras Buku Dari Allah Menuju Allah

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *