MAULID NABI: KELAHIRAN SANG CAHAYA

Dunia sepenuhnya tenggelam dalam cahaya

Pada malam kelahiran Muhammad”

(Yunus Emre).

مَنْ لَمْ يَفْرَحْ بِمُحَمَّدٍ لَمْ يَرَ فَرَحاً اَبَداً

“Siapa yang tak bergembira dengan kelahiran Muhammad, dia tak akan pernah melihat kegembiraan selamanya”.

12 Rabi’i al-Awal, dicatat oleh kaum muslimin di seluruh dunia sebagai salah satu dari sekian hari besar dalam Islam. Dunia muslim menyebutnya sebagai Maulid, Maulud, Milad, Mevlut dan sebutan lainnya. Semuanya bermakna sama: Hari Kelahiran. Tetapi, kata ini selalu dihubungkan dengan kelahiran Nabi besar Muhammad Saw. Kaum muslim di seluruh dunia memperingatinya dengan gegap-gempita dan dengan penuh suka cita. Ini semata-mata merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas kelahiran manusia terbesar dan paripurna sepanjang sejarah dunia ini.

Para sejarawan mencatat: Muhammad putra pasangan suami-istri: Abdullah dan Aminah, lahir Senin, 12 Rabi’ al awwal, atau 20 April 571 M. Kelahiran orang besar ini dibidani oleh Al-Syifa, ibunda Abd al Rahman bin ‘Auf. Ayahnya; Abd Allah bin Abd al-Muthallib, tidak hadir pada saat yang paling membahagiakan itu. Ia telah wafat di Madinah, dalam usia yang masih sangat muda, sekitar kurang dari 25 tahun. Kematian Abd Allah, terjadi ketika janin Muhammad berusia 2 bulan dalam kandungan ibunya.

Abd al-Rahman bin ‘Awf mengutip cerita ibunya al-Syifa: “Aku adalah seorang yang membidani kelahiran Muhammad. Ibunya, Aminah binti Wahb pada suatu malam mengeluh sakit perut hendak melahirkan. Lalu, akulah yang membantu kelahiran Muhammad. Ketika itu, aku mendengar sebuah suara dari alam lain yang mengatakan ‘Tuhan memberi berkah kepadamu’ dan ketika itu pula suasana di arah timur dan barat sangat terang benderang sehingga aku dapat menyaksikan beberapa istana Damaskus melalui cahaya tersebut”.

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA (BAGIAN 2)

Dan diceritakan bahwa Aminah berkata :

“Dalam suatu malam serombongan burung masuk ke rumahku, sangat banyak, sehingga seluruh ruangan rumahku terpenuhi olehnya. Burung tersebut berparuh zamrud dan bersayap merah delima”. (Sumber : Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam).

Sejarah juga mencatat bahwa Nabi dan Rasul terakhir ini lahir ke dunia berbarengan dengan rencana Abrahah, gubernur Yaman, keturunan Abyssinia, Etiopia, beserta pasukan gajahnya melakukan agresi militer ke Makkah guna memindahkan Ka’bah ke negaranya. Agresi militer itu pada akhirnya gagal total. Orang lalu mengenang kelahiran Nabi sebagai Tahun Gajah.

Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini dalam satu surah: “Al-Fil” (gajah) atau “Ashab al-Fil” (pasukan gajah).

Allah mengatakan :

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan rencana jahat mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)” (QS. Al-Fil,1-5).

Begitu Aminah melahirkan anaknya dengan selamat, ia minta orang lain menyampaikan kabar itu kepada kakeknya; Abd al-Muthallib. Sang kakek segera datang dengan wajah berbinar-binar. Ia mengambil bayi itu, lalu memberinya nama Muhammad, sebuah nama yang tidak banyak dipakai masyarakat Arabia saat itu. Ada yang mengatakan bahkan belum ada nama itu, sebelum putra Abdullah itu. Ketika ditanya mengapa nama itu yang dipilih, dan bukan nama nenek-moyangnya, sebagaimana kebiasaan masyarakat Arabia? Abd al-Muthallib, menjawab dengan cepat: “Aku ingin anak ini, kelak akan menjadi orang yang terpuji bagi makhluk Tuhan di langit dan di bumi”. Sang kakek segera membawanya menuju Kakbah lalu masuk ke dalamnya. Di situ ia berdiri menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas kelahiran cucunya yang tampan itu. Sesudah itu ia kembali menyerahkan kepada ibunya.

Baca Juga:  Menelisik Kembali Gagasan Said Nursi
1 Shares:
You May Also Like