ASPEK ROHANI RASULULLAH SAW DALAM BACAAN MAULID SIMTHUD DURAR KARYA HABIB ALI BIN MUHAMMAD AL-HABSYI (Bagian 1)

Catatan pembuka penulis tulisan sederhana ini sama sekali tak berpretensi telah memahami kandungan makna Simthud Durar. Bahkan, dalam upaya memahami sepercik bagian dari karya agung ini, penulis tak merasa telah mampu atau benar dalam pemahamannya. Upaya ini penulis lakukan sekadar sebagai urun rembuk berdasar sekelumit pengetahuan yang penulis ketahui, sekaligus sebagai pancingan bagi yang lebih ahli untuk melakukannya dengan lebih baik. Sesuai judulnya, tulisan ini pun hanya akan membahas bagian-bagian tertentu—khususnya bagian-bagian awal bacaan maulud ini—yang membahas aspek rohani Rasulullah saw, ditutup dengan apa yang penulis anggap sebagai konsekuensi dari pemahaman dan cinta kita kepada Rasulullah saw. Yakni, kewajiban meneladani akhlak utama Manusia Utama ini dalam kehidupan kita.

Simthud Durar berarti Untaian Biji-biji Mutiara, yang bersambung satu sama lainnya. Maknanya, bahwa Nabi saw adalah tajalliy (pengejawantahan, manifestasi, penzahiran)—atau tanazzul (penurunan), atau faydh, (jamaknya fuyudh atau fuyudhaat, sebuah istilah yang juga dipakai dalam Simthud Durar)—dari Dzat Allah, dalam bentuk Nur Muhammad. Pada gilirannya, Nur Muhammad ini menampak (baraza, dari a’yan tsabitah,* hingga ke alam ciptaan (mencakup alam jabarut /rohani, alam barzakh /antara, dan alam dunia), melalui sulbi-sulbi yang suci. Yakni, sejak Adam sampai Abdullah bin Abdul Muththalib, ayahanda Nabi. Mungkin, ungkapan Simthud Durar ini dicuplik dari atsar Abdul Muththalib, yang menyebut bahwa semua leluhur Nabi adalah orang-orang suci.

Nabi Muhammad—dalam bentuk Nur Muhammad  saw—sebagai tajalliy-nya Allah Swt sejak awal telah disebut dalam Simthud Durar.

“Allah Mahabenar ber-tajalli. Dalam alam kudus-Nya yang amat luas. Menetapkan penyebaran anugerah-Nya. Pada yang dekat dan jauh tak terkecuali. Maka hanya bagi-Nya segala puji. Tiada terhingga bilangannya. Tiada menjemukan pengulangan sebutannya. Betapapun sering diulang-ulang. Atas perkenan-Nya menampakkan di alam kenyataan. Perwujudan semulia-mulia insan. Agar seluruh makhluk beroleh kemuliaan.” 

Ber-tajalli, bermanifetasi, atau mengejawantah, maknanya adalah pengungkapan diri Allah Swt (yang paling batin kepada yang lebih nyata/zhahir (meski pun kalau itu masih bersifat batin juga—hanya dalam tingkatan yang kurang batin dibanding sebelumnya) dalam bentuk Nur Muhammad atau haqiqah Muhammadiyyah.

Artinya, Nabi Muhammad adalah bagian (pengungkapan) dari Allah. Syaikh Abubakr bin Salim dalam Mi’rajul Arwah menyebut haqiqah Muhammadiyyah ini sebagai haqiqatul haqaiq, ismul a’zham , bahkan hadhrah Ahadiyah. Yakni ta’ayun (pembatasan) awal dari Dzat Allah yang “sebelumnya” sepenuhnya Mutlak dan Gaib. Yang Gaib dari segala yang gaib (ghaybul ghuyub). Dengan demikian, Nabi Muhammad, yang masih dalam bentuk Nur Muhammad itu, memang adalah ciptaan atau tajalli Allah yang pertama. Dengan demikian, dia saw adalah juga ciptaan yang paling dekat dengan Dzat Allah. Dalam Al-Qur’an, Nabi oleh Allah disebut sebagai “perumpamaan”-Nya:

Baca Juga:  Al-Qur’an sebagai Sumber Pengetahuan (Bagian 3)

 

ليس كمثله شيء

Tak ada sesuatu pun yang yang seperti apa yang merupakan perumpamaan (mitsl)-Nya.” (QS asy-Syura: 11)

Disebutkan dalam Simthud Durar:

“Sebagai mana diriwayatkan Abdurrazzaq. Dengan sanadnya yang sampai pada Jabir bin Abdullah Al-Anshari, semoga Allah meridai keduanya. Bahwasanya ia pernah bertanya, “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah. Beri tahukanlah kepadaku tentang sesuatu. Yang diciptakan Allah sebelum segalanya yang lain. Jawab beliau, “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah, Telah menciptakan nur nabimu, Muhammad, dari nur-Nya. Sebelum sesuatu yang lain.

Dan telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW telah bersabda, “Aku adalah yang pertama di antara para nabi dalam penciptaan. Namun yang terakhir dalam kerasulan…” (Bersambung).

——–

*) A’yan tsabitah (esensi-esensi permanen) adalah semacam cikal bakal di alam rohani dari semua ciptaan yang ada di Alam Ciptaan. Katakanlah, a’yan tsabitah adalah model rohani dari semua ciptaan. A’yan tsabitah ini, pada gilirannya merupakan turunan lebih terinci dari Nur Muhammad—melalui martabat atau hadhrah kemajemukan Allah Swt yang disebut Wahidiyyah. Jadi, jika diurut ke atas, seluruh model penciptaan sesungguhnya sudah terkandung dalam Nur Muhammad. Dengan kata lain, Nur Muhammad merupakan cikal bakal semua penciptaan. Seperti diungkapkan dalam sebuah hadis qudsi:

لو لاك ما خلقت الافلاك

“Kalau bukan karenamu, wahai Muhammad, tak Kuciptakan alam ciptaan.”

0 Shares:
You May Also Like